Ia menghempaskan tubuhnya yang kecil di sofa depan teras rumah. Rambut panjangnya acak berantakan menutupi wajah dengan pipi yang menggembung sedih. Ah. Gadis itu mendesah sekali dan menghela napas panjang.
Saat hati tulusnya hampir sirna, suara piring beradu terdengar lima kali. Tukang bubur berangkat ke peraduannya. Gadis itu belum lapar, namun selalu ada alasan yang membuatnya merindukan semangkuk bubur di pagi hari.
Kecintaannya terhadap bubur seperti menyesap kopi bukan karena haus. Tanpa alasan, tetapi memiliki arti. Gadis itu tersenyum. Ia menemukan kembali seutas motivasi yang nyaris habis.
Dipanggilnya tukang bubur itu dan dipesannya semangkuk bubur kerinduan. Gadis itu sudah memangku biolanya di depan kamera yang telah menyala. Ia tertawa canggung, sebentar kemudian memperkenalkan diri dengan senyum terbaik.
Nama gadis itu adalah Graciella Ruth Wiranto, Ciel JKT48.
Musisi Cilik yang Masih Pemalu
Ciel. Kata apakah yang terlintas di benak kepala saat mendengar nama itu? Mari bersepakat jika pipi chubby adalah jawaban yang tepat dari kuis singkat ini.
JKT48 harus menunggu Ciel berusia 14 tahun agar bisa “menculiknya”. Si cengeng penyuka film horor ini punya kemahiran dalam memainkan alat musik, terutama biola.
“Hobi aku memainkan alat musik biola dan mengarang lagu. Aku ini orangnya ceria, aku juga orangnya gampang bersosialisasi dengan teman baru, dan juga aku orangnya gampang menangis. Kalau ada orang yang sedih pasti aku bakal ikutan sedih dan juga kalau aku lagi nonton film yang sedih pasti aku akan sedih tapi sedihnya sampai berhari-hari.”
“Motivasi aku masuk JKT48, dari dulu aku suka banget sama mereka. Aku juga ingin jadi sama kayak mereka, ingin jadi idol, tapi karena waktu kecil aku belum cukup umur, jadi aku belum bisa daftar. Dan, sekarang umur aku sudah 14 dan aku bisa mendaftar JKT48, dan akhirnya lolos,” kata Graciella Rut Wiranto dikutip dari video profilnya di Youtube.
Gadis yang disapa Grace di sekolah itu pertama kali belajar biola empat tahun lalu ketika kelas 5 SD. Pada awalnya, Ciel tidak memiliki ketertarikan dengan alat musik gesek tersebut selain karena alasan bergaya-gaya di hadapan teman sebaya. Pelajaran not balok berkelok yang diajarkan gurunya tidak pernah ia baca meski tetap berusaha dihafalkan. Rupanya rasa malas itu mengasah gairah musikalitas Ciel sampai akhirnya mencintai permainan biola.
Semasa menyukai JKT48 sebagai penggemar, Ciel pernah membuat cover lagu “Heart Gata Virus” dan mengunggahnya lewat Instagram. Saat audisi, gadis berdarah Sunda ini menyanyikan lagu galau berjudul “You Are My Sunshine” oleh Moira Dela Torre dari original sound track drama komedi romantis Filipina alih-alih membawakan lagu “Me, Myself, and I” yang tidak cocok dengan kepribadiannya. Rasa bermusik Ciel yang tinggi membuat selera musiknya terbilang unik. Belakangan ini, ia sedang menyukai lagu-lagu dari Marina and the Diamonds, terutama “Primadona”.
Selain itu, Ciel juga bisa mengarang lagu. Sosok berzodiak Pisces ini pernah membagi not lagu ciptaannya yang pertama berjudul “Waktu” di Twitter. Lagu tersebut ia buat pada tahun 2017 silam. Ciel sempat akan mengunggah mix cover biola dan gitar lagu klasik “Canon in D” dari Johann Pachelbel pada bulan Juni 2018, tetapi kendala teknis menggagalkan rencananya tersebut. Ia berkeinginan untuk memulai kembali proyek musiknya, namun wacana tersebut kali ini terbentur soal malu dan waktu.
