Intro

“Kasih andai anganku bersuara ia kan bernyanyi”. Kalau kata-kata ini sedang terngiang-ngiang di kepala anda, kemungkinan besar anda adalah seorang fans JKT48 yang sudah menunggu-nunggu perilisan single terbaru (setidaknya ketika artikel ini ditulis)  dari mereka. Single terbaru kali ini memang ditunggu-tunggu karena memang ini merupakan single original pertama dari JKT48. Artinya lagu ini bukanlah lagu terjemahan seperti single-single sebelumnya. Ketika diumumkan fandom ini heboh dan bertanya-tanya seperti apa lagunya nanti, bahkan saya sempat menulis artikel bagaimana saya mengira-ngira akan seperti apa single original ini.

Tanggal 22 Januari 2020 adalah momen yang cukup bersejarah bagi fans dan Idol Group kesayangan kita. Single Original yang berjudul Rapsodi itu akhirnya dirilis di YouTube, Spotify, dan media-media streaming lainnya. Ketika pertama kali mendengarkan lagu tersebut yang muncul di kepala saya adalah “Ini mah gak kayak lagu Jeketi”. Menurut saya artist yang akan membawakan lagu seperti ini adalah Marion Jola atau Lalahuta. Berbeda dengan single-single sebelumnya, lagu baru ini terasa lebih Indonesian Pop dibandingkan J-pop. Tidak terdengar celah yang jelas untuk chant dan juga nuansa yang dihadirkan pada lagu ini lebih santai (cocok untuk menikmati secangkir kopi dikala senja!). Meski begitu, bukan berarti lagu ini tidak dapat dinikmati, justru sebaliknya saya sangat menikmati vibes baru dari JKT48 yang dihadirkan dalam single original ini. Ritme hi-hat drumnya yang mirip dengan ritme hi-hat dari musik-musik trap membuat saya kecanduan dengan lagu ini. Ditambah liriknya yang berbeda dari lirik lagu JKT48 biasanya, lirik lagu ini terasa lebih puitis (saya akan menyetarakannya dengan lirik dari Maliq… SIAPA YANG KEPIKIRAN MENGGUNAKAN KATA RAPSODI???).

Dengan vibes baru ini banyak yang berharap (fans dan member) agar lagu ini dapat menjadi lagu yang didengarkan oleh banyak orang, atau dengan kata lain menjadi lagu yang masuk top chart. Namun, pertanyaannya adalah apakah lagu ini dapat mencapai harapan itu? Untuk mencoba menjawab pertanyaan ini saya berangkat ke data yang disediakan Spotify untuk melihat karakteristik lagu-lagu Indonesia yang populer (pernah tercatat di chart top 200 Indonesia padah tahun 2019) dan juga lagu-lagu dari JKT48 yang pernah dirilis di Spotify, lalu membandingkan karakteristik kedua kelompok lagu tersebut untuk mengetahui apakah benar single baru ini dapat diterima oleh pasar musik Indonesia dibandingkan dengan lagu-lagu JKT48 yang sebelumnnya.

Data Analysis

Put on your nerd hat, stuffs about to get nerdy.

Data yang digunakan

Untuk melakukan perbandingan hal yang harus pertama kali dipikirkan adalah data yang digunakan. Untungnya saya sudah pernah melakukan hal yang serupa dalam tulisan saya yang sebelumnnya. Data yang digunakan untuk karakteristik lagu adalah audio feature (selanjut nya akan saya sebut fitur) yang disediakan oleh Spotify. Berikut adalah fitur-fitur yang diberikan spotify terhadap sebuah lagu:

