Overture

I miss her… I miss seeing her on the stage... Emang sih masih bisa liat di IG, IG Story, twitter, tiktok, dan sekarang podcast… Tapi ngga tau deh… Beda aja gitu rasanya… Beberapa bulan belakangan ini rasanya masih berbeda. Nonton theater belum seasik biasanya. Hari-hari masih kerasa kosong. Sepertinya saya memang belum move on dari grad-nya oshi saya.

Heavy Rotation

Btw… Kok masih aja yah mikirin beginian sementara negara lagi genting Corona….  Saya sendiri juga bingung. Mungkin ini efek domino dari beberapa kejadian belakangan ini. Pertama tentu saja keadaan masyarakat yang lagi berusaha memahami sebenernya seberapa gentingnya pandemi COVID-19. Mau gak mau orang pasti bingung mesti ngapain, dan adanya sesuatu yang konstan atau tetap atau familiar di hidup pasti sangat membantu membuat situasi sekarang ini lebih masuk akal. Sesuatu yang familiar itu buat saya ya theater. Tapi theater sekarang udah berbeda tanpa adanya dia. Mungkin seperti Man United tanpa Sir Alex. Hilang arah. Jadi ya paling tidak untuk saya pribadi, adanya pandemi ini dan “berubahnya” theater untuk saya setelah ditinggal member favorit saya membuat saya makin kangen. Kangen dia, dan kangen sesuatu yang familiar, yang bisa saya andalkan untuk membuat hari saya lebih baik.

Apalagi kemarin diumumkan kalau theater diliburkan dulu untuk sementara. Suatu keputusan tepat dan baik dari JOT untuk memastikan member, staff, dan fans sehat-sehat saja serta membantu mewujudkan social distancing yang diperlukan untuk menahan laju COVID-19. Namun tetap faktanya, satu konstan yang familiar hilang lagi.

Seesaw Game Penuh Air Mata

Kedua, diupload-nya video graduation Kyla dari Team T. Video ini lumayan memukul perasaan saya dengan nostalgia dan kesedihan karena memperlihatkan Fresh Peach dalam formasi lengkapnya membawakan Tunas di Balik Seragam yang sekarang hanya bagaikan mitos, diomongin di mana-mana tapi ngga ada wujudnya. Hanya dalam durasi 10 menitan saya seperti teringat kembali masa-masa sebelum show terakhirnya yang kebetulan saya juga ngga bisa sering datang. Sekarang timnya udah ngga ada, membernya udah banyak yang grad, dan yang masih di JKT, ada di tim lain, kembali membawakan setlist yang bukan punya mereka.

Rasanya sedih kalo inget-inget apa yang terjadi kemarin dan melihat video Team T yang sedang lengkap dan sedang “Fresh Peach – Fresh Peach“-nya sementara sekarang semuanya udah ngga ada, negara lagi pandemi, kehidupan juga mulai masuk fase baru dengan work from home, lockdown, social distancing, dll yang cukup merubah kebiasaan hidup orang banyak. Makin kangen. Makin nyari sesuatu yang familiar. Yang sayangnya untuk saat ini hanya ada di masa lalu. Ngga tau deh nanti bakal ngerasa apa pas video graduation dia yang tayang di kanal yutub JKT48… Mungkin udah kebal aja.

Musim Yang Selanjutnya

Ketiga, dan yang ini saya juga sebenernya bingung kenapa. Dengerin podcast dia. Semenjak grad member favorit saya ini udah tiga kali kayaknya muncul di podcast ngomongin macem-macem. Ada yang tentang hidup setelah grad, tentang cinta-cintaan, dan tentang 7 tahun karirnya di JKT48. Saya baru dengerin satu, yang tentang karirnya, dan kayaknya ngga mau denger yang lainnya. Kenapa? Karena baru denger satu aja saya udah dikelilingi perasaan sedih, hampa, dan rasanya belum cukup dukungan saya untuknya.

Sedikit rekap, di podcast yang berjudul Ngobrol Jarak Jauh ini, dia ngomongin tentang perasaannya selama dia berada di JKT48. Ada yang positif, ada yang negatif, yang pasti jujur dan lumayan ngebuka gimana sih sebenernya perasaan dia tentang SSK, Grad Show, Fake Acc, dll yang mungkin selama ini banyak dipertanyakan oleh saya atau sama temen-temen fans yang lain. It’s a good podcast session dan seneng bisa tau lebih banyak tentang jalan pikirannya. Tapi entah kenapa ada perasaan sedih yang pelan-pelan kerasa. Mungkin sedih karena ngedenger dia sempet sedih, nangis tiap malem karena masalahnya, rasanya seperti gagal ngasih dia dukungan. Rasanya pengen ngebuat pengalaman dia lebih menyenangkan lagi, tapi udah ngga bisa kayak dulu. Karena sekarang ya udah bukan dulu.