“Dulu, aku itu termasuk orang yang takut untuk mencoba hal baru. Aku selalu berpikir, kalau kesempatan yang aku ambil itu nggak akan berhasil padahal itu salah. Kalau aku berusaha keras dan berpikir optimis, pasti semuanya aan berjalan dengan baik,” ungkapnya dalam video kampanye Pemilihan Member Single ke-20 JKT48 di Youtube bertema “My First Chance”.
Ciel hingga kini masih duduk manis di JKT48 Academy Class A. Awal perjalanan kariernya sebagai idola menemui jalan terjal sejak pertama kali bergabung pada 15 April 2018. Ketika menjalani ujian tahap pertama pada tanggal 23 Mei 2018 bersama Erika Ebisawa Kuswan, Putri Cahyaning Anggraini, Shalza Grasita, dan Amanda Priscella sebagai siswi Academy Class B, ia satu-satunya yang tidak lolos kala itu. Sakit. Kecewa. Akan tetapi, Ciel kembali bangkit dan lulus ujian remedial bersama Riska Amelia, Erika Sintia, dan Anastasya Narwastu ke tahap kedua pada 7 Juni 2018.
Setelah naik tingkat ke Academy Class A, Ciel baru menjalani debut teater pada 4 September 2018 di pertujukan Tadaima Renaichuu oleh JKT48 tim J dan membawakan unit song 7ji 12fun no Hatsukoi. Menurut rekap fanbase Ciellaster per 25 Desember 2018, gadis yang bercita-cita menjadi agen penyelamat hewan World Wildlife Fund (WWF) itu telah tampil sebanyak 4 pertunjukan teater dan 31 penampilan zenza girls. Sebagai salah satu siswi akademi, Ciel sudah banyak memanggung di acara-acara besar luar kota sepanjang tahun 2018, seperti Closing Ceremony Asian Games 2018 di Palembang (2 September), Pensi SMA 67 Jakarta (27 Oktober), dan Yogya Rotary Institute Cultural Night di Candi Prambanan (1 Desember).
Ciel saat ini harus bersaing ketat dengan anggota-anggota baru JKT48 generasi 7 yang tidak kalah menjual dan menggemaskan. Bukan tidak mungkin, ia bisa tersalip perlahan oleh para juniornya yang berumur selisih tidak terlampau jauh. Akan tetapi, JKT48 seyogianya agensi bakat membuka gerbang kesempatan di berbagai bidang, seperti akustik, band, dance, komedi, dan e-sports. Peluang terbentang luas bagi mereka yang membuka mata, bahwa JKT48 merupakan jembatan harapan, bukan terowongan searah yang memaksa untuk diam terpaku atau lurus membisu. Dan, bagi Ciel, cinta dalam semangkuk bubur akan menjadi pelipur yang selalu hangat meski disantap tanpa rasa lapar.
Persona Idola, Sulitnya Menjadi Diri Sendiri
JKT48 generasi 6 mendarat di bumi setelah menempuh perjalanan waktu yang membingungkan. Mereka datang seperti alien, mengejutkan walau penampakannya tidak henti-hentinya dinanti.
Para gadis belia ini rata-rata berusia 16 tahun dengan ambang kelahiran berkisar tahun 2000. Candaan anak dibawah umur selalu ramai menakuti kekhawatiran para penggemar. Guyonan soal penggerebekan polisi dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) hingga bawa-bawa sosok Seto Mulyadi berulang kali diproduksi dengan tawa yang riuh rendah.
Dengan tanggal lahir 7 Oktober 2004, Shalza Grasita berpredikat sebagai member termuda di JKT48 generasi 6. Jikoshoukai bertema lagu satu-satu aku sayang ibu kian memperkuat persona anak kecil gadis berzodiak Libra itu.
Di sisi lain, Graciella Ruth Wiranto tidak jauh menyelisihinya perkara usia. Ciel lahir di tahun yang sama pada tanggal 5 Maret 2004. Akan tetapi, persona anak kecil dengan segala ninuninuninu itu tidak terpatri dalam diri Ciel.