  • Acousticness: Fitur ini menggambarkan seberapa akustik sebuah lagu. Fitur ini memiliki nilai antara 0 dan 1, dimana semakin besar nilainya semakin akustik sebuah lagu. Sebagai contoh lagu folk inde seperti lagu Fiersa Besari lebih akustik dibandingkan lagu EDM seperti High Tension.
  • Valence: Fitur ini menggambarkan seberapa positif mood sebuah lagu, nilainya antara 0 dan 1, dimana valence 0 menjelaskan sebuah lagu memiliki mood yang negatif (Marah, Sedih, dll.) dan 1 menjelaskan sebuah lagu memiliki mood yang positif (Senang, Bahagia, dll.). Sayangnya fitur ini TIDAK mempertimbangkan mood dari lirik di dalam lagu tersebut.
  • Loudness: Satuan dari loudness ini adala Decibel, namun saya mengubahnya menjadi skala 0 sampai 1. Sesuai namanya, loudness mencoba menjelaskan seberapa “keras” sebuah lagu.
  • Energy: Sama seperti fitur lainnya, nilai dari fitur ini berada diantara 0 dan 1, dimana semakin besar nilainya semakin berenergi sebuah lagu. Sebagai contoh High Tension jauh lebih berenergi dari So Long.
  • Danceability: Adalah fitur yang mencoba menjelaskan seberapa baik sebuah lagu untuk dance. Semakin tinggi nilainya lagu tersebut dianggap semakin cocok untuk mengiringi tarian.
  • Tempo: menggambarkan seberapa cepat ketukan dari sebuah lagu, dalam satuan BPM.

Untuk lagu-lagu Indonesia yang populer saya menggunakan data dari spotifycharts.com, saya mengambil semua lagu yang pernah masuk TOP 200 di Indonesia selama tahun 2019. Dari total 701 lagu yang pernah singgah di weekly chart spotify Indonesia, saya hanya menggunakan lagu-lagu Indonesia yang pernah masuk chart tersebut, sehingga tersisa 200-an lagu yang saya gunakan untuk analisis perbandingan kali ini.

Lagu JKT48 yang tak sejalan dengan selera pasar Indonesia?

Plastic Love adalah sebuah lagu ber-genre city pop dari Mariya Takeuchi yang dirilis pada tahun 80an. Mungkin sekilas tidak ada yang spesial dari lagu ini, selain sebuah lagu disko yang catchy. Namun, pada tahun 2019 lagu ini hidup kembali (lagu ini bahkan dibuatkan MV). Yang bertanggung jawab atas hal ini adalah algoritma rekomendasi YouTube yang sering kali merekomendasikan lagu ini kepada orang-orang yang mendengarkan lagu serupa. Tentu saja algoritma YouTube ini didorong oleh tren orang-orang yang kembali mendengarkan lagu disko tahun 80-an.

Lalu apa hubungan Plastic Love dengan pembahasan lagu-lagu JKT48 yang akan saya lakukan? Fenomena Plastic Love ini membuat saya bertanya, mengapa hal yang sama tidak terjadi pada lagu JKT48? Mengapa tidak ada? Kalau adapun tidak masif, kejadian dimana seorang mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia lalu seketika YouTube atau Spotify memberikan rekomendasi lagu JKT48? Dugaan saya adalah karena memang lagu JKT48 itu sediri bukalah lagu yang mirip dengan karakteristik lagu mainstream saat ini.

Perbandingan Secara Menyeluruh

radar_mean_feature.pngDari grafik rata-rata tiap fitur dari dua kelompok lagu yang saya kumpulkan, terlihat memang ada perbedaan karakteristik dari lagu-lagu JKT48 dan lagu-lagu Indonesia yang populer. Yang paling jelas berbeda adalah acousticness, dimana terlihat jelas (dan mungkin sesungguhnya obvious) bahwa lagu JKT48 jarang yang menggunakan instrumen akustik dalam lagu-lagunya. Sedangkan lagu Indonesia yang popular nilai akustiknya jauh lebih tinggi, contoh nyatanya lagu Pelangi dari HiVi yang jelas-jelas sangat akustik. Jadi secara keseluruhan lagu-lagu Indonesia yang populer lebih akustik daripada lagu-lagu JKT48 yang pernah dirilis sebelumnya. Untuk mood lagu yang dapat dilihat dari valence, terlihat jelas memang  secara general lagu Indonesia yang populer rata-rata lebih “galau” dibandingkan lagu JKT48. Untuk loudness dan energy juga terlihat bahwa lagu JKT48 memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan lagu-lagu Indonesia yang populer,. Kita dapat berspekulasi bahwa hingar-bingar bukanlah hal yang disukai oleh pendengar musik di Indonesia.

