Sudah hampir setidaknya tiga bulan saya menjalankan PSBB dengan membatasi aktivitas hanya di rumah. Mungkin tidak hanya saya, tapi sebagian besar orang melakukan hal yang sama di tengah bergulirnya pandemi COVID-19 ini.

Suntuk, bosan, dan ingin kembali beraktivitas normal mungkin adalah satu dari sekian banyak perasaan yang menggantung di benak kita. Bagi fans JKT48, perasaan tersebut juga muncul karena frekuensi pertemuan fisik dengan idolanya semakin menurun.

Tidak hanya fans, beberapa eks-member yang telah memutuskan lulus dari JKT48 juga menyuarakan kegamangan mereka. Tim redaksi Mamen berkesempatan untuk mewawancarai tiga orang eks-member yang bisa kita sebut sebagai “orang biasa”; Vanka, Sisil, dan Ayana. Mereka bertiga sepakat jika berdiam di rumah mungkin tidak semenyenangkan kelihatannya.

“Dari dulu selalu mikir enak banget bisa kuliah dari rumah, tiduran doang ngga perlu bangun pagi-pagi,” ujar Sisil yang kini sedang sibuk membangun kanal YouTube-nya, Sisil TV. “Ternyata sesuntuk itu diam di rumah, soalnya aku tipe yang bosenan dari dulu.”

Setali tiga uang, Vanka juga mengutarakan kebosanannya. Bosan membuat dirinya kini mulai lebih menghargai momen. Ketika pandemi, Vanka mulai menyadari momen bersama teman dan orang-orang terdekat ternyata bisa begitu penting.

“[…] Percaya ngga percaya, mood kita bisa kebawa senang dari aura positif orang-orang di sekitar,” ujar Vanka. Saya sepakat, pandemi mungkin menghantam aspek ekonomi masyarakatnya. Tetapi dampak hilangnya interaksi fisik yang menjadikan kita makhluk sosial, juga tidak bisa disepelekan.

Ujung-ujungnya, mungkin kita akan semakin sensitif terhadap segala hal buruk yang terjadi di sekitar, atau bahkan menimpa kita. Beberapa waktu lalu saya mewawancarai seorang desainer, dia mengenalkan kepada saya konsep media terrorism. Menurutnya, kemampuan kita untuk mengakses informasi secara masif dan peran media untuk memberitakan segala hal, mungkin berpotensi membuat kita tidak bahagia.

Siapa yang tidak miris mengetahui jika hampir setiap harinya, selalu ada tenaga medis yang meninggal akibat virus corona. Dari media juga kita tahu bahwa PSBB tidak sepenuhnya berhasil, banyak orang-orang ignorant berkeliaran, dan sepertinya terlalu muluk jika Pemerintah dapat menyelesaikan pandemi ini dengan baik dan semestinya.

Media mungkin memberi kita kekuatan, tetapi ia juga membuat kita rentan terpapar oleh berita-berita buruk yang sebaiknya tidak kita dengar. Termasuk Sisil, berita-berita tentang banyaknya orang yang meninggal akibat COVID-19 membuat dirinya menangis. Berdiam di rumah pun, meski banyak orang menyebut hal tersebut sebagai hal yang sepele, ternyata tidak mudah dilakukan.

“Karena ngga tahu, aneh gitu di rumah. Biasanya kan ada waktu main sama teman-teman terus baru pulang ke rumah. Kalau di rumah itu benar-benar ngga ada waktu buat me time. Pasti disuruh ini itu dan lain-lain. Terus aku memang sebenarnya sensitif kan, jadi ya bisa tiba-tiba nangis saja,” ujar Vanka.

Tapi bukan manusia namanya kalau tidak dapat beradaptasi. Ratusan bahkan ribuan tahun hidup di berbagai iklim dan kondisi membuat manusia menjadi makhluk hidup yang memiliki survivability­rate tinggi dibanding makhluk hidup lainnya. Dalam wujud yang sederhana, pandemi membuat kita memutar otak agar bisa tetap berlaku waras. Beberapa orang menyibukkan diri dengan belajar hal baru, ada juga yang mulai membuka diri terhadap jenis-jenis hiburan tertentu, drama Korea misalnya.

Ayana misalnya, mantan kapten Tim T dan anggota Generasi 1 ini mengaku senang karena ia tetap dapat melakukan banyak hal, meski di rumah saja. Aktivitas yang paling senang ia lakukan adalah menonton drama Korea, memasak bersama kakak, dan juga belajar makeup.

Tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Kata semangat dan solidaritas untuk membantu sesama mungkin saja bisa menguatkan kita untuk melalui masa-masa penuh tantangan ini. Bagi Ayana, Vanka, dan Sisil, bertahan diri dengan berdiam di rumah adalah satu-satunya cara yang kita bisa lakukan. Dengan itu, mungkin saja sedikit banyak bisa membantu para tenaga medis untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Versi lebih lengkap wawancara dengan Sisil, Vanka, dan Ayana bisa Anda lihat di dalam Virtual Photobook #DiRumahAja dengan mengklik tautan di sini.

Wawancara dilakukan oleh Tegar Ari dan ditulis ulang untuk website oleh Fauzan Aziz.

Share to everyone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here