“JKT48 can really be a cure to our depression and bring peace upon this world. The group is full of adorable kids with amazing talents performing great and meaningful songs.” – @jktdoodles, July 13. 

A Raindance in Quiet Downtown Jakarta 

Jakarta akan PSBB Total lagi. Hal yang menakutkan namun sangat diperlukan. Jujur saja, walaupun sudah WFH sejak Maret lalu dan hampir setiap hari hanya di rumah saja, pengumuman PSBB Rabu lalu itu tetap saja membuat saya terpicu kecemasan berlebih. Apakah ini artinya gaji akan dipotong lebih banyak? Kolapsnya sistem kesehatan kita? Di rumah ada orang tua yang sudah masuk umur rentan, apakah mereka akan baik-baik saja? Dan berbagai pikiran lain yang bisa meracuni kewarasan seseorang. 

Terlebih lagi, sebagai seorang fans JKT48, mau tidak mau terpikir, apakah show live streaming akhir pekan akan berakhir lagi? Melihat angka dan kondisi, memang tidak ada jalan lain. Saya tidak mau juga ada member yang terpapar dan sakit. Tapi JKT48, walaupun dalam keadaan yang bisa dibilang pincang tanpa theater rutin, tetaplah penutup minggu yang selalu saya nanti-nantikan kehadirannya. Kehadiran mereka yang hanya via layar itu bisa membuat saya lebih mudah melewati hari-hari yang repetitif, membosankan sekaligus melelahkan dan membuat stres. Sabtu jam 18:30 menjadi jadwal mingguan untuk berkumpul bersama teman-teman melalui zoom atau layanan video/audio call lainnya dan mengobrol sampai pagi walaupun theater sudah usai. Jujur saja, semenjak JKT48 mulai mengadakan live streaming theater lagi, karantina menjadi sedikit lebih mudah. Jadi, kehilangan ini ya akan sangat terasa. 

Tapi kemudian, hari ini saya sedang melihat-lihat playlist lama saja di spotify, dan ada lagu After Rain serta Bersama Kamu, Pelangi, dan Mentari di sana. Saya play dan akhirnya seharian ini saya memutar dua lagu itu terus. Ada sesuatu yang membebaskan ketika mendengar kedua lagu itu. Dua lagu yang menggambarkan kalau ada terang setelah gelap, ada mentari setelah hujan,  dan ada Shani setelah Ve. Tidak heran saya memasukkan lagu-lagu itu di playlist yang saya dengarkan tahun lalu ketika saya sedang stres banget di kerjaan. Mereka membuat keadaan sedikit lebih baik. Mereka membuat perjalanan commute saya dari rumah ke kantor menjadi lebih ringan. Bahkan kadang membuat perjalanan pulang saya dari kantor ke rumah juga lebih melegakan dengan menitikkan air mata yang membuat dada saya terasa lebih lowong. 

Jadi, mungkin kita, setidaknya saya, harus ingat bahwa JKT48 bukan hanya theater dan pertunjukan live streaming, tapi juga kumpulan lagu-lagu yang membumi, sehari-hari, dan tidak pretensius ketika berbicara tentang kebahagiaan, kesedihan, putus asa, dan berbagai macam cinta. JKT48 juga punya kumpulan lagu-lagu yang bisa membuat hari-hari kita lebih ringan. Dan mungkin lagu-lagu ini yang akan menemani saya di PSBB Total kedua nanti. 

Lalu pertanyaan muncul, kenapa ya kok lagu-lagu JKT48 ini bisa segitu berpengaruhnya? Akhirnya saya mencoba menganalisa sedikit lagu dan lirik-liriknya dengan contoh dua lagu yang saya sebutkan di atas, After Rain, dan Bersama Kamu, Pelangi, dan Mentari. 

