Beby

Izinkan aku mengenang bila tak sempat hadir berjumpa. Izinkan aku menulis saja ketika sudah tak bisa lagi mengobrol bersama. Atau, izinkan aku sejenak rindu saat satu per satu kenangan bersamamu berguguran layu ditelan waktu. Beby.

Butuh waktu bagiku untuk bisa merangkai lagi tulisan seperti ini. Aku harus membaca sepuluh sampai tiga puluh artikel. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa melukai jemariku, sehingga, aku bisa menyusun kata-kata penuh derita. Karena setelah ini kita akan merayakan perpisahan, yang aku sendiri tak tahu kapan harus pamitan.

Jujur, hari-hari ini aku sering terbawa mimpi. Padahal ya, aku sudah jarang memperhatikan pertunjukanmu. Ya paling hanya sesekali, itupun menumpang lihat dari temanku yang membeli.

Jadi begini, suatu hari, aku bermimpi bisa berbincang lagi bersamamu, Beby. Di sana ada banyak orang, mirip seperti handshake event. Kamu terlihat mengajakku berbicara. Tapi tiba-tiba, kamu mau pergi. Sembari mengingat-ingat ke mana waktu itu kamu pergi, aku juga lupa semua arah pembicaraan kita saat itu apa. Intinya, kenapa tiba-tiba bermimpi seperti ini?

Oh, ternyata. Besok paginya, aku melihat jadwal pertunjukan terakhir Beby. Aku kira masih akan lama. Tak kusangka di akhir minggu ini. 21 Februari 2021.

Lalu kamu mulai sering merasa sedih. Iya, kan? Di setiap unggahan terbarumu, kamu menyelipkan kata-kata bermakna perpisahan, kadang berbalut canda, yang sebenarnya hanya menutupi rasa gundah gulana. Ah, semua itu terbaca! Aku tahu kamu, dan caramu menyembunyikan kesedihan itu.

Mari sudahi lara jiwamu itu. Aku justru tidak akan membiarkanmu menutupi itu. Silakan banjiri lini masa kami dengan kisah kasih pilu tentang hari-hari terakhirmu sebagai seorang ratu. Masih tersisa hari ini dan besok, sampai nanti.

Akan tetapi, aku perlu mewanti-wanti. Setiap kesedihan yang kau tuang, akan berakibat tumpah kenangan yang tak pernah berujung pulang. Aku sih enggak masalah. Hari-hariku, sampai tiba kelulusanmu, malahan, sudah aku dedikasikan untuk patah hati. Aku enggak bakal jemawa sama pertahanan diri, yang kadang rapuhnya kayak hati pas diwaro Ci Shani. Xixixi.

Izinkan aku membuka satu per satu kenangan yang telah berlalu. Aku pertama kali tahu JKT48 itu waktu enggak sengaja lihat lagu ‘Yuuhi wo Miteiru ka?’ di YouTube, pas belum lama rilis tahun 2013. Cinta pertamaku, waktu itu, justru Yupi, bukan Beby. Namun, kenapa akhirnya bisa memilih Beby sebagai oshi, itu sangatlah absurd, banget! Hahaha. Ya Allah, malu.

Mungkin kalian pernah punya pengalaman pertama kali memilih oshi. Sakral banget enggak sih?! Oke. Singkat cerita, ada momen aku mau preorder kaus oshi. Pilihannya ada dua, kaus Yupi atau, ada namanya Beby. Secara desain, jujur bagusan kaus Beby, tapi aku lagi suka Yupi. Pas itu, jujur ya, aku enggak tahu Beby itu member JKT48 yang mana. Hahaha.

Walhasil, aku kepo cari tahu Beby ini siapa, yang mana. Dan, oh ternyata, dia itu ‘si kalau bicara kayak menggerutu alias rada malu-malu’, terus punya julukan DanceMachine, dan, yang paling membuat imanku terketuk (untuk punya oshi seagama), si gadis Sunda ini suka bikin konten #BebyKultum.

Jadi, alasanku memilih Beby sebagai oshi, sebenarnya, karena biar ada alasan saja beli kaus member JKT48. Hihihi. Kalau kebetulan saat itu ada desain kaus Melody yang lebih bagus di antara Yupi dan Beby, malahan bisa jadi aku menjelma bucinnya Melody. Hahaha.

Barangkali, cerita tentang hari pertama berjumpa memang sengaja tercipta untuk diungkapkan pada hari terakhir akan berpisah. Lalu, kamu akan berterima kasih untuk semua yang sebenarnya tidak pernah kami berikan. ‘Makasih sekian tahunnya’, ‘Makasih sudah jadi alasanku suka JKT48’, ‘Makasih sudah mempertemukan teman-teman di fandom ini’, dan ‘makasih sudah menginspirasi’ adalah bahasa-bahasaku yang tak kuat menahan haru dalam merayakan perpisahan. Ah, rasanya ketimbang menyendu seperti itu, aku lebih setuju mendengar basa-basi tentang masa depanmu atau hal-hal yang tak pernah aku tahu selama ini tentang dirimu.