Jadi untuk merangkum grafik di atas secara rata-rata memang ada perbedaan karakteristik untuk kedua kelompok ini. Lagu JKT48 secara umum lebih energetic dan uplifting, sedangkan lagu Indonesia yang populer lebih santai, mungkin lebih mendayu-dayu. Bisa jadi ini alasan mengapa lagu JKT48 tidak muncul dalam rekomendasi banyak orang. Karena kebanyakan orang di Indonesia lebih menyukai lagu yang santai, tidak terlalu energetic, terdenger lebih galau, dan menggunakan petikan gitar akustik (sambil ditemani kopi). Meskipun nilai rata-rata dapat memberikan gambaran umum, nilai rata-rata juga dapat menipu. Oleh sebab itu saya menelaah tiap-tiap dari fitur ini lebih detil lagi.

Tempo

Sebelum menelaah fitur-fitur yang telah dibahas sebelumnya, saya akan membahas satu fitur yang belum dibahas sebelumnya, yaitu tempo. Untuk membantu melihat perbandingan tempo lagu-lagu JKT48 dan Lagu Indonesia yang Populer, saya menggunakan grafik yang dinamakan violin plot, fungsinya mirip dengan grafik distribusi dimana daerah yang lebih lebar berarti terdapat lebih banyak observasi disana.

Tempo.pngDari gambar grafik diatas bisa dilihat bahwa rata-rata (Titik berwarna pada tiap kelompok) tempo lagu JKT48 memang lebih tinggi dibandingkan lagu-lagu Indonesia yang populer. Namun, bukan berarti lagu JKT48 tidak ada yang memiliki tempo yang relatif lambat, contohnya saja lagu Kita Pernah Di Sini, menurut spotify lagu ini memiliki tempo 75 bpm, (hampir) setengah dari rata-rata tempo lagu JKT48 yaitu 140 bpm.

Dari grafik ini pula kita melihat bahwa tempo lagu-lagu Indonesia yang populer lebih bervariasi, kebanyakan terdapat pada 75 – 150 bpm. Untuk JKT48 kebanyakan lagunya terdapat pada tempo 125 – 180 bpm. Perbedaan range ini bukan berarti tidak ada irisan diantara keduanya, salah satunya lagu Cahaya Panjang berada di irisan kedua range tersebut (140 bpm). Namun, tidak dapat dipungkiri terdapat indikasi bahwa banyak lagu JKT48 yang dapat dianggap terlalu cepat untuk selera mainstream pendengar musik Indonesia (> 150 bpm).

Acousticness

Acousticness.pngDari grafik ini terlihat bahwa lagu populer memiliki variabilitas yang lebih jauh dibandingkan lagu-lagu JKT48. Namun meski terlihat palugada (apa lu cari, gue ada), acousticness lagu Indonesia yang populer lebih berat kekanan (> 0.5 nilai tengahnya). Hal ini dapat mengindikasikan bahwa lagu dengan acousticness lebih tinggi more likely untuk diterima masyarakat Indonesia.  Sebaliknya untuk JKT48 lagu-lagu mereka kebanyakan berada pada bagian paling kiri dari spektrum acousticness ini atau dapat dikatakan sedikit sekali lagu mereka menggunakan alat musik akustik. Bisa jadi acousticness ini adalah salah satu faktor penting untuk menentukan lagu apa yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia secara general.

Valence / Mood

Valence.pngUntuk valence terlihat dari kedua kelompok sama-sama memiliki variabilitas. Meskipun begitu, valence lagu Indonesia yang populer lebih banyak yang bernilai rendah dibandingkan lagu-lagu JKT48. Jadi secara general memang betul lagu-lagu Indonesia yang populer lebih mungkin untuk bernuasa sedih.  Range nilai valence untuk lagu Indonesia yang populer banyak tersebar pada range 0.2 – 0.6, sedangkan lagu JKT48 kebanyakan berada range 0.4 – 0.8. Melihat variability dari kedua kelompok ini sepertinya valence bukanlah fitur yang menjadi penentu kuat mengapa lagu JKT48 tak pernah muncul di rekomendasi para pengguna streaming platform.

