Kemarin saya beruntung bisa menyaksikan sedikit prosesi kelulusan Thalia Ivanka, member senior Tim T. Saya memang menonton dari layar kaca lobi teater saja. Selain karena keterbatasan waktu, kedatangan saya ketika itu memang bertujuan untuk merasakan langsung dan pertama kalinya proses pencopotan kabesha yang dilakukan anggota JKT48. Saya bisa katakan, pengalaman itu adalah pengalaman surreal, pengalaman yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Bahkan sebelum lagu Sakura no Hanabiratachi selesai dibawakan, lobi teater sudah diisi oleh orang-orang, meski tidak sebanyak last show Melody. Beberapa ada yang mengobrol, diam bersender di handrail, ada juga yang mendekat ke arah meja lobi untuk sekadar menonton atau membeli groupshot Tim T.

Lampu-lampu utama di lantai 4 mal fX Sudirman dan lantai-lantai lainnya telah dimatikan, tanda jika waktu sudah lewat dari jam operasional mal yang ditentukan. Suara-suara denting palu dan gergaji dari pekerja proyek di dalam mal sayup-sayup mengeras, menelan suara kasak-kusuk fans yang berlindung dari kegelapan mal di balik terangnya chandelier lobi teater.

Beberapa fans yang selesai melaksanakan hitouch keluar menuju lobi, pertunjukan terakhir Vanka telah selesai. Suasana yang tadinya terasa dingin, kini mulai menghangat. Fans yang dari awal sudah menunggu di depan lobi seperti menyambut fans-fans lain yang baru saja keluar dari ruangan teater. Mereka bertukar kata semangat, menanyakan kabar karena sudah lama tidak bertemu, bersalaman, dan berpelukan.

Saya membayangkan peristiwa tersebut seperti pesta perpisahan cum reuni, yang mengundang sahabat- sahabat dekat yang lama tidak bertemu. Tetapi ini beda. Peristiwa yang feels-nya sama, datang dari suatu pertunjukan di dalam pusat perbelanjaan yang telah tutup, oleh grup musik yang dianggap remeh dan direndahkan oleh kebanyakan orang.

Fanbase Vanka mungkin tidak main-main saat mempersiapkan proyek untuk kelulusan idolanya. Mereka membuat kaus limited edition, berkolaborasi dengan Kokumi dan Janji Jiwa, lalu menerbitkan zine Hello Vanka edisi terakhir, memberikan goodie bag berisi barang-barang collectible untuk anggota Tim T dan fans yang menonton, dan membuat foamboard bertuliskan VNK SELAMANYA untuk digunakan selama pertunjukan berlangsung.

Tapi setelah pertunjukan selesai, setelah semua cupsleeve Vanka yang melingkar manis di gelas Kokumi habis dibagikan, setelah fans-fans Vanka  merapikan foamboard dan membawanya ke luar teater, yang tersisa kini hanya tinggal kenangan. Beberapa fans Vanka yang saya ajak berbincang mengaku lega prosesi paling akhir dari kelulusan Vanka ini telah selesai. Namun berusaha lega pun tidak bisa menutupi raut penyesalan yang ada di wajah mereka. Ada beribu andai yang mengambang di pikiran jika mungkin saja, prosesi kelulusan Vanka seharusnya bisa lebih manis lagi.

Vanka keluar dari lorong teater dengan gaun dan langkah mantap. Wajahnya yang terlihat lelah berbanding terbalik dengan sikapnya yang penuh semangat; ia sesekali menyapa fans, tersenyum, dan mengirim gestur untuk para wotagrafer yang sedang mencari momen. Ia lalu mencopot kabesha dari dinding, berpose, pindah lalu ganti berpose bersama para fans, mengucapkan salam perpisahan dari megafon, dan kembali masuk ke dalam teater.