MUSIK 

Tidak banyak sih sepertinya yang bisa saya tuliskan tentang musiknya karena saya juga tidak ada latar belakang penulis musik. Jadi saya akan berbicara tentang perasaan saja. Perasaan apa yang saya dapat dari mendengar musiknya. Pertama, kedua lagu ini membuat saya merasa dibantu dan dipeluk oleh tangan tidak terlihat. Musiknya memang upbeat, menuju ceria, namun ada melodi-melodi yang melankolis yang membuat saya merasa dimengerti kalau hidup ya ngga akan selalu happy-happy aja. Namun dua lagu ini tetap tahu kalau kita berhak mendapat kebahagiaan, jadi ya tetap saja ending lagunya tersana optimis. Yang hebat, saya ngga merasa digurui atau dipaksa untuk senang oleh perjalanan musiknya. Mungkin itu rahasianya, tidak adanya toxic positivity di sini. 

LIRIK 

Untuk lirik, saya coba membaginya kedalam 4 alasan besar yah. Ini yang saya rasakan ketika mendengar lagunya dan membaca liriknya. 

Tahu Kalau Keadaan Tidak Akan Selalu Baik-Baik Saja 

Hari yang buruk pasti akan terjadi. Dan itu hal yang wajar. Tidak ada manusia yang bisa setiap hari “menang” atau mengakhiri malam dengan senyum. Ketika After Rain dimulai dengan lirik, “Sampai berapa hari lagi kah / Hujan kan turun t’rus menerus / Aku harus pergi mencari / Arti hidupku ini”, ia memperlihatkan bahwa ya, hari bisa dimulai dengan tidak baik, dan itu bisa terjadi berhari-hari lamanya. Bukannya besok atau lusa akan dengan tiba-tiba hilang itu semua permasalahan dan insekuritas kita. 

Memulai lagu dengan mengeluh saya rasa menarik. Karena dengan begitu kita langsung relate. Pasti pernah kan kita terlontar kata-kata keluhan, “sampe kapan sih gini terus…”. Nah, After Rain mengerti itu. Apalagi ketika di tengah lagu, ia mengungkapkan ketidak percayaan dirinya dengan lirik, “Tidak bisa lagi / Cahaya diriku yang kian meredup / Mimpi yang sedang ku perjuangkan / Akankah dihargai?” ia menuliskan apa yang kita, atau paling tidak saya, rasakan sewaktu tidak bisa perform yang terbaik di kantor, di kehidupan, ataupun di percintaan. Menyerah, mempertanyakan diri sendiri, dan insecure dengan sekeliling. Keluhan sehari-hari kita ditangkap dengan baik oleh After Rain. 

Kenapa di sini tidak ada lagu Bersama Mentari? Apakah lagu itu tidak mengeluh? Bukan begitu. Lagu Bersama Mentari mengambil arah pandang dari seseorang yang melihat temannya sedang kesulitan. Tapi dengan potongan lirik seperti, “Saat kesulitan bagaikan derasnya hujan” atau “Lihatlah pelangi di langit setelah hujan” lagu ini juga mengerti kalau masalah pasti akan niscaya hadir. 

Sadar Bahwa Menangis Itu Bukan Tanda Kelemahan, Tapi Cara Diri Kita Melepaskan Kesedihan 

Hal yang paling saya suka dari kedua lagu ini, adalah caranya menormalisasi menangis sebagai hal yang wajar dan bisa memicu katarsis untuk orang yang sedang bersedih. Lirik seperti, “Menunduk ke bawah, tak mengapa kau menangis / Langit cerah ‘kan datang dari kejauhan” memberikan kita yang mendengarnya suatu ketenangan kalau ya, nangis itu adalah suatu kewajaran, suatu cara badan kita bereaksi karena kesedihan luar biasa. Tidak ada satu pun hal yang memalukan dari menangis. Diberikan ketenangan seperti itu adalah sesuatu yang melegakan, karena belum tentu kita mendapat dukungan seperti itu dari orang-orang terdekat kita. 

Menangis sebagai katarsis pun jelas terlihat di lirik, “Cinta pasti akan terlihat di kala kau ingin menangis.” Ketika sang narator ingin meyakinkan kita kalau setelah menangis pasti semua akan membaik, yang minimal, kita merasa lega sudah meluapkan apa yang kita rasakan, bukan memendamnya untuk meledak di kemudian hari. 