Loudness dan Energy

Loudness.pngEnergy.pngLoudness dan energy saya gabungkan karena saya menganggap keduanya menggambarkan dua hal yang mirip. Bila dilihat dari grafik, sudah terlihat bahwa lagu JKT48 cenderung lebih energetic dan hingar-bingar. Mungkin fitur ini dapat menjelaskan mengapa Spotify atau YouTube tidak merekomendasikan lagu JKT48 kepada kebanyakan orang. Kebanyakan orang di Indonesia lebih menyukai lagu yang tenang dan tidak terlalu berisik.

Chillness (Extra Metrics)

Dalam perbincangan kasual saya dan beberapa teman pernah lewat pembicaraan bahwa orang-orang Indonesia merupakan orang yang sangat santai. Oleh karena alasan itu orang-orang Indonesia menyukai lagu yang enak didengarkan ketika bersantai. Saya mencoba menyatukan fitur-fitur yang ada untuk menentukan seberapa chill sebuah lagu.

Bayangkan sedang berada di sebuah cafe untuk bersantai sambil menikmati kopi atau teh, lagu seperti apa yang enak didengarkan untuk menemani kegiatan bersantai kita? Alunan gitar akustik yang indah nampaknya cocok untuk suasana ini, mood yang tidak terlalu riang (terlebih kalau di luar hujan), lagu yang jauh dari hingar-bingar, dan juga tidak terlalu energetic karena kita sedang ingin bersantai bukan lari pagi. Berdasarkan alur berpikir ini saya mencoba merumuskan chillness dari sebuah lagu, rumusnya adalah sebagai berikut:

Chillness = 0.25*acousticness + 0.25*(1-valence) + 0.25*(1-loudness) +  0.25*(1-energy)

Lalu hasi dari perhitungan itu adalah sebagai berikut

Chillness.pngKalau dilihat dari distribusinya terlihat jelas bahwa lagu-lagu JKT48 memang kebanyakan bukanlah lagu yang dapat dikatakan chill (ada sedikit pencilan-pencilan yang berada diatas nilai 0.5). Sedangkan untuk lagu-lagu Indonesia yang populer, memang lebih palugada tapi kebanyakan dari mereka memiliki nilai diatas 0.5, dengan rata-rata 0.57. Hal ini memperkuat dugaan saya kalau lagu yang populer di Indonesia lebih mungkin merupakan lagu yang lebih chill.

Kesimpulan Analisis

Bila diminta menjawab pertanyaan “Apakah lagu JKT48 berbeda dari selera mainstream di Indonesia?”, saya berani berkata bahwa memang secara general lagu-lagu dari JKT48 ini bukanlah lagu yang sesuai dengan trend umum yang ada pada pendengar lagu Indonesia. Itu pula sebabnya mengapa jarang sekali orang menemukan lagu JKT48 dalam rekomendasi lagu baru mereka.

Rapsodi: Sebuah Upaya untuk Masuk ke Pasar Musik Indonesia

Setelah pembahasan panjang lebar saya, masih ada pertanyaan besar dalam kepala saya “Bagaimana dengan Rapsodi? Apakah lagu ini sesuai dengan pasar musik Indonesia?”. Untuk menjawab pertanyaan ini saya menggambar perbandingan nilai fitur-fitur lagu Rapsodi dengan rata-rata lagu JKT48 dan juga rata-rata lagu Indonesia yang populer.

radar_mean_feature_w_rapsodi.pngDari grafik diatas terlihat bahwa lagu Rapsodi ini lebih mirip dengan rata-rata lagu Indonesia yang populer daripada rata-rata lagu JKT48 sebelum-sebelumnya. Bagaiman dengan temponya? Menurut spotify tempo lagu ini berada pada angka 144 bpm (sepertinya algoritma spotify menghitung beat tercepat dari sebauh lagu). Meskipun lebih besar dari nilai rata-rata lagu Indonesia yang populer, nilai ini masih berada pada range dimana kebanyakan lagu-lagu Indonesia yang populer berada. Chillness lagu ini berada pada nilai 0.5038, jauh diatas lagu-lagu JKT48 pada umumnya (rata-rata 0.24), nilai ini lebih dekat dengan rata-rata lagu Indonesia yang populer. Jadi dapat disimpulkan bahwa lagu Rapsodi ini lebih dekat dengan selera kebanyakan orang di Indonesia daripada lagu JKT48 itu sendiri. Dengan kata lain, karakteristik lagu ini masuk dengan selera mainstream pendengar musik di Indonesia.