Tidak heran apabila Ciel disebut kurang memiliki bakat loli. Ia punya penampilan yang dewasa untuk gadis seusianya. Hal itu tak mengapa karena persona tidak bisa dipaksakan. Namun demikian, persona adalah jenama atau brand yang melekat dalam ingatan penggemar. Mereka akan menilai ketertarikan berdasarkan ukuran sejumlah frame yang saling terbentur dengan pelbagai macam faktor, seperti persamaan hobi, kemiripan sosok, kecantikan atau fisik, dorongan lingkungan pertemanan, kemampuan dance, religiusitas atau agama, dan ekonomi atau keturunan.
Persona idola tidak menempel seutuhnya. Ada yang memasangnya sebagai topeng, ada pula yang masih mencari diperjalanan adaptasi waktu. Salah satu contoh, Jinan Safa Safira dulunya dikenal sebagai sosok yang super judes. Akan tetapi, ia kini menjelma gadis anggun yang feminin.
Jinan mengaku metamorfosis itu terjadi karena adaptasi waktu. Pada awalnya, gadis Gemini ini kurang mengerti mengenai cara menjadi idola. Hal tersebut membuatnya lebih banyak diam sehingga menimbulkan kesan judes. Setelah lama di JKT48 dan memahami hakikat seorang idola, Jinan mulai merasa nyaman sehingga secara alamiah mengubah personanya menjadi feminin.
“Sebenarnya nggak sok lucu juga (sekarang). Dan kenapa dulu judes karena lebih banyak diam, soalnya nggak tahu harus gimana jadi idol itu, jadi kesannya judes itu tadi padahal nggak. Sekarang sudah mengerti jadi idol, jadi lebih enjoy saja, gitu,” ungkap Jinan Safa Safira saat ditanyai langsung di Everyday Kachuusa/UZA Handshake Festival pada Sabtu, 29 September 2018, di Menara 165 Cilandak, Jakarta Selatan.
Senada dengan Jinan, Michelle Christo Kusnadi turut mengutarakan permasalahannya perihal persona sebagai anggota JKT48. Selama dua tahun awal kariernya sebagai idola, Michelle mengaku telah menutupi karakter aslinya.
“Selama dua tahun yang lalu, sebelum aku masuk tim J, aku selalu menutupi diri aku sebenarnya siapa. Aku selalu mempercayai orang-orang yang ngomong jelek tentang aku. Tapi, karena aku tahu di luar sana masih banyak yang sayang sama aku, aku masih bertahan di sini.”
“Maka dari itu, saat ulang tahun kemarin aku bilang aku tidak mau ada topeng di antara aku dan kalian. Maka dari itu, aku (mau) kasih tahu kalau inilah Michelle yang seperti ini, Michelle yang kepo, ambisius, blak-blakan, dan apa adanya,” ujar Michelle Christo Kusnadi dalam acara Pemilihan Member Single ke-20 JKT48 pada 17 November 2018 di Ballroom Sleman City Hall, Yogyakarta.
Persona idola itu menjadi diri sendiri atau memenuhi ekspektasi. Berat, mengekang, dikoyak-koyak keterpaksaan. Yang paling nyaman adalah mau menerima idola apa adanya, sejujur-jujurnya walau pahit di kening sulit dikenang.
Dengan segala pembahasan soal persona, Ciel hanya perlu waktu meramu cara-cara jitu untuk membujuk rayu serdadu perindu. Bermusik adalah peluang asyik terbesarnya alih-alih masih malu-malu mau menjadi musisi cilik JKT48. Ia juga enggan tahu kalau mengaku-ngaku adik lucu bukanlah pilihan yang keliru.
Menyitir tulisan Haruki Murakami dalam Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage, meski bakat bisa menciptakan loncatan jiwa yang mengagumkan, Ciel harus tahu bahwa tanpa didukung konsentrasi dan kesadaran yang teguh, bakat juga bisa dengan mudah lenyap.
Image:Twitter
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 31 Desember 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.