Di After Rain, kita melihatnya dalam sudut pandang orang pertama dengan lirik seperti, “Setelah diri ini menangis / Dibanding tadi ku bisa tersenyum lagi.” Dikombinasikan dengan musik yang seakan mengangkat kita dari dalam lubang kesedihan, lagu ini berhasil melepaskan beban yang kita pikul. Memang ajaib efek dari normalisasi menangis sebagai hal yang wajar dalam cara badan manusia bekerja. 

Mengerti Kalau Uluran Tangan Orang Lain Itu Adalah Obat Terbaik 

Kita sering membaca atau mendapat nasehat untuk meyakinkan diri kalau kita tidak sendirian. Ada teman-teman di sekitar yang bisa membantu kita, bisa menjadi tempat kita bersandar dan kita harus meminta tolong kepada mereka. Tapi kadang kita sendiri tidak bisa melakukan itu. Entah ada rasa malu, rasa segan, atau yang paling berbahaya, rasa tidak pantas untuk diselamatkan. Saat-saat seperti ini, kita butuh orang yang menghampiri kita, memberi tahu kita kalau kita tidak sendirian dengan perbuatan mereka, dengan kehadiran mereka. 

Ini kenapa lirik, “Saat kesulitan bagaikan derasnya hujan / Ku ‘kan datang dengan payung untuk berteduh” begitu kuat, begitu mengena. Ada yang mau datang kepada kita, memberikan kita payung untuk berteduh, memberikan kita tempat untuk bercerita dan berkeluh kesan, di saat kita sedang jatuh dan sedih. Ini semacam pengejawantahan dari konsep idol milih 48 grup sendiri. Menjadi penyemangat kita di tengah hari-hari yang rutin dan bisa memakan kesehatan mental. 

Sepotong lirik ini, dan semua lirik dalam lagu Berama Kamu, Pelangi, dan Mentari sejujurnya, juga dapat bekerja dalam dua arah. Kita merasa disemangati oleh para member, dan kebalikannya, kita bernyanyi untuk para idol, para oshi kita. Elemen dua sudut pandang inilah yang juga membuat lagu ini adalah salah satu repertoire terbaik milik 48 grup. Satu lagu yang juga mengingatkan saya kepada lagu ini adalah lagu Feel Special milik grup K-Pop, TWICE. Bertema tentang self healing mereka sebagai sebuah grup, lagu itu juga bisa diintepretasikan sebagai statement bahwa bagaimana fans mereka membuat mereka merasa spesial, sementara fans bisa menjadikan lagu itu sebagai alasan bagaimana TWICE telah membuat mereka merasa spesial. 

Bayangkan menyanyikan, dan melakukan, apa yang lirik ini, “Ku ingin melindungimu dalam dekapan tanganku / ‘Kan menjadi matahari dan menunggu pelangi senyumanmu / Ku ingin melindungimu, memeluk erat dirimu / Air mata yang menetes ‘kan bersinar dengan kilauan cahaya tujuh warna”, bicarakan untuk orang yang kita sayang. Dan kebalikannya, diberikan perhatian begitu besarnya oleh orang yang kita sayang. Lagu ini tidak membiarkan kita menjalani semuanya sendirian. Lagu ini meyakinkan kita kalau ada yang menunggu kita untuk menjadi lebih baik. Dan meyakinkan kita kalau air mata kita adalah jalan keluar, bukan halangan. 

Satu lagi, lagu ini juga menekankan kalau tidak ada yang lebih mulia dari sebuah aksi kebaikan seseorang untuk membantu orang lain. Kalimat ini, “Kebaikan bagaikan angin yang berhembus / Dan mengeringkan permukaan tanah / Dan di tiang basah setelah hujan” cukup menggambarkan bagaimana sebuah aksi kebaikan seseorang bisa membantu orang lain untuk menjadi lebih baik. 