Kalau begitu apakah lagu ini akan laku di pasar musik Indonesia? Jawabanya adalah tidak dapat dipastikan. Karakteristik sebuah lagu bukanlah satu-satunya penentu sebuah lagu didengar oleh banyak orang. Ada banyak faktor-faktor lain yang tidak saya sentuh dalam analisis saya ini. Meskipun begitu, karakteristik lagu yang sesuai dengan pasar Indonesia dan lagu yang bagus adalah sebuah permulaan, selanjutnya biar waktu dan tim marketing yang menjawab.

Penutup

Sekian analisis Panjang lebar saya tentang bagaimana karakteristik musik Indonesia yang populer dibandingkan dengan lagu JKT48 dan juga bagaiman perbandingannya dengan lagu Rapsodi. Tidak semua pertanyaan dapat dijawab dengan analisis yang sederhana ini, tetapi saya berharap ada hal yang dapat diambil tulisan saya ini. Terima kasih karena telah membaca tulisan ini.

Apa yang Bisa Dilakukan Fans (Bonus!!!)

Banyak diatara kita, para fans, rasanya ingin ikut andil dalam membuat lagu Rapsodi masuk ke deretan top chart. Kalau begitu apa yang bisa kita lakukan? Bisa dengan cara-cara yang umum dilakukan dengan menonton MV-nya, membagikan link-nya, dsb. Itu salah satu cara yang bisa kita lakukan sebagai seorang fans. Namun, cara itu membosankan menurut saya (berapa banyak orang membuka link yang dibagikan di grup? Berapa banyak orang yang mendengarkan sebuah lagu setelah melihatnya di insta story? Ada, tapi tak sebanyak itu), jadi ada baiknya kita juga melakukan upaya tambahan.

Bukan hanya membagikan, lebih baik anda juga memperdengarkan lagu tersebut ke orang-orang. Anda seorang musisi yang sering tampil di cafe atau bar? Ya mainkan saja, seperti analisis saya sebelumnya lagu ini sejalan dengan selera umum masyarakat jadi tak ada salahnya, tak akan mengganggu. Berikutnya anda pergi berkaraoke bersama teman-teman nyanyikan lagu ini paling tidak sekali (saya menemukan beberapa lagu yang sekarang ada di playlist saya dari karaoke). Jangan lupa masukan lagu ini ke playlist perjalanan dalam mobil anda, sehingga ketika anda sedang dalam perjalanan dengan teman, keluarga, atau pacar, mereka ikut medengarkan lagu ini.

Ada satu hal lagi yang ingin saya sarankan untuk dilakukan, tetapi jujur saya tidak tahu apakah ini akan berhasil. Masih teringat dengan cerita lagu Plastic Love yang saya bahas sebelumnnya? Lagu tersebut meledak karena algoritma rekomendasi YouTube. Salah satu cara algoritma rekomendasi yang banyak digunakan saat ini adalah mengasosiasikan pengguna-pengguna yang memiliki karakteristik riwayat pemutaran Lagu/Video yang sama, lalu merekomendasikan produk yang disukai oleh pengguna lain dalam kelompok tersebut, algoritma ini dinamakan collaborative filtering, yang saya tahu banyak streaming platform menggunakan algoritma ini. Jadi saran saya adalah masukan lagu Rapsodi ke dalam playlist yang berisi lagu pop kesukaan kalian, lalu seperti playlist pada umumnya dengarkan playlist tersebut. Harapannya algoritma spotify merekomendasikan lagu ini kepada orang yang memiliki selera musik yang sama dengan anda dan ikut jatuh cinta denga rapsodi yang indah ini.

Share to everyone
Orangnya suka sok tahu, tapii yaudahlah yah. Music and Data Geek

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here