Mengetahui Arah dan Balasan – Sebuah Gagasan Tentang Penerjemahan Lirik –

twt
twt

Pada konser perayaan hari jadi ke-8 JKT48 tahun lalu, telah diumumkan bahwa setlist pertunjukan teater yang sudah pernah dibawakan sebelumnya akan dirilis melalui platform musik legal pada tahun 2020. Pengumuman tersebut tentu saja menjadi kabar membahagiakan bagi para penggemar, terlebih lagi di kondisi yang serba terbatas seperti saat ini. Hingga artikel ini ditulis, terhitung sudah ada tujuh setlist yang dirilis, setelah sebelumnya hanya ada dua setlist yang dapat didengarkan pada platform musik legal. Perilisan ini ibarat sebuah penawar rasa rindu, rasa rindu akan alunan nada-nada yang khas pada tiap setlist, dan juga rasa rindu akan suasana teater yang riuh dan ramai.

Sudah satu bulan semenjak perilisannya di platform musik, setlist “Sambil Menggandeng Erat Tangan Ku” tentu saja menjadi salah satu setlist yang dirindukan oleh para penggemar. Salah satu yang banyak dirindukan di setlist ini adalah lagu Koi No Keikou To Taisaku atau Arah Sang Cinta dan Balasannya yang sangat khas dengan chant “Mahadaya Cinta”. Tak hanya itu, lirik pada lagu ini terasa sangat lebih lokal jika dibandingkan lagu-lagu lainnya yang cenderung tidak terakomodir melalui pendekatan domestik dalam penerjemahannnya. Meski lagu ini terkesan begitu akrab, seperti halnya pada kebanyakan lagu JKT48, tak jarang ditemui potongan lirik yang menimbulkan tanda tanya. Tentu saja ada beberapa faktor yang membuat hal itu terjadi, faktor utamanya yaitu hak cipta.

Melalui tulisan ini, saya akan mencoba membahas beberapa potongan lirik pada lagu Arah Sang Cinta dan Balasannya yang sangat terakomodir dengan bagus dan juga potongan lirik yang menimbulkan tanda tanya, beserta alternatif lirik dari saya yang tentu saja tidak tahu menahu perincian hak cipta dan aturan dalam penerjemahan lirik lagu JKT48.

arah sang cinta

Ke mana? Mendapatkan apa?

Judul asli, atau judul versi SKE48 pada lagu ini adalah Koi No Keikou To Taisaku yang jika diterjemahkan secara leksikal kurang lebih artinya kecenderungan (keikou)dan (to) penanggulangan (taisaku) cinta (koi). Tim penerjemah lirik JKT48 mememodifikasi kata :kecenderungan: menjadi :arah:, dan kata :penangggulangan: menjadi :balasan:. Sebelum membahas lebih lanjut, pertama-tama kita mari kita lihat secara sekilas tema dan sub-tema yang disajikan dalam lagu ini. Tema dari lagu ini adalah rasa cinta yang timbul terhadap seorang yang tak diduga, sedang kan sub-tema dari lagu ini adalah belajar dan ujian.

Melihat tema dan sub-tema dari lagu ini sepertinya pemilihan kata :arah: dan :balasan: pada judul lagu ini tidak terlalu mencerimkan isi lagu. Hal ini sangat disayangkan, padahal jika melihat pada intro dan verse, lirik versi JKT48 sudah sangat bagus dan terasa dekat secara kultural. Pak Akimoto sebagai penulis lirik tentu saja tidak sembarangan dalam memilih kata :keikou: dan :taisaku: dalam penulisan judul lagu ini. Saya tidak tahu apa yang menjadi bahan pertimbangan tim penerjemah lirik sehingga memilih kata :arah: sebagai padanan dari kata :keikou: untuk lagu ini, tapi saya akan mencoba menebak apa yang melandasi keputusan tim penerjemah dengan cara melihat lirik lagu versi SKE48 yang Pak Akimoto tulis dan melihat konteks lagu secara keseluruhan.

