GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Cinta 120 Ribu Perak
Hobbies/JKT48

Cinta 120 Ribu Perak

ragetegar

Theodore pulang ke apartemen dalam keadaan hancur. Tidak, dia tidak mendapatkan musibah. Hanya saja, Theodore merasa hidupnya hari-hari belakangan ini begitu kosong. Untuk mengisi kekosongan tersebut, dia lalu membeli sistem operasi (OS) dengan kecerdasan buatan yang bisa menjalankan percakapan seperti manusia. OS tersebut menamakan dirinya Samantha.

Her (2013) garapan Spike Jonze membeberkan kisah percintaan manusia era modern. Kita membayangkan cinta hanya bisa terjalin antara sesama manusia, laki-laki dan perempuan, yang saling menyimpan perasaan intim satu sama lain. Di dalam film, teknologi dan kehidupan super sibuk menjadikan cinta dalam artian hubungan romantis, tidak lagi terikat dengan nilai-nilai normatif tersebut. Theodore mencintai Samantha, begitu sebaliknya.

Hidup terlalu melelahkan dan berkat teknologi, kita bisa memangkas hal-hal melelahkan tersebut untuk lebih fokus kepada hal-hal yang menurut kita lebih penting. Kita memangkas waktu membeli makanan, hanya menggunakan aplikasi dan makanan tersebut tiba. Kita memangkas waktu pergi ke tempat les, karena kini kita bisa melakukannya melalui medium streaming. Tapi apakah mungkin, kita bisa merasakan cinta tanpa harus merasakan pertemuan?

Filsuf kesohor Slavoj Žižek bertanya mengapa proses mencintai sering disebut dengan “jatuh cinta”. Menurutnya, untuk mencintai, orang terlebih dahulu harus ‘terjatuh’. Dengan ‘terjatuh’, orang bertemu dengan pasangannya, pertemuan dramatik yang mungkin saja bisