Seorang tokoh cultural-studies ternama, Jean Baudrillard, menyebut istilah simulakra sebagai batas antara realitas dan fantasi. Dalam hal simulakra, perbedaan asli dan palsu sangatlah tipis bahkan cenderung melebur. Simulakra lantas menjelma suatu kebohongan berupa image yang dibangun berbeda dengan realitas aslinya.

Dunia idola rentan terhadap simulakra. Persona idola dan rekreasi media sosial menjadi suatu simulasi yang berbeda dengan realitas diri. Kenyataan dan halusinasi lantas tinggal menyisakan kejujuran.

Beby Chaesara Anadilla tidak dapat menyembunyikan perasaan haru bercampur deru saat ditunjuk sebagai kapten JKT48 dalam graduation ceremony Shania Junianatha, Sabtu (27/04/19), di Balai Sarbini, Jakarta.

Pertahanannya goyah, tetapi di satu sisi menguat karena tekad terpendamnya yang menyala. Kepercayaan dirinya meronta, namun tertahankan sebab kemauan yang didorong rasa cinta. Setelah terpilih sebagai kapten JKT48, Beby dan air matanya hanyalah simulakra. Kesedihan tercuci ambisi, optimisme terbentang seluas samudera, serta asa menyingkirkan duka dan lara.

“Buktinya, kami bisa jalani Reboost sampai sekarang dan bertahan, Teater masih banyak yang menonton, konser juga. Member tetap semangat, begitu juga dengan fans. Itu optimisnya aku,” kata Beby, usai ditunjuk sebagai kapten JKT48, dinukil dari Jawa Pos.

Beby sebenarnya bukan figur pemimpin. Dia hanya gadis pemikir yang suka salting. Tidak ada yang mengerti isi kepalanya sampai ia biarkan pecah sendiri. Akan tetapi, Beby mulai bijak berbicara dan terbuka terhadap tangga kedewasaan.

Pada pertunjukan sentaisai ke-21 tahun Beby, Rabu (20/03/19), tidak ada lagi air mata dan perasaan takut karena dusta. Beby semakin yakin menapaki dekade kedua dalam hidupnya yang kian tak terduga arah lajunya.

“Dari dulu itukan sudah pingin cepat-cepat dewasa tapi pas sudah menghadapi angka yang sebenarnya dewasa ini, itu takut karena pasti ekspektasi orang untuk kita itu makin tinggi, orang itu makin menanyain kamu mau ngapain sih hidup selanjutnya.”

“Tapi sebenarnya buat aku, mau di umur berapa pun, 21 mau nanti 30 tahun pun, sebenarnya masa depan nggak ada yang pasti. Kita nggak perlu tahu besok kita mau ngapain sebenarnya, karena setiap detik perasaan kita itu bisa berubah-ubah, bisa dibolak-balikkan oleh yang di atas (Tuhan).”

“Manusia pada dasarnya bisa beradaptasi, jadi apa pun yang kita terima pasti kita akan beradaptasi dan akan menjadi semakin baik ke depannya,” ungkap Beby dalam ucapan perayaan ulang tahunnya di show Saka Agari.

Setelah menjabat kapten JKT48, kecintaan Beby kian tumpah-ruah. Ia tidak segan membagi suka cita sebagai idola kepada para juniornya yang telah menembus delapan generasi. Beby kini telah menjadi pemimpin sekaligus idola seutuhnya. Masa depan JKT48 ada pada genggamannya.

Misi Menghadapi Fase Regenerasi

Sebelum dipegang Beby, jabatan kapten JKT48 pernah diemban Melody Nurramdhani Laksani dan Shania Junianatha. Dua alumni kapten tersebut memimpin di era yang berbeda. Melody ada pada masa perjuangan, sedangkan Shania ada di tahap perjalanan. Saat ini, Beby memasuki babak baru dalam fase regenerasi.

JKT48 Reboost mulai menghendaki transisi. Generasi satu menyisakan empat orang selepas Ayana Shahab mengumumkan lulus, sementara generasi dua belum lama bedol desa dan ditinggal Cindy Yuvia yang sedang tenar-tenarnya selepas juara sousenkyo atau Pemilu ala JKT48 2018 jika meminjam redaksi Jawa Pos. Generasi tiga buru-buru mempersiapkan Shani Indira Natio dan Shania Gracia untuk tampil di muka, sedangkan Michelle Christo dan Feni Fitriyanti tidak mau ketinggalan kereta. JKT48 Operation Team masih kikuk mempersiapkan ace baru. Di sisi lain, siswi akademi terus menumpuk dan meminta untuk segera debut.

Beby sudah pasti pusing tujuh keliling. Ia menanggung beban regenerasi yang terlambat digarap dua pendahulunya. Meski begitu, dara kelahiran Bandung tersebut ingin menjadikan generasi baru sebagai penggebrak JKT48. Reshuffle dan single original juga akan melengkapi bala ujian Beby selepas didapuk sebagai kapten JKT48.

“Aku jadi kapten pas sebelum keluar single original. Diharapkan bisa jadi gebrakan juga,” ujar Beby seperti dilansir dari Jawa Pos, Senin (29/04/19).

“Aku ingin lihat bagaimana masing-masing tim terlebih dahulu. Bagaimana adaptasi dengan tim baru. Harapannya, masing-masing tim bisa membangun image yang kuat.”

JKT48 terus sibuk promosi sana-sini. Produksi single perlahan dikesampingkan. Blusukan berbalut sirkus gencar digembar-gemborkan demi mengucurkan pendapatan segar sekaligus ajang sosialisasi member generasi baru kepada seluruh lapisan penggemar paling bawah.

Di sisi lain, perbaikan pelayanan secara beriringan jangan terlupakan sebagai janji dari JKT48 Reboost. Sebagai kepanjangan tangan manajemen dan general manajer teater, kapten mau tidak mau menjembatani aspirasi penggemar dan dilema anggotanya. Beby dipaksa masuk pusaran untuk terlibat memutar otak dan menyediakan corong garda terdepan.

Beby perlahan mulai mengesampingkan egoisme. Ia butuh menjadi pemimpin yang merangkul dan melindungi semua lini. Pat Williams dalam buku The Magic of Teamwork menjelaskan, pemimpin yang berkualitas mutlak dibutuhkan guna tercapainya tujuan. Pemimpin harus mempunyai misi, keterampilan komunikasi dan sosial, karakter yang baik dan kuat, kompetensi di bidangnya, dan merupakan sosok yang berani.

Seluruhnya mustahil dimiliki oleh Beby. Ia bakal terbentur ekspektasi. Simulakra sang idola pada akhirnya yang berbicara, berani melangkah atau sembunyi dalam gelisah.

wisuda beby
lulus sidang beby
Menanti Masa Depan The Dancing Queen

Rabu (03/07/19), Beby telah menyelesaikan sidang skripsi sebagai salah satu syarat untuk merengkuh gelar sarjana psikologi. Banjir ucapan selamat hadir bak hujan petir sebelum pelangi singgah di langit senja keemasan.

Beby sekali lagi naik satu anak tangga dalam senja kala masa mudanya. Lulus kuliah kerap berhubungan erat dengan graduate dari JKT48. Tidak bisa dimungkiri, alumni tim KIII yang belum lama bedol desa mengumumkan pergi selepas lulus dari bangku kuliah, seperti Devi Kinal Putri, Shinta Naomi, Lidya Maulida Djuhandar, dan Cindy Yuvia. Satu-satunya anggota JKT48 yang masih bertahan meski menyandang gelar sarjana adalah Rona Anggreani.

“Aku itu suka menari, nyanyi, aku suka banget tampil di depan orang, aku suka di panggung. Jadi ya, sebenarnya aku masih pingin menikmati ini (di JKT48). Memang aku itu orangnya susah move on, terlalu nyaman dengan zona nyaman,” ungkap Rona dalam ucapan perayaan ulang tahunnya yang berbarengan dengan Beby.

Sekali lagi, tidak ada yang tahu isi kepala Beby. Ia bisa saja mengejutkan sewaktu-waktu. Alih-alih menjadi yang terakhir di generasi satu setelah Sonia Natalia dan Gabriela Margareth Warouw, gadis kelahiran 18 Maret 1998 itu dapat graduate terlebih dahulu. Alasan menyusul Melody dan Kinal sebagai pengarah di balik layar kian menjadi masuk akal jika Beby ingin fokus mengarap cetak biru JKT48 di masa depan.

Apa yang masih dicari Beby di JKT48? Semua posisi pernah ia geluti, mulai dari center single ke-19 JKT48 berjudul UZA sampai dicampakkan tanpa pernah masuk ke senbatsu single ke-12, 13, dan 14 secara beruntun sepanjang tahun 2016.

Meskipun sang idola tengah berada pada perjalanan puncak kariernya di JKT48, Beby Oshi selaku basis penggemar Beby Chaesara Anadilla terus merapatkan barisan di usia yang telah genap menginjak delapan tahun. Dukungan terus mengalir bahkan kian masif di tengah fase datang dan pergi serta banyaknya generasi baru yang menarik hati.

“Ini aku nggak bicara nomor satu ya (untuk sousenkyo), karena menurut aku sangat mustahil. Bisa, ada kesempatan, tapi kalau untuk dari kekuatan fanbase sendiri dan teman-teman kayaknya agak susah. Jadi kalau misalnya upaya (meraih senbatsu) pertama berdoa, kedua usaha, ketiga adalah keberuntungan,” kata Lolita Maharani selaku pengurus Beby Oshi.

Tidak ada yang rela melepas seseorang yang ia cinta pergi ketika berada di masa sayang-sayangnya. Akan tetapi, puncak dari perasaan cinta adalah merelakan. Siapa yang enggan melihat Beby terbang dengan sayap kemilauan dan mengenangnya sebagai bagian dari masa lalu yang menemani sepanjang hari mudamu.

“Di JKT48 itu sendiri identik ya, ketika member habis kuliah pasti graduate. Menurut kalian gimana? Kalau aku pribadi, aku nggak bisa jawab.”

“Karena aku juga pingin melihat Beby di kehidupan dia yang sesungguhnya. Pingin dia berkarier lebih jauh dari yang sekarang, pingin meng-explore dunia yang di luar sana juga lebih banyak macamnya, nggak cuma di sini-sini saja. Siapa sih yang nggak pingin melihat orang yang disayang itu bisa lebih berkembang jauh?”

“Kalau aku pribadi, apa pun yang diambil sama Beby keputusannya pasti aku dukung, di mana pun itu,” tutup Lolita dengan nada sedikit gentar.

Sekarang, semua terserah Beby. Terserah dalam arti sampai sejauh mana ia mau membawa diri. Tidak harus malu bertahan untuk sesuatu yang kita cintai. Simulakra sang idola hanyalah akan menyesakkan apabila terus dipikirkan. Sudahi saja denial-mu itu, Beby.

source : Twitter, Instagram
Share to everyone
Serigala Panda. Eks jurnalis @indosportdotcom. Menyintas rindu di Twitter: @arunanta

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here