Tepat delapan tahun lalu, Yochai Benkler, profesor di bidang hukum informasi teknologi Harvard pernah menulis tentang Wikipedia. Di paragraf pertamanya, Yochai mendeskripsikan situs open-source encyclopedia yang dibuat Jimmy Wales pada 2001 tersebut sebagai situs yang “diramalkan gagal”. 

“[…] Ketika Jimmy Wales menaruh ratusan artikel rintisan di dalam platform web (Wikipedia) di mana setiap orang bisa menulis, dan menyuntingnya, tanpa diberi bayaran sedikitpun,” tulisnya, “(Wikipedia) diramalkan gagal.”

Ide Wikipedia saat itu memang dianggap ‘ngawur’. Maksudnya, siapa juga yang mau menghabiskan waktu untuk mengisi rintisan artikel ilmiah tentang medulla oblongata, apalagi tanpa bayaran sepeser pun. Wikipedia muncul ketika para peneliti sosial masih menganggap praktik kerjasama hanya bisa terjadi melalui sistem penghargaan dan hukuman, serta tujuan pribadi dari masing-masing pelakunya.

Namun siapa yang menyangka, Wikipedia kini berubah menjadi salah satu situs paling otoritatif yang digunakan orang-orang untuk mencari informasi. Mulai informasi tentang JKT48 hingga misi pendaratan Apollo 11 bisa Anda temukan. Informasi yang diberikan Wikipedia bahkan bisa lebih lengkap dibandingkan ensiklopedia Britannica. Wikipedia membuka kemungkinan jika mungkin saja, praktik kerjasama berbasis urun daya (crowdsourcing) bisa dilakukan.

Di fandom JKT48 pun, dari 2011 hingga 2019 akhir, kita menyaksikan bagaimana para fans meluangkan waktu mereka yang terbatas, menggunakan keahlian mereka, tanpa bayaran, membuat sesuatu untuk membantu fans-fans lainnya.

Para fans yang memiliki keahlian fotografi, meluangkan waktu untuk mengambil foto anggota JKT48 ketika konser dan mengunggahnya di media sosial. Foto tersebut lalu digunakan para fan-artist untuk membuat artwork. Artwork tersebut lalu digunakan fanbase dalam proyek-proyek mereka, dibuat dalam bentuk poster, banner, hingga baliho besar di pinggir jalan yang kemudian direspon lagi, begitu seterusnya.

Paragraf di atas menjadi contoh bagaimana sirkuit urun daya terjadi di dalam fandom JKT48. Contoh tersebut memang merupakan riak kecil dari besar dan ragamnya praktik produksi yang dilakukan fans JKT48 di media sosial.

Agar praktik urun daya bisa terjadi di ruang internet, para fans pertama harus memiliki akses terhadap internet dan kedua, kita juga harus memiliki pengetahuan atau kemampuan yang bisa dibagikan melalui akses tersebut.

Dalam infografis yang dirilis situs data sekuritas Gemalto, pengguna internet pada 2020 ditengarai akan meningkat hingga 4,1 milyar pengguna, meningkat dari 3 milyar pengguna pada 2015. Kecepatan rata-rata internet pada 2020 juga meningkat dari 24,7 Mbps ke 47,7 Mbps. Secara singkat, pengguna internet global sudah mencapai lebih dari 50% dan akses internet semakin murah dan mudah di tahun ini.

Perkembangan internet tentu membuat saya optimis jika masa depan fandom akan lebih baik lagi dari sebelumnya. Namun saya juga tidak menutup mata bahwa berkembangnya internet juga memunculkan polarisasi, ketimpangan, serta perundungan yang juga semakin masif dari sebelumnya.

Seperti yang sudah pernah saya bahas di atas, kemudahan akses terhadap internet tidaklah cukup. Dibutuhkan juga pengembangan pengetahuan dan kemampuan yang memadai sehingga fandom bisa terus bertransformasi ke arah yang lebih inklusif.

Saya ingat Surya di Podcast Mamen membahas jika tren 2020 ialah tahun memanusiakan manusia. Mungkin kita bisa mulai dari hal yang paling sederhana, menjaga keadaan kawan-kawan di sekitar kita, baru setelah itu kita bisa mulai bicara bagaimana membagikan pengetahuan tentang segala hal kepada orang-orang di sekitar agar fandom bisa menjadi ruang yang ramah untuk semua orang.

Prosesnya panjang tetapi tentu bisa dilakukan.

Share to everyone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here