Arah

Jika mendengar kata ini satu hal yang pasti terpikirkan dalam benak pendengar lagu adalah :tujuan;, karena :arah: umumnya ditautkan dengan :tujuan:, namun dalam konteks lagu ini :arah: yang merupakan terjemahan dari :keikou: sebenarnya bentuk pengibaratan. Pengibaratan yang dimaksud dalam kata :arah: ini adalah, kecenderungan atau kecondongan kemunculan jenis soal dalam ujian.

Tokoh utama dalam lagu ini ingin mengetahui bagaimana kecenderungan atau kecondongan perasaaan sosok yang ia sukai, yang diibaratkan dengan ketika sang tokoh utama ingin mengetahui jenis dan materi soal seperti apa yang akan sering muncul dalam ujian. Mungkin kata :arah: sebenarnya juga lumayan bersinggungan dengan konteks ini, tapi kata :arah: terasa terlalu luas cakupannya untuk masuk dalam konteks lagu yang membicarakan “soal dalam ujian”. Pemilihan kata :arah:, justru menimbulkan citra atau gambaran tentang “ke mana”. Padahal citra yang ingin disampaikan melalui kata :keikou: adalah “yang bagaimana”.

Balasan

Jika mendengar kata ini satu hal yang terbesit adalah “menerima sesuatu yang entah itu baik maupun buruk”. Seperti yang sudah disampaikan di atas, sub-tema dari lagu ini adalah ujian sekolah. Lantas, kenapa tim penerjemah memilih :balasan: sebagai padanan dari :taisaku: dalam konteks ujian sekolah? Mungkin ini terlihat bodoh, tapi di luar sana ini nyata semoga ini hanya kebetulan dan tidak lebih dari dugaan saya saja. Jika kalian memakai mesin penerjemah otomatis seperti google translate dan mengetikkan kata taisaku dengan target terjemahan Bahasa Inggris, kata pertama yang akan muncul adalah :countermeasure:, kemudian jika kalian mengetikkan kata countermeasure dengan target terjemahan Bahasa Indonesia, yang akan muncul adalah :tindakan balasan:.

Apakah hasil penerjemahan melalui mesin penerjemah otomatis ini yang menjadi dasar keputusan tim penerjemah dalam pemilihan :balasan:? Nampaknya terlalu remeh jika memang benar, tapi saya yakin pasti ada hal penting lainnya yang menjadi dasar pertimbangan. Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan :balasan: dalam konteks lagu ini?

Pada saat menjelang momen ujian, pasti tidak sedikit di antara kita yang membeli atau membaca buku yang memuat kumpulan soal-soal ujian. Nah, kata taisaku ini akan banyak ditemui dalam halaman sampul buku yang memuat kumpulan soal-soal ujian. Dalam kata lain, taisaku ini merupakan cara atau taktik dalam menjawab soal-soal yang akan muncul di ujian. Cara atau taktik itu merupakan pengibaratan dari bagaimana cara tokoh utama menyikapi perasaan suka yang muncul serta bagaimana cara tokoh utama dalam lagu ini menyampaikan rasa suka tersebut kepada sosok yang ia sukai.

Alternatif Arah dan Balasan

Satu hal yang sudah pasti menjadi bahan pertimbangan dalam penerjemahan lirik lagu pada kebanyakan lagu JKT48 adalah jumlah silabel atau suku kata. Sedangkan dalam Bahasa Jepang penghitungan unsur pembentuk kata ditentukan dengan cara menghitung mora. Misal pada kata keikou , jika dihitung dengan silabel hanya akan terhitung 2 silabel (kei-kou), namun jika dihitung berdasarkan mora, akan terhitung 4 mora (ke-i-ko-u). Itu berarti sebagai syarat minimum, :keikou: harus diterjemahkan menjadi kata dalam Bahasa Indonesia dengan 4 silabel. Begitu pula taisaku, minimal diterjemahkan menjadi kata dengan 4 silabel.

Berpatokan aturan jumlah mora dan silabel, saya mencoba memberikan alternatif terjemahan :keikou: dan :taisaku: yang secara pribadi terdengar lebih akrab secara kultural dan mendekati konteks atau sub-tema lagu ini. Kata :keikou: dapat diterjemahkan dengan :kisi-kisi: dan :taisaku: dengan :kiat-kiat:. Untuk menguji apakah terjemahan alternatif saya ini enak didengar atau tidak, saya coba membandingkan jumlah silabel pada reff lagu ini. Hasilnya sebagai berikut.

/A/rah/sang/cin/ta/dan/ba/la/san/nya/to/long/a/jar/kan/lah/ (16 silabel)

/A/jar/kan/lah/ki/si/ki/si/cin/ta/dan/ki/at/ki/at/nya/ (16 silabel)

Jika melihat hasilnya, secara jumlah silabel, terjemahan alternatif saya masih memenuhi syarat. Selain itu saya juga memakai susunan kata predikat mendahului objek seperti halnya pada kebanyakan kalimat Bahasa Indonesia, dan tidak memakai susunan kata objek mendahului predikat seperti halnya pada kebanyakan kalimat Bahasa Jepang. Meskipun saya menghilangkan partikel :sang: (yang digunakan untuk sesuatu yang dianggap dimuliakan atau dianggap hidup), hal itu tidak memberikan kesan lirik yang terpisah dengan konteks lagu.

Namun, kembali lagi saya tidak tahu persis aturan seperti apa yang berlaku dalam penerjemahan ini sehingga alternatif terjemahan yang saya tulis di atas bisa jadi tidak lolos untuk menggantikan kata :keikou: dan :taisaku:, tapi saya sangat menyayangkan mengapa tim penerjemah tidak memilih kata dalam judul lagu ini yang lebih mampu menggambarkan secara keseluruhan isi lagu tanpa memisahkan konteks.

twt haruka

Dilema silabel dan pendekatan domestik

Setelah membahas penerjemahan judul, sekarang mari kita bahas penerjemahan lirik lagunya. Ketika sudah menginjak pada penerjemahan lirik (bukan sekadar judul), aturan mengenai kesamaan jumlah silabel dan mora pada tiap kata tidak seketat itu, karena pada tahap ini biasanya tim penerjemah lagu JKT48 berorientasi pada kesamaan jumlah silabel dan mora pada tiap baris lirik. Meski berorientasi seperti itu, saya sangat mengapresiasi tim penerjemah yang telah berusaha melakukan pendekatan secara domestik dalam menerjemahkan setiap kata dengan tetap mempertahankan kesamaan jumlah mora dan silabel pada tiap barisnya. Sebagai contoh pada potongan lirik berikut ini.

Ku bertemu seseorang di les itu (12 silabel) : Juku de deatta sono hito wa (12 mora)

Satu hal yang menarik pada potongan lirik di atas adalah pemilihan kata :les: yang berjumlah 1 silabel sebagai padanan dari kata :juku: yang berjumlah 2 mora. Di sini terlihat perbedaan jumlah mora dan silabel, padahal :juku: juga dapat diterjemahkan menjadi :bimbel: yang justru memiliki jumlah silabel yang setara. Namun, terlepas dari perbedaan jumlah antara silabel dan mora, tim penerjemah telah berhasil menyajikan kata yang juga tidak kalah memberikan kesan akrab.

Dugaan saya adalah karena pada kebanyakan lagu asli (versi grup saudari Jepang) terdapat kecenderungan melesapkan subjek terutama ketika subjek tersebut adalah orang pertama (aku), tim penerjemah terpaksa membubuhkan subjek orang pertama seperti kata :ku: pada lirik di atas dengan konsekuensi mengurangi jumlah silabel sebanyak satu silabel pada kata lain. Dalam kata lain, telah terjadi pemecahan silabel pada lirik di atas, dalam rangka memperjelas subjek. Gambaran pemecahan silabel tersebut adalah seperti di bawah ini.

beriorientasi jumlah silabel pada kata → :bimbel: (2 silabel) // :juku: (2 mora)

berorientasi jumlah silabel pada baris → :ku: (1 silabel) :les: (1 silabel) // :juku: (2 mora)

Hal serupa juga terjadi pada potongan lirik berikut ini.