Aku sudah kehabisan kutipan atau analogi agar tulisanku terlihat mendaki-daki. Kali ini aku hanya ingin berbagi, tentang cara seseorang bertahan di ruang antara takut kehilangan dan merelakan perpisahan.

Sebagai seorang penggemar, aku menghabiskan awal masa idoling sebagai fan far di Yogyakarta sekitar akhir tahun 2013. Waktu itu, belum kebayang tuh buat menyambangi salah satu mal di bilangan Senayan, Jakarta. Beby tetap jadi inspirasiku saat menimba ilmu, bahkan menjadi motivasiku bisa menembus kuliah di Universitas Gadjah Mada. Dan, alhamdulillah, aku enggak pernah salah berinvestasi hati. Rasanya, dulu itu, cuma sebatas hadir di konser atau direct sellinglho, enggak handshake, enggak dikenal, enggak disapa, boro-boro diwaro. Tapi ya, senang banget rasanya. Kebahagiaanku idoling pada tahun itu, ya cuma, sebatas itu.

Tapi, ada juga kok, masa di mana aku mulai merasa cukup bersama Beby. Kayak merasa ‘sepertinya sampe di sini aja deh kita berjuang bareng, Beb. Aku punya mimpi yang lain, aku bakal ngejalaninnya, tapi bukan sama kamu’. Enggak ding. Sebenarnya itu alasanku saja buat mlipir ke generasi 3, yang waktu itu wadidaw sekali pada tahun 2014.

Singkat cerita, aku ‘memilih berjuang bersama oshi lain’ alias oshihen pada semester kedua 2014. Member-nya siapa, rhs lach. Meskipun, ujung-ujungnya ganti oshi­ cuma bertahan setahun karena ditinggal resign dan akhirnya kembali ke cinta pertamaku di JKT48, yaitu Yupi, dan Beby, sebenarnya. Dan, fase ghosting antara oshi-in atau enggak oshi-in Beby pun berjalan sampai 2018 ketika aku lulus kuliah.

Aku memanggil kalian yang merasa ingin sekali diberi kesempatan kedua, karena pernah meninggalkan Beby atau mendua-tiga-empatkan dia dengan janji-janji suatu hari nanti bakal kembali. Jika memutar waktu terasa mustahil, izinkan untuk paling tidak meminta maaf atau menebus rasa bersalah.

Aku pernah mencoba merajut lagi hari-hari baik bersama Beby. Momen itu aku dapatkan saat menghadiri pertunjukan ulang tahun atau sentaisai Beby ke-20, Maret 2018. Ketika itu aku masih fan far, dan pengangguran, tapi masih sering bolak-balik ibu kota minimal satu semester sekali. Aku memutuskan datang ke sentaisai Beby dengan niat silaturahmi. Aku juga hendak membikin tulisan mendalam soal dua dasawarsa Beby Chaesara Anadilla. Artikelnya sudah tayang dan bisa kalian baca di MAMEN dengan judul ‘Beby JKT48: Perayaan Ulang Tahun, Bicara Kedewasaan, dan Air Mata’.

Aku belum pernah, sama sekali, melihat dengan mata kepada sendiri, Beby menangis. Di hari itu, si jago dance yang biasanya keren, tiba-tiba jadi cengeng. Beby masihlah dara remaja yang takut menghadapi usia kedewasaan, digadang-gadang akan menjadi panutan satu grup saja belum kepikiran. Momen itu aku rekam dalam tulisan, menjadikannya abadi dan bisa dibaca lagi, kini dan nanti.

Tentu ketika sentaisai, momen yang paling ditunggu adalah birthday2-shot. Aku berharap dikenal meski ya enggak bakal juga, orang jarang ke teater. Tapi di sana aku menyelipkan pesan untuk nanti tolong dibaca tulisanku, tentang perayaan ulang tahunmu. Dengan foto polaroid bertuliskan pesan ‘Terima kasih, Kak Arun’, aku pulang ke Jogja dengan membawa janji dan harapan, bahwa tahun depan, aku akan datang lagi, pasti.

