Minggu, 23 Februari 2020 dini hari, hujan turun dengan derasnya.  Katanya, hujan membawa banyak pertanda, dia bisa membawa kebaikan; menyuburkan kembali tanah yang lama kering, juga membawa keburukan; contohnya banjir yang terus menerus menggulung Jakarta dan beberapa tempat lain. Fenomena alam memang selalu membingungkan. Dia sangat personal, seringkali subjektif, melibatkan perasaan orang-orang yang dekat dengannya.

Hari itu tidak hanya mengingatkan aku tentang misteriusnya fenomena hujan. 23 Februari 2020 juga menjadi pertunjukan terakhir Ratu Vienny Fitrilya, Viny, Kapten KIII, si gadis artistik, jojoincov, dan banyak moniker lainnya. Orang yang memiliki banyak julukan selalu misterius. Viny pun sama. Seperti hujan, ingatan aku tentang Viny juga sama misteriusnya.

Di Teater, aku pertama kali bertemu Viny ketika pertunjukan Pajama Drive untuk Generasi 2 dihelat. Tapi di luar itu, entah mengapa ada Viny yang lain menyeruak di dalam ingatan aku. Seperti puzzle, aku menyusun kembali ingatan-ingatan buram aku tentang Viny berkat bantuan media sosial.

Viny dalam ingatan aku adalah perempuan yang pandai menggambar, dia sangat piawai bahkan sebelum menjadi anggota JKT48. Pada galeri seni digitalnya, dia sering mengunggah karya-karya yang ia buat; entah doodle atau pop-art menggambarkan dirinya sebagai remaja – penuh dengan bayang-bayang cinta dan romantisme.

Jauh aku mendalami, Viny tidak hanya mengunggah karya-karyanya saja, beberapa kali ia juga mengunggah foto-foto pribadinya semasa bersekolah, dengan seragamnya, bersama teman-temannya. Jejak itu, lalu berhenti ketika ia menjadi anggota JKT48. Idola yang harus menyenangkan banyak orang kata mereka. Rasanya aneh, melihat satu bagian dari Viny seakan menghilang lalu kembali lagi dalam wujud yang berbeda. Viny mungkin berusaha untuk terus menggambar. Poster setlist Seishun Girls yang dibawakan Tim KIII merupakan salah satu karyanya. Tapi setelah itu, kesibukannya menjadi idola mungkin membuat dia tidak bisa banyak berkarya.

Mungkin, mungkin, dan mungkin. Kata itu mengesankan ketidakpastian, buram. Aku tidak tahu bagaimana Viny menjalankan kehidupan hariannya, bagaimana ia berpikir, bagaimana ia menilai sesuatu. Sejujurnya, pemahaman aku tentang dirinya nol besar. Aku hanya bisa membayangkan Viny seperti apa yang aku lihat di panggung, juga di media sosial.

Beberapa orang berusaha mengikuti kehidupan harian Viny melalui kacamata teman-temannya, rekan kerjanya. Ada usaha untuk terus mengumpulkan kepingan puzzle yang tidak pernah lengkap tentang siapa Viny sebenarnya. Usaha tersebut terdengar heroik, mengumpulkan informasi tentang idola yang kita cintai, kita banggakan, “oh ternyata Viny hari ini bahagia, ia baik-baik saja”. Itu kekuatan, yang juga ingin kita bagikan ke banyak orang, berita bahagia yang mungkin bisa membuat orang lain dikuatkan harinya.

Aku selalu ingat kata-kata Paman Ben ketika dadanya ditembus peluru tatkala jatuh di dekapan Peter Parker. “With great power, comes great responsibility,” katanya. Media sosial adalah kekuatan teknologi yang diberikan kepada umat manusia. Untuk menggunakannya, selalu ada tanggung jawab besar yang mengikuti. Viny pernah menyatakan alasan dia mengurangi keaktifannya di media sosial. Apa yang kita lakukan, mencampuradukkan kenangan kita tentang Viny sebagai idola dan orang biasa membuatnya dan orang-orang penting di sekitarnya terganggu.

