Tahun Vivere Pericoloso, tahun-tahun yang penuh bahaya merupakan istilah yang dipopulerkan Bung Karno 1964 silam. Istilah tersebut muncul ketika beliau memaparkan bagaimana revolusi Indonesia yang terhambat ranjau-ranjau subversif bisa menjadi gagal.
Tepatlah jika Istilah tersebut kini dipakai untuk menggambarkan keadaan fandom JKT48. Tahun yang panas dan ramai, kalau bisa saya bilang seperti itu. Ceritanya banyak, theater yang sepi, janji-janji manajemen yang tidak kunjung ditepati, skandal-skandal, lulusnya member-member berprospek tinggi, hingga jual-beli tiket vote adalah bensin yang membuat deru fandom semakin bising. Tapi untuk yang terakhir ini, rekaman (curhat) terduga member yang merendahkan para fans patut digaris bawahi, berkali-kali.
Industri JKT48 bekerja memakai perasaan, afeksi fans sebagai modal para member untuk terus berkembang, makanya konsep “dukung terus idolamu” menjadi relevan dan terus disuarakan oleh fandom ini. Ketika segudang masalah didalam fandom JKT48 terjadi; dari theater sepi, kelakuan manajemen yang bikin geleng-geleng, dan skandal-skandal, selama hal tersebut tidak mengganggu proses afeksi antara fans dengan oshinya, industri akan terus berjalan.
Tetapi jika ada rekaman yang memperlihatkan bagaimana tidak sukanya member terhadap fansnya, dan muncul wacana jika semua member bersikap seperti itu, ya buyar kabeh. Afeksi yang telah dibangun bisa gagal karena apa faedahnya jika oshi yang fans dukung, menolak mentah-mentah dukungan tersebut.
Fans jadi bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana sih perasaan member JKT48 terhadap kita para fans, suka atau hanya sebatas teman? #yaelahbro
Idola dan Konsep Pertemanan
Untuk menjelaskannya, izinkan saya kembali memperkenalkan konsep idola, khususnya idola bagi Jepang sebagai negara yang mengekspor konsep JKT48 ke Indonesia. Idola merupakan kata serapan dari idol – yang menurut kamus Merriam-Webster merupakan; a representation or symbol of an object of worship; a form or appearance visible but without substance – definisi terakhir menjadi penting ketika saya akan menjelaskan JKT48 sebagai idola.
Apa yang dibayangkan fans tentang Melody JKT48? Wah orangnya ramah, begitu mengayomi junior-juniornya, kemampuan leadership-nya tinggi, agamis lagi. Ya, itu sifat Melody, tapi apakah benar seperti itu? Bukankah proses pertemuan fans dengan Melody sifatnya terbatas, termediasi oleh event JKT48, theater, dan video klip? Tidak ada yang tahu sifat asli Melody seperti apa.
Seperti definisi terakhir, idola adalah objek yang tampak, namun secara substansi kosong. Imaji para fans lah yang mengisi kekosongan tersebut, imaji tentang perempuan yang ramah, yang baik hatinya, agamis dll. imaji tersebut adalah hak masing-masing fans; seperti anak-anak UMN48 yang membayangkan zumba bersama Cinhap atau Jinan, atau TGPURNAMA yang bermain smash or pass dan memilih member sebagai istri atau pacar, itu privelese fans dan saya akui, hal tersebut adalah keseruan utama terlibat dalam hobi ini (selain komunitasnya yang juga asyik).
Sudah seharunya fans dibuat nyaman oleh idolanya. Karena itu Jepang mendesain idola sebagai quasi-companion, istilahnya Jepang memakai idola untuk memperkenalkan nilai-nilai luhur masyarakat, seperti kerja keras dan rendah hati. Maka idola adalah teman atau rekan yang digunakan untuk membimbing masyarakat menuntaskan masa remaja mereka. Ini salah satu alasan kenapa banyak idola (termasuk JKT48) memakai konsep sekolah, lengkap dengan seragamnya.
Kedekatan bukan berarti tanpa batasan, fans harus sadar bahwasanya idola adalah manusia juga. Diluar pekerjaan mereka sebagai idola, mereka memiliki kebebasan selayaknya manusia biasa dan privasi untuk sama-sama kita hormati.
Saya adalah salah satu fans yang memiliki pikiran ekstrem. Bagi saya, hubungan saya dengan oshi hanya terbatas dalam theater, atau event-event JKT48 lainnya, diluar itu, saya dan dia adalah orang asing, dan ketika berpapasan di mall atau tempat lainnya, saya menahan diri untuk tidak menyapanya.
Saya sepakat, pandangan Bang Emil perihal kerja keras member JKT48 dalam memberikan performa terbaik adalah fakta dan cukup membuat fans JKT48 respek terhadap idolanya. Tetapi bagi saya, kehadiran rekaman-rekaman tersebut, yang jika dibiarkan terus-menerus bisa merusak kesenangan dalam fandom ini.
Saya menganalogikan fandom JKT48 seperti menonton dalam bioskop. Ketika orang-orang sedang sibuk dengan imajinasinya masing-masing, tiba-tiba ada orang yang meneriakkan spoiler. Meski hal tersebut nantinya terjadi atau tidak, spoiler itu yang merusak kesenangan para penonton, dan sudah pasti pelaku spoiler tersebut selayaknya digiring ke luar bioskop. Nah kalau yang spoiler itu petugas bioskopnya sendiri bagaimana?
*Untuk diskusi lebih lanjut bisa komentar di bawah artikel ini, atau hubungi saya di akun twitter @xpajonx – salam.
Sumber Foto : Twitter
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 31 Oktober 2017. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.