Sedihnya dia yang dulu ya udah lewat dan mungkin akan tetap terasa sampai sekarang. Dan ini mungkin konyol ya (alias kayaknya semua yang sudah saya tulis ini sebenernya konyol, tapi gpp) saya ngerasa adanya jarak yang hadir ketika statusnya sudah bukan lagi idol atau member JKT48. Ada beberapa kebiasaan yang sepertinya aneh atau tidak etis dilakukan tanpa adanya embel-embel kegiatan JKT48. Contoh gampangnya ya theater dan handshake festival alias bertemu muka dengan beliau. This changes everything. Ngga usah saya jabarkan kenapa ini aneh dilakukan tanpa adanya embel-embel kegiatan JKT48. Intinya, cara-cara yang bisa saya lakukan untuk mendukung dia berubah dan menurut saya menjadi lebih terbatas.

Jadi ya begitu tiga alasan kenapa beberapa hari ini rasa kangen saya membuncah dan seperti tak terhankan jadinya sampe nulis beginian. Trus untuk apa saya nulis ini? Entahlah… Mungkin hanya pengen ngeluarin aja supaya ngga tertahan di hati dan pikiran. Mungkin berharap ada yang merasa sama trus bareng-bareng sedih-sedih. Atau mungkin malah pengen ada yang ngomelin dan bilang semua ini konyol, merusak, dan gak akan ada habisnya? Yang jelas, dengan semua perubahan ini mulai dari graduation, bubarnya Team T, liburnya theater, sampai Corona, saya lumayan kehilangan sesuatu yang familiar yang bisa dipegang dan diandalkan untuk tetap hadir dihadapan apapun yang sedang terjadi di dalam hidup saya.

After Rain

Satu hal yang ingin saya tekankan dan merupakan alasan kenapa dari tadi saya ngga nyebut nama oshi saya walaupun mungkin sudah jelas siapa beliau, adalah karena ini bukan berarti saya kecewa ketika ia mengumumkan kelulusannya. Ia melakukannya untuk dirinya sendiri, untuk kebahagiannya, dan untuk masa depannya. Tidak ada yang salah dari hal tersebut, tidak ada yang egois dari hal tersebut. Ini adalah masalah saya yang belum bisa dan tidak bisa move on dari satu hal yang sudah bertahun-tahun menjadi sumber kebahagiaan saya. Tulisan ini adalah ungkapan keresahan saya yang sebenarnya tidak ingin merasa seperti ini, tapi sayangnya masih. Tanpa adanya nama beliau di tulisan ini semoga bisa membuat fokusnya bukan di dia, tapi di saya.

Pandemi Corona ini membuat banyak perubahan di hidup kita. Saya termasuk yang sangat beruntung masih bisa berpikir tentang situasi mental dan emosional saya yang berkaitan dengan satu entitas kebudayaan/hiburan seperti JKT48 di saat seperti ini. Sementara banyak yang masih harus berpikir kebutuhan pokok dulu sebelum sempet memikirkan kenapa ngga bisa move on dari grad-nya oshi. Mungkin ini cara muter-muter saya untuk bilang saya merasa konyol karena saya merasa sedih karena ngga bisa move on dari kelulusan oshi dan berbagai perubahan yang terjadi di kehidupan pribadi saya dalam 3-4 bulan terakhir ini.

Sayangnya, walaupun merasa konyol tapi perasaan ini benar adanya. Sedih ini benar adanya. Entah berapa orang yang udah saya whatsapp untuk cerita berulang kali tentang hal ini. Mereka bingung juga mau ngomong apa soalnya ya ngga ada apapun untuk dilakukan selain legowo. Legowo dan nrimo kalau sekarang udah ngga bisa lagi berperan langsung dalam kebahagiannya dan/atau karirnya. Yang sebenernya konyol juga karena sombong banget ngerasa punya peran dalam kebahagiaan dan/atau karirnya. Ha ha ha. Tapi ya itulah ego.

Kebahagian saya dulu adalah membuat dia bahagia. Seperti apa? Ya minimal ikut serta di pencapaian karirnya lah. Begitu saya ngga terlibat lagi di usahanya untuk meniti karir seperti sekarang, langsung merasa hampa dan kosong. Pada akhirnya saya sadar, dukungan saya kepadanya itu sebenernya ya keinginan saya untuk memuaskan ego saya yang merasa berhasil memberikannya sedikit kebahagiaan. Pusing ya muter-muter? Saya juga.

Pada intinya, pandemi Corona ini membuat saya berpikir banyak tentang semua yang familiar yang mulai berangsur-angsur berubah. Yang paling terpikir? Perasaan kangen dan sedih kepada oshi saya yang sudah lulus itu. Pathetic? Ya. Mengulang lagi kata kata di atas, entahlah apa yang ingin saya capai dengan tulisan ini. Mungkin cukup menjadi salah satu contoh efek samping dari fandom ini. Positif atau ngganya itu terserah pembaca aja. Paling tidak saya sudah menulis ini dan nanti ketika dibaca lagi bisa mengernyitkan kening dan bingung apa yang saya pikirkan saat ini.

Terima kasih untuk teman-teman yang masih membaca sampai sekarang. Semoga dalam masa-masa seperti ini, semua yang penting dan yang kalian sayang ada di dekat kalian.

Share to everyone

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here