Aku bahkan tidak tahu apakah Viny akan tersinggung membaca tulisan ini.

Aku menahan diri untuk tidak menyebarkan kenanganku tentang Viny sebagai orang biasa, tapi media sosial seakan membuat semua kenangan tersebut menyatu, buram.  Bahkan aku tidak seharusnya tahu seperti apa dia sebelum menjadi anggota JKT48. Aku menelusuri jejak yang panjang tentang seseorang, ke ujung dunia, dan aku khawatir karena aku yakin, aku tidak akan menemukan apa-apa di akhir penelusuranku selain egoku sendiri.

Selain menggambar, Viny adalah seseorang yang pandai menulis. Tulisannya personal, apa adanya. Bersyukur ada seseorang yang mengarsipkan seluruh konten G+ dari seluruh anggota grup 48, termasuk Viny. Di dalamnya, Viny bercerita tentang banyak hal. Gadis yang bercita-cita jadi seorang arsitek, membaca “My Name is Red” Orhan Pamuk, menyukai Sheila On 7, tentang kucing bernama Abdul, cerita tentang paspor yang tertinggal. Kenangan yang terasa dekat, tetapi terasa jauh juga ya?

Aku bersyukur, kepingan yang Viny tinggalkan di dalam G+ nya, beberapa terjawab, atau terkabulkan. Viny sekarang mungkin hidup dalam impiannya. Dia lulus sebagai kapten KIII, di tim pertamanya, tim yang ia bangun bersama teman-temannya dari nol. 11 September 2016, Viny dipercaya untuk membawa panji KIII sebagai kapten. Dalam G+ nya, ia menulis jika takut mengemban tanggung jawab tersebut. Ia seorang yang egois, topengnya banyak, Viny sok kuat karena ia takut tersakiti.

Ketika Viny menjadi kapten, ada satu hal yang ia harus ubah. Ini semua bukan tentang dirinya lagi, tetapi kini tentang orang-orang di sekitarnya, “tentang kita,” tulisnya. Fans, staff, teman-teman seangkatannya, teman-teman satu timnya, dan senior-seniornya, masuk di dalamnya. Sedih rasanya, perjalanannya sebagai kapten penuh dengan rintangan, masalah, ketika dia mungkin saja punya banyak cinta untuk JKT48.

Naskah ini ditulis ketika Viny mungkin sedang bersiap-siap GR bersama anak-anak Academy Class A untuk pertunjukan Pajama Drive. Setlist pertamanya sebagai anggota Generasi 2. Pertunjukan yang dulu selalu dibanding-bandingkan dengan pertunjukan kakak-kakaknya.

Malamnya, Viny akan melaksanakan pertunjukan Saka Agari bersama Tim KIII. Dia juga belum memilih siapa kapten yang dipercaya untuk membawa panji KIII berikutnya. Aku tidak akan bilang layak, karena setelah aku mengenal Viny, semua orang memiliki potensi yang bahkan dirinya sendiri tidak menyadari. Siapa pun kaptennya, kata layak, seiring berjalannya waktu, akan mengikuti.

Pada akhirnya, kenangan panjang yang aku tulis tentang Viny, hanya sekadar kenangan, buram. Setinggi-tingginya ekspektasiku tentang Viny sebagai anggota JKT48, aku tidak berhak kecewa jika ekspektasi tersebut tidak tersampaikan. Mungkin sebagai ucapan terakhir antara fans dan idolanya, aku tidak akan mengucapkan terima kasih, melainkan maaf.

Maaf jika berharap terlalu banyak.

Maaf atas apa yang terjadi selama 7 tahun belakangan ini.

Maaf telah mau menjadi idola bagi banyak orang.

Maaf jika fandom pernah menjadi tempat yang tidak layak.

Share to everyone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here