Selama saya menjadi fans, saya tidak pernah terlibat di dalam fanbase. Saya pikir, terlibat di dalam fanbase membutuhkan energi lebih, waktu lebih, dan saya bukan orang yang tepat untuk itu. Saya makin yakin ketika memahami bagaimana besarnya pengorbanan fanbase Vanka untuk membuat proyek mereka terealisasi. Saya pikir, masuk ke fanbase tidak sesederhana menjadi fans yang hanya datang dan menikmati paket lengkap JKT48. Di fanbase, Anda bisa mempertaruhkan segalanya; nama baik Anda, nama baik idola Anda, nama baik fanbase Anda. Seserius itu.

Vanka kembali keluar dari teater JKT48, kali ini ia mengenakan busana yang lebih kasual. Ia lalu diajak ke tengah  lobi teater oleh fansnya untuk berfoto. Pigura dan karangan bunga dari fans yang sebelumnya setia berdiri di depan poster setlist ikut dibawa sebagai penanda hari bahagia dan mengharukan ini. Dari kejauhan, saya melihat prosesi tersebut. Selayaknya sahabat yang mengambil foto bersama, Vanka tidak canggung berada di antara para fansnya. Mereka semua berganti pose, Vanka bahkan berlaku iseng dengan sesekali mendorong fans yang ada di depannya.

Ada rasa kagum sekaligus bingung, melihat interaksi tersebut dapat tercipta antara fans dengan idolanya. Di dalam teater mereka berbagi posisi dan dibatasi; fans duduk dengan manis, meneriakkan nama idolanya dengan kencang, ambyar ketika melihat idolanya menari atau menyanyi dengan begitu baik. Sedangkan idolanya berdiri di atas panggung, berusaha sebaik mungkin menari dan bernyanyi dengan baik agar fansnya terhibur.  Namun di luar teater, batasan tersebut seakan hilang, fans dan idolanya bisa menjadi sahabat, terlihat akrab, saling menguatkan, saling mendukung.

Hingga naskah ini selesai ditulis, saya masih menganggap pengalaman tersebut tidak nyata. Pengalaman tersebut ada di luar nalar berpikir saya.

Saya pulang buru-buru dari kedai kopi membawa banyak pertanyaan tentang fanbase dan JKT48, serta kekhawatiran jika hujan akan turun tiba-tiba. Di arteri Pondok Indah, hujan benar-benar turun. Saya menepikan motor di halte bus dan sejenak melihat waktu di ponsel yang telah menunjukkan pukul 1 pagi. Kemudian saya membuka Twitter dan mendapati Vanka berkicau tentang prosesi kelulusannya. Ia menulis seperti ini,

“Semuanya terima kasih hari ini. Senang sekali.. makasih udah bikin moment terakhirku jadi indah huhuh.”

Saya dan teman-teman di kedai kopi ketika itu sepakat jika fanbase Vanka telah menetapkan standar paling tinggi tentang proyek kelulusan anggota JKT48. Sampai naskah ini diterbitkan, masih ada enam anggota JKT48 lagi yang belum melaksanakan prosesi kelulusan di teater. Apa yang fanbase Vanka lakukan bisa saja memicu fanbase-fanbase lain untuk membuat sesuatu, atau hanya menjadi beban mereka saja.

Tetapi setelah saya membaca kicauan Vanka, saya pikir standar itu kini tidak relevan lagi. Selama idola kalian bahagia, selama ia berterima kasih atas kerja keras para fansnya, saya pikir para fans juga harus memberi nilai lebih kepada diri mereka sendiri.

Untuk fanbase Vanka dan fanbase-fanbase lain, terima kasih atas kerja kerasnya, juga ide-ide briliannya untuk membuat fandom ini terus bergelora. Selamat beristirahat dan sampai jumpa.

Share to everyone

1 KOMENTAR

  1. Salah satu yg saya sayangkan dan khawatirkan ketika vanka mengumumkan grad adalah, akan berkurangnya fanbase (yg menurut saya) paling solid, paling kreatif, gak banyak omong/gak banyak tingkah, tapi paling niat nunjukin kerja nyatanya di saat saat penting seperti ssk, rh, project ultah, sampai project last show

    Terima kasih vankastic, saya selalu bilang ke orang orang untuk menjadikan kalian sebagai teladan, contoh bagaimana harusnya sebuah fanbase itu bekerja/bersikap

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here