Level cinta ku terlalu tinggi jadi terkejut (15 silabel) : Koi no hensachi takasugite bikkuri (16 mora)

Dalam potongan lirik di atas tim penerjemah berusaha menambahkan subjek :ku: yang tidak ditemukan pada lirik Bahasa Jepang demi mempertegas subjek. Akan tetapi, terdapat dua hal yang disayangkan pada penerjemahan baris ini. Pertama, seperti yang dapat dilihat dengan jelas, terdapat ketidaksamaan jumlah silabel dan mora. Memang, jika kita dengarkan lagunya dan tidak hanya sebatas melihat liriknya, pelafalan :cinta: terdengar seperti terdapat penambahan vokal :a: sehingga menjadi :cintaa: dan menjadikannya terdengar seperti 16 silabel. Kedua, kata :level: lagi-lagi tidak terlalu masuk dalam konteks lagu ini. Padahal sudah jelas Pak Akimoto memilih kata :hensachi: yang umumnya digunakan dalam konteks ujian di sekolah. Kata :hensachi: adalah “nilai yang digunakan untuk mengetahui kadar kemampuan diri atau peringkat hasil ujian dengan cara berpatokan pada nilai rerata”. Sebagai contoh, mari kita lihat penghitungan :hensachi: di bawah ini

Di antara siswa yang mendapatkan nilai 36, 50, 64, dan 80, Shani mendapatkan nilai 70. Sedangkan rerata nilai ujian matematika di kelas Shani adalah 60, hal ini berarti :henshachi: Shani dalam ujian matematika adalah sekitar 56,5.

Selain dalam konteks nilai ujian, :hensachi: juga kerap digunakan dalam konteks seleksi masuk universitas. Orang-orang yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas biasanya menjadikan :hensachi: sebagai acuan untuk memilih fakultas dan universitas. Dalam konteks lagu ini, :hensachi: merupakan pengibaratan dari syarat atau kondisi-kondisi yang harus dipenuhi tokoh utama dalam rangka menjalin hubungan dengan sosok yang ia sukai. Sama halnya dengan kasus pemilihan kata :arah:, kata :level: dalam baris ini masih terkesan terlalu luas.

Sebagai alternatif terjemahan, saya mencoba mempertahankan kesamaan jumlah silabel dan mora pada kata :hensachi: dan tetap berusaha sedekat mungkin dengan konteks lagu ini. Meskipun bukan Bahasa Indonesia, tapi saya rasa kata :passing grade: terdengar tidak asing di kalangan para peserta ujian khususnya di Indonesia, untuk itu berikut saya mencoba menguji apakah kata :passing grade: bisa menjadi alternatif terjemahan dari :hensachi: dengan membandingkannya dengan versi JKT48.

Le/vel/cin/ta/ku/ter/la/lu/ting/gi/ja/di/ter/ke/jut (15 silabel)

Pass/ing/grade/cin/ta/ku/ter/la/lu/ting/gi/ja/di/ter/ke/jut (16 silabel)

Meskipun :passing grade: (3 silabel) tidak memiliki jumlah silabel yang sama dengan :hensachi:, yang memiliki 4 mora (he-n-sa-chi), penambahan kata :ku: menjadikan jumlah total silabel pada baris ini terpenuhi, yaitu sebanyak 16 silabel.

Terlepas dari dilema menyamakan jumlah silabel dan konsistensi dalam pendekatan domestik, ada satu baris lirik yang menurut saya paling berkesan, yaitu sebagai berikut.

Tidak mungkin lewat jalur PMDK (12 silabel) : AOnyuushi ja nerainaishi (12 mora)

Dalam baris di atas, saya sangat kagum dengan pemilihan :jalur pmdk: sebagai padanan dari :ao nyuushi:. Karena menurut saya pemilihan ini nyaris seratus persen tepat secara makna kata dan disajikan dengan akrab secara kultural. Pada baris ini tokoh utama menggambarkan kesadaran diri atas ketidamampuandalam mengungkapkan rasa suka melalui cara-cara yang berintelektual karena orang yang disukai adalah sosok yang intelektual. Maka dari itu, sebagai pengibaratan, terpilihlah :jalur pmdk: yang merupakan jalur masuk universitas dengan cara menyertakan hasil prestasi akademik atau menyertakan sertifikat atau karya yang terkait dengan minat dan bakat yang dimiliki peserta ujian.

