Sudah sejak lama, meski belum seimbang, JKT48 diidolakan oleh fans laki-laki dan perempuan. Bagi orang yang sudah lama mengidolakan JKT48, pernyataan tersebut terdengar masuk akal. Namun bagi orang awam yang hanya melihat JKT48 dari kulitnya saja, fans JKT48 mereka anggap hanya diisi oleh kelompok laki-laki. Generalisasi tersebut seringkali bermuara pada stereotip dan stigma negatif untuk para fans JKT48.

Stigmanya beragam, tapi yang paling tidak masuk akal adalah cap jika fans JKT48 adalah pedofil yang menseksualisasikan anggota JKT48. Saya tidak tahu isi pikiran masing-masing fans, namun yang saya tahu adalah fandom, hingga saat ini selalu berusaha menjaga JKT48 dan anggotanya agar dihindarkan dari hal-hal tersebut.

Apalagi ketika kita mengetahui fandom JKT48 kini mulai banyak melibatkan kelompok perempuan, kenapa stigma tersebut tetap muncul ke permukaan? Apa yang sebenarnya keliru?

JKT48 memang tidak bisa dilepaskan dari kelompok perempuan. Anggota JKT48 sendiri adalah perempuan. Kini juga banyak fans-fans perempuan yang dikenal di dalam fandom berkat kemampuan dan kontribusinya. Meskipun demikian, kelompok perempuan di dalam semesta JKT48 cenderung dinomorduakan. Hal tersebut sedikit banyak ditentukan oleh skema industri idola JKT48 yang lebih memanjakan pelanggan laki-laki. 

Di Jepang, kemunculan idola tidak bisa dilepaskan dari resesi pasca nuklir. Ketika Amerika Serikat masuk lalu mengenalkan hiburan bernama rockabilly yang menimbulkan fenomena geng motor, produser-produser di Jepang mulai mencari alternatif. Mereka lalu merancang konsep hiburan ramah yang bisa ditonton semua kalangan, namun juga memberikan semangat bagi kelas pekerja yang mayoritas adalah laki-laki melalui impian dan etos kerja keras. Purwarupa yang kini dinamakan idola itu lalu lahir.

Industri hiburan yang menyasar laki-laki ini juga bukan tanpa sebab. Ketika itu, kelompok perempuan yang mandiri secara ekonomi masih bisa dihitung dengan jari. Ruang publik menjadi ruang yang didominasi kelompok laki-laki, ruang privat sebaliknya diisi oleh kelompok perempuan yang berperan menjadi ibu rumah tangga.

Kini, meski tidak ada perubahan signifikan mengenai konsep idola yang lebih relevan dengan kondisi masyarakat modern, kelompok perempuan yang mandiri secara ekonomi dan terlibat sebagai fans makin bermunculan. Tidak hanya fans JKT48, hal yang sama juga bisa kita lihat hadir di dalam fandom idola Korea. Dilansir Korea Times, lebih suksesnya idola laki-laki dibandingkan idola perempuan memang tidak bisa dilepaskan dari loyalitas fans perempuan dalam merogoh kocek untuk idolanya.

Praktik shipping sedikit banyak merupakan reaksi dari keterlibatan kelompok perempuan di dalam fandom JKT48. Fans perempuan yang merasa kurang puas dengan narasi heteronormatif yang ditawarkan JKT48 untuk laki-laki, dipelintir menggunakan narasi homoerotik nan romantis sehingga bisa dinikmati dan lebih ramah untuk kelompok perempuan.

Shipping memang belum bisa diterima sebagian besar kalangan fans yang mayoritas adalah laki-laki. Namun fakta jika industri JKT48 mulai melirik praktik tersebut sebagai alternatif untuk mencari keuntungan adalah tanda kelompok perempuan mulai memiliki peran penting di dalam fandom JKT48.

Angin segar transformasi ini tentu layak dirayakan jika kedepannya kita dapat menghormati kelompok perempuan yang terlibat di dalam fandom JKT48. Tidak hanya fans, tetapi juga anggota JKT48, staf-stafnya, bahkan hingga mantan anggota yang telah lulus dari grup.

Namun sayang, transformasi itu kini kian terasa berat ketika saya menyaksikan banyak pemberitaan terkait fandom JKT48 belakangan. Mulai dari perundungan Kepala Sekolah Academy JKT48 Kinal, hingga yang terkini yaitu perundungan AZ, mantan anggota JKT48 Tim T yang telah lulus dan sedang meniti karir menjadi aktris film.

Saya tidak ingin melakukan pembelaan apa-apa. Saya tahu nasehat selalu ada untuk setiap kesalahan, dan banyak juga fans yang melakukannya dengan cara baik. Namun jika mewacanakan yang bersangkutan sudah bukan bagian dari JKT48 lagi dengan berbagai macam tagar, apa itu tidak berlebihan?

Toh sejak dari awal fandom JKT48 sudah dianggap remeh oleh pandangan masyarakat awam, lalu mengapa kita harus ambil pusing jika AZ adalah anggota JKT48 atau bukan, apa itu hal yang paling penting untuk saat ini? Lalu jika mengetahui fakta bahwa orang-orang di luar fandom yang pertama kali menyebarkan video tersebut, bukankah kita yang mendaku diri sebagai “kakak” mereka seharusnya lebih melindungi? Kita mau teriak “AAAK DEDEK” tapi masa kita tidak mau bersikap seperti kakak.

Orang mengenal JKT48 sebagai kelompok perempuan muda yang menari dan bernyanyi dengan ditonton oleh kelompok laki-laki dewasa. Jika kita tidak pernah berpikir sedikitpun untuk lebih menghormati kelompok perempuan di dalam semesta JKT48, maka stigma dan stereotip jika laki-laki dewasa yang menonton perempuan muda adalah perbuatan aneh, tidak akan pernah hilang.

Share to everyone
Fans JKT48 yang berusaha diingat melalui tulisan-tulisannya. Ikuti Twitter saya di @xpajonx

1 KOMENTAR

  1. Lucu melihat fans JKT48 yg ikut2an merundung Zara, membuat tagar2 dia bukan bagian dari JKT48, seakan2 lupa dengan fakta bahwa Zara adalah alumni JKT48 TERSUKSES yg punya peranan luar biasa besar dalam menjaring banyak fans baru dari lingkup yg belum pernah tersentuh sebelumnya. Dan yg paling utama, kesuksesan Zara itu (akhirnya) memberikan legitimasi untuk JKT48 sendiri sebagai pencetak idol berbakat, membuka jalan member2 lain utk ikut berkarir di dunia entertainment, membuat para casting director mulai melirik member JKT48 lainnya, meningkatkan reputasi JKT48 sehingga bisa memancing bakat2 seperti azizi, afiqah, dll untuk mengikuti audisi, sebuah efek yg setau saya tidak pernah diberikan oleh alumni2 JKT48 lainnya yg biasa dipuji setinggi langit oleh fans, seperti Veranda atau Yupi (maaf sebelumnya, tapi jadi apa sih mereka sekarang?)

    Kejadian kemarin itu cuma mempertegas imej fandom JKT48 sebagai fandom yg toxic, dan kembali mengekspos kepada publik apa yg fandom ini biasa lakukan terhadap idol mereka sendiri, itu saja sih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here