GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Beban Berat Melody
Hobbies/JKT48

Beban Berat Melody

ragetegar

Sebatang rokok saya hisap dalam-dalam. Asapnya yang malu-malu mengambang diantara senda-gurau saya dan kawan-kawan sore itu. Di fX, di tangga yang langsung mengarah ke trotoar Jl. Sudirman adalah tempat kami biasa bersua, menunggu undian bingo teater JKT48 bertajuk “Pajama Drive” dimulai.

Saya berdiri, memunggungi jalan besar selagi mendengarkan kawan berbicara tentang apa saja, waro dan segala tetek bengek fandom JKT48. Tiba-tiba kawan yang sedari tadi sibuk berbicara, terkesiap lalu menyapa,

                “Teteeh,” ucapnya dengan nada yang paling halus.

Karena saya berdiri di tengah tangga, sontak saya langsung berbalik badan seraya memberi jalan. Melody lewat, persis sebelah saya dan tidak ada kata apapun yang keluar diantaranya. Hanya senyum simpul, aroma AC mobil, dan tinggi yang tidak lebih dari pundak itu bisa saya cerna. Sisanya adalah gambar kabur yang sudah lima tahun sampai sekarang tidak bisa dicari lagi.

Undian bingo sebentar lagi akan dimulai dan Melody baru saja masuk ke dalam mal. Kecurigaan kami ketika itu; Melody dari Bandung dan turun di depan fX menggunakan bus travel, entah kuliah atau apa. Yang pasti, dia terlihat begitu terburu-buru. Cerita selanjutnya adalah saya yang menjadi bulan-bulanan kawan-kawan karena hanya bisa berdiri mematung melihat Melody berjalan.

Bermodalkan sebuah kecurigaan, saya masuk ke dalam teater JKT48. Saya pikir adalah wajar jika Melody hari itu tidak bisa menampilkan performa terbaiknya. Perjalanan Bandung-Jakarta, terlebih jika dia baru saja pulang kuliah, telat sampai, dan buru-buru memasang dandan untuk tampil di depan penggemarnya. Pikiran-pikiran tersebut menimbun ekspektasi tinggi saya sore itu.

Namun siapa sangka, selama lebih dari satu jam pertunjukan berjalan, pandangan saya tidak bisa dilepaskan dari sosok yang tadi membuat saya diam terpaku. Dia begitu enerjik, dia begitu menyenangkan. Dia adalah Melody, perempuan yang berulang kali mematahkan pandangan remeh tentangnya dan JKT48.

Jauh melampaui beban, dia membagi waktu antara kuliah di Bandung dan menari di Jakarta (yang tentu saja tidak mudah!). Ada beban lebih berat yang harus dipikul Melody. Beban ini adalah membawa nama JKT48 dari tahun pertama mereka berdiri hingga enam tahun terakhir kini. Dan telah menjadikan Melody sebagai sosok primus inter pares, yang paling unggul diantara sesamanya.

Sebutan tersebut bagi saya, jika boleh berargumen sebenarnya adalah semacam keputusan berisiko yang dibuat manajemen. Karena jika saya berkaca dari AKB48, figur yang membawa grup idola tersebut dianalogikan sebagai tiang kembar yang menyangga teater, dua orang yang saling berbagi tugas dan peran.

Di AKB48, figur tersebut tentu adalah Acchan dan Takamina. Acchan adalah wajah AKB48 yang muncul dimana-mana, sedangkan Takamina menjadi leader yang cekatan dan tegas, sembari mendorong AKB48 sebagai grup untuk terus berkembang. Muaranya jelas, Acchan diberikan hadiah kelulusan berupa konser monumental bertajuk “1830m no Yoru” di Tokyo Dome, Takamina di waktu yang sama, diberikan tugas sebagai General Manager AKB48.

Namun hal yang sama tidak terjadi di JKT48. Melody seakan memegang dua peran tersebut sendirian; mulai dari menjadi wajah JKT48, muncul di berbagai media, membuat orang awam mengenalnya lebih dari JKT48 itu sendiri. Hingga menjadi leader, GM yang mengurusi dan mengayomi member-member lainnya, perempuan yang peduli, yang kicauan anehnya di Twitter selalu dikaitkan fans dengan masalah besar yang akan menimpa JKT48.