Terlebih lagi, tidak seperti kasus-kasus sebelumnya, meski di baris ini tidak terdapat penambahan kata, jumlah total silabel terpenuhi secara tulus tanpa ada unsur memaksa seperti penambahan vokal ganda seperti pada kasus :cinta: menjadi :cintaa:. Penerjemahan yang mampu mengakomodir baik secara silabel dan budaya domestik seperti ini, sangat jarang ditemukan di lagu-lagu JKT48, untuk itu secara pribadi saya memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya untuk sosok di balik terciptanya terjemahan pada baris ini.

Salah sangka

Sebagai penutup tulisan ini, ada satu baris lirik yang menurut saya mungkin memunculkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman yang dimaksud di sini adalah arah pemaknaan yang berkebalikan dengan lirik aslinya (lirik versi Bahasa Jepang). Kesalahpahaman ini mungkin lagi-lagi didasari oleh jumlah silabel. Tapi di sini saya mencoba memberikan sudut pandang baru pada lirik berikut ini.

Karena ku anak IPS aku pun tidak tahu, selalu saja punya prasangka buruk

Watashi bunkei dakara wakaranaino, zutto kuwazu girai wo shite

Jika melihat lirik Bahasa Indonesia di atas, yang mana yang terbesit di pikiran kalian?

Apakah,

A. Segala sesuatu (orang dll.) di sekitar punya prasangka buruk terhadap anak IPS

atau ,

B. Anak IPS punya prasangka buruk terhadap segala sesuatu (orang dll.) ?

Jika kalian terbesit kalimat A, berarti kalian sama dengan saya. Saya pun memaknai bahwa “orang di sekitar mempunyai praduga yang buruk terhadap anak IPS”, karena saya rasa secara kultural di Indonesia memang tak jarang sangkaan seperti itu disematkan pada orang-orang yang belajar ilmu pengetahuan sosial. Namun, sebenarnya makna yang ingin disampaikan pada baris ini adalah kalimat B. Frasa :prasangka buruk: dipilih menjadi padanan dari frasa :kuwazu girai:, yang jika diterjemahkan secara leksikal berarti “membenci tanpa memakan”.

Frasa :kuwazu girai: merupakan adjektiva atau kata sifat yang digunakan untuk menggambarkan sosok orang yang “membenci sesuatu berlandasakan praduga”. Tokoh utama dalam baris ini menunjukkan keengganan dan ketidakyakinan dalam melalukan pendekatan terhadap orang yang ia sukai melalui cara-cara yang berintelektual. Tokoh utama tidak menyukai cara-cara yang cerdas secara akademik dalam rangka menyampaikan rasa suka, dengan dalih tokoh utama merupakan orang yang belajar ilmu pengetahuan sosial.


Sudah banyak diketahui bahwa lagu Arah Sang Cinta dan Balasannya pada setlist Sambil Menggandeng Erat Tanganku ini terkenal dikalangan penggemar karena sempat mendapatkan peringkat pada acara Request Hour 2016 dan dicintai oleh para penggemar karena chant Mahadaya Cinta yang secara spesial disorakkan untuk lagu ini saja dan tidak ditemukan di lagu lainnya. Semoga kedepannya JKT48 mampu menghadirkan lagu-lagu melalui penerjemahan lagu maupun lagu orisinal, seperti Arah Sang Cinta dan Balasannya yang secara tegas tidak memberikan sekat-sekat budaya terhadap para pendengar setianya. Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian merasa puas dengan lirik lagu Arah Sang Cinta dan Balasannya? atau mungkin ada bagian lirik yang menurut kalian sangat unik?

Images: Twitter, stage48
Share to everyone

2 Comments

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here