Janji dan harapan itupun aku tepati. Alhamdulillah, Agustus 2019, aku diterima bekerja di salah satu media olahraga di Jakarta. Sehingga, dengan kata lain, tentu sudah pasti dong, aku lebih bisa menyaksikan secara rutin pertunjukan JKT48 di salah satu mal di bilangan Senayan, Jakarta. Pada sentantai ke-21 Beby, Maret 2019, aku kembali datang dan menepati janjiku untuk kembali menuliskan setiap momen yang ada saat itu. Artikel itu telah tayang di MAMEN dengan judul ‘Beby Chaesara, Kapten JKT48 dan Simulakra Sang Idola’. Aku berani bilang, ini tulisan terbaik mengenai Beby.

Satu hal yang membuat aku bangga dengan tulisan itu adalah, karena kamu tahu tulisan itu, Beb. Di suatu handshake event, di bilik rindu itu, kamu pernah tiba-tiba menyapaku saat tatapan pertama, tanpa tahu namaku. Aku selalu ingat betul itu, karena itu satu-satunya kenangan kamu pernah tahu aku. Sapaan itu adalah ‘cie penulis’. Seketika aku kaget, enggak sih, sudah jelas gesrek! Wqwqwq.

Aku merasa tidak pernah dikenal Beby, bahkan disebut namanya pun belum pernah. Beby cuma tahu aku penulis, tidak kurang dan tidak lebih. Namun, sebagai seorang jurnalis, sebuah kebanggaan bila tulisanmu diapresiasi oleh pembaca, terlebih lagi, pembaca itu adalah idolamu.

Dari pengakuanmu, Beb, tulisan itu, katanya, seperti bisa mengetahui isi kepalamu. Aku tersenyum. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi soal kita bicara tentang apa saja ketika handshake. Ah, begitu mudah kenangan itu muncul ketika aku menuliskannya kembali. Tanpa sadar, kamu sudah akan segera pergi. Mungkin kenangan itu hanya bisa aku baca ulang dalam halaman artikel yang suatu hari aku baca, saat tua nanti.

Oh, iya. Aku begitu suka saat kamu menuliskan kata-kata puitis. Bahkan, aku mengira kamu akan menulis buku tentang kisah perjalananmu di JKT48. Setidaknya, ada satu karya lagi untuk menuntaskan dahaga ambisimu. Dasar kamu. si ambisius! Jujur aku ingin sekali menuliskan satu tulisan terakhir yang terbaik. Tapi, aku kehabisan waktu, barangkali malahan tak punya waktu. Jadi, hanya ini yang bisa aku kasih. Beby.

Aku berani mengklaim, tidak ada tulisan-tulisan pribadi lainnya soal kamu (kecuali artikel berita media nasional kayak Jawapos ya, hahaha), yang lebih lengkap ketimbang tulisanku. Aku belum pernah membaca tulisan tentangmu yang selengkap milikku. Kalaupun ada, mungkin aku kalah saing dari segi pengalaman mengenalmu dan seberapa banyak bisa memberi sumbangsih dedikasi kepadamu, seperti sousenkyo, MVP, atau hal bermodal lainnya. Aku sebenarnya ingin sekali bisa wawancara langsung denganmu dan membuat tulisan terbaik itu. Ah, tapi sepertinya itu hanya sebatas kpn y. Namun, aku berharap, tulisan ini cukup, dan aku mencukupkannya.

Maaf jika sepanjang aku tidak memperhatikanmu, semenjak aku mulai merasa sudah tidak ada harapan lagi lebih tepatnya, aku tidak lagi tahu isi kepalamu. Tentu ada banyak pilu di saat semua rencanamu berantakan akibat pandemi Corona. Banyak hal yang seharusnya sejalan dengan keinginanmu, namun harus sejalan dengan kehendak-Nya. Kamu bahkan pernah kehilangan seseorang belum lama ini. Kamu menyebutnya sebagai orang baik. Aku mencukupkan untuk tahu dan ikut berduka. Kamu manusia biasa. Ada batas tubuh dan tabah dalam dirimu. Bersabarlah. Temukan cinta yang benar-benar mencintaimu, yang dengan teguh menunggu kau kembali. Semoga waktu membawamu bersamanya.

Ketika kamu memutuskan lulus, aku sempat berpikir untuk merayakan MVP 100 denganmu. Sebagai sebentuk lagi-lagi rasa terima kasih dan puncak kenangan tertinggi dari sebuah dedikasi. Namun, aku memantapkan diri untuk tidak meneguhkan keinginan itu. Aku hanya ingin mengurusi dan merawat kenangan baik bersamamu, tanpa ada kecewa atau sesal.

Beby. Aku ingin sekali bertanya. Seandainya kamu bisa kembali ke masa lalu dan berbicara dengan dirimu sembilan tahun lalu saat pertama kali masuk JKT48, apa ucapan yang ingin kamu sampaikan?

Terima kasih telah membaca ‘Beby’. Percayalah, puncak dari perasaan cinta adalah merelakan. Mari merayakan perpisahan.

Share to everyone

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here