Jadi kepada siapa seharusnya Melody berbagi peran? Opini ini sangat bisa diperdebatkan, namun jika mengubek-ngubek arsip digital 2012, pilihan seakan jatuh kepada sosok bernama Cleo. Dia adalah anggota yang diproyeksikan manajemen untuk menjadi wajah JKT48 di masa depan. Sayangnya Cleo tiba-tiba mengundurkan diri dari JKT48 pada Desember 2012, hanya terpaut setahun jika dihitung dari debut JKT48 di 100% Ampuh akhir 2011.

Namun demikian, undur dirinya Cleo pun tidak bisa dikatakan membuat JKT48 pincang. Dan bukti-bukti sahih untuk meyakinkan diri bahwa Cleo adalah wajah JKT48 juga tidak banyak tersedia. Alih-alih, wajah JKT48 sedari awal sudah menjadi milik Melody, semua tentu tahu jika dia yang diposisikan sebagai center dalam singel perdana JKT48, Heavy Rotation. Bukan Cleo, bukan Shania, bukan juga Nabilah.

Maka ketimbang berpikir jika strategi paling dasar di grup 48 adalah membagi peran wajah dan leader ke dua orang. Di JKT48, strategi yang sama tidak berlaku karena sudah dari awal manajemen memutuskan untuk mempercayakan semuanya kepada Melody.

Manajemen mempercayakan semuanya kepada Melody tentu bukan tanpa alasan. Dari semua lini; leadership, public speaking, dan performa di atas panggung, Melody hampir tidak ada cela. Menjadi jelas jika sedikit sekali orang yang keberatan soal di-push­-nya Melody oleh manajemen. Kalaupun ada, bisa saya pastikan orang tersebut belum pernah menyaksikan Melody secara langsung, misalnya saja dari baris satu teater karena jika saya boleh beri tahu, itu adalah salah satu pengalaman paling mendebarkan dalam hidup saya.

Sampai saat ini, Melody masih memegang dua peranan; menjadi wajah dan menjadi leader, sesuatu yang sampai sekarang sangat sukses dia lakukan. Memegang dua peranan ini tentu saja bukan perkara mudah, keduanya seakan kontradiktif; menjadi wajah adalah media darling, tampil tanpa cela di televisi, dijadikan panutan member muda, dihormati member satu generasi. Sebaliknya leader harus siap untuk tidak disorot, dengan penampilan di televisi yang lebih cenderung comical, ini jika saya berkaca kepada Takamina.

Dengan demikian, Melody begitu menyerupai Takamina, menjadi tidak mengagetkan jika banyak member yang mengatakan bahwa Melody begitu galak, namun terkadang postur tubuh dan umurnya juga tidak lepas dari gurauan member-member lain, yang bahkan secara generasi berada dibawahnya. Namun Melody sebagai center, dia juga harus siap tampil dengan persona berwibawa yang dihormati, membuat orang yakin jika dia adalah ujung tombak JKT48.

Menjadi leader berarti harus memahami banyak kepala, bersikap menengahi jika ada konflik yang terjadi, tegas dan kadang harus siap dimusuhi. Menjadi center sebaliknya, harus siap mengunyah porsi latihan lebih banyak dari yang lain, terkadang harus egois mempertahankan posisi yang sudah dipercayakan oleh manajemen, anggota-anggota lain, dan juga fans. Keduanya, saya tidak tahu ternyata bisa dilakukan dengan baik oleh satu orang.

Maka demikian untuk 24 Maret nanti, saya tidak bisa berkata apa-apa selain berterimakasih atas kerja keras yang telah dia lakukan dan pengorbanannya. Yang paling penting, senyum dan energinya di atas panggung selama enam tahun belakangan ini telah banyak menginspirasi ribuan pasang mata, bahwa istilah “usaha keras itu tak akan mengkhianati” itu nyata dan tidak sekadar bait pemanis dalam sebuah lagu.

Otsukaresama dan Adieu Teh..

***

P.S: Menjadi terlalu dominan bukan berarti tanpa masalah. Di tulisan berikutnya “Mewariskan Baton Impian”, saya akan membahas bagaimana JKT48 sepeninggal Melody dan siapa-siapa yang layak untuk menggantikan posisinya untuk membawa JKT48 lebih jauh lagi.


Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 5 Maret 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...