Tidak Menyerah Begitu Saja, Tapi Tahu Kalau Kita Butuh Waktu Dan Proses Untuk Menjadi Baik-Baik Saja 

Semua pasti setuju kalau mentalitas tidak gampang menyerah itu diperlukan. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Tapi yang kadang terlupa adalah tidak semua orang bisa dengan mudah untuk berdiri setelah terjatuh. Entah karena kesehatan mentalnya, karena keadaan ekonominya, atau kesehatan fisiknya. Kita terkadang terlalu fokus kepada bangkit, namun lupa kalau jiwa juga harus beristirahat sebentar untuk mengisi kembali tenaga. Untunglah Aki-P tidak lupa. Ia menulis, “Menunggulah sebentar dari celah awan / Kesedihan ‘kan bersinar” di lagu Bersama Mentari bukan tanpa sebab. Ia tahu bahwa banyak yang sudah terlalu lelah, dan ingin istirahat sebentar sebelum kembali berjalan. Dengan waktu yang tepat untuk mengumpulkan kembali apapun yang diperlukan, entah itu kesehatan mental, kesehatan fisik, energi untuk bersosialisasi, atau apa pun, kita punya waktu untuk memproses semuanya. Apa yang salah, apa yang benar, bagaimana kedepannya. 

Bahkan di lagu After Rain, yang ditulis dengan sudut pandang orang pertama, ia tidak lupa untuk menyisipkan kalimat self-love yang penting. “Saat diriku sedang hancur / Aku kan menunggu angin yang berubah hingga s’dikit lagi” ditulis untuk mengingatkan diri sendiri bahwa tidak apa-apa berhenti sebentar menunggu keadaan eksternal yang tidak bisa kita kontrol membaik. Ada hal-hal yang bisa kita kontrol, dan ada yang tidak bisa kita kontrol. Angin yang berubah tentu tidak bisa kita kontrol. Berhenti sejenak, tarik napas, dan lihat keadaan untuk melanjutkan proses menjadi baik-baik saja. 

Namun menunggu angin berubah tidak berarti kita total stop tidak berfungsi. After Rain tetap mengingatkan kita untuk, “Disini ku tak kan menyerah / Lakukan yang bisa ku lakukan sekarang / Jikalau arah angin berubah / Hujan berhenti langit yang cerah”. Lakukan yang bisa kalian lakukan, tetap menunggu angin untuk berubah, dan ada saatnya nanti kita bisa baik-baik saja. 

Semua yang dituliskan di After Rain dan Bersama Kamu, Pelangi, dan Mentari seolah mengerti apa yang kita butuhkan untuk bangkit dari keterpurukan. Pengertian kalau kegagalan bukan berarti kita gagal sebagai manusia, memberikan tempat untuk menangis dan meluapkan perasaan kita alih-alih memendamnya, meyakinkan kita kalau kita tidak sendirian sekaligus membuat kita mengerti kalau memberikan support adalah sebuah aksi, bukan reaksi, dan terakhir, memberikan kita waktu untuk berhenti dan berbenah sebelum mulai lagi proses menuju diri yang baik-baik saja. Semua dalam waktu kurang dari 5 menit. Kalau itu bukan terapi? Apa namanya? 

Outro 

Entah untuk apa saya menulis ini. Mungkin ini bentuk terapi untuk saya sendiri. Mencoba memahami kenapa dua lagu ini bisa membantu saya melewati masa-masa yang berat. Semua yang saya tulis di atas saya percaya dengan sungguh-sungguh, dan semoga ada yang terbantu juga dengan tulisan ini. Mungkin ini bisa jadi bentuk pelukan virtual saya untuk teman-teman di luar sana yang juga terpicu kecemasannya dengan pengumuman PSBB part 2 dan terbantu dengan JKT48 dan spesifiknya lagu-lagu JKT48. Hei, kamu ngga sendirian. Saya di sini. 

Akhir kata, sehat-sehat yah semuanya. Semoga teman-teman bisa menghadapi tahun yang sangat berat ini dalam lingkaran yang suportif dan hangat. Untuk member, terima kasih yah, tanpa kalian entah lah apa yang sudah terjadi. Kalian semua berjasa. Sampai jumpa di theater tahun 2021 nanti. Atau lebih cepat. Semoga. 

p.s: Selamat ulang tahun theater JKT48. 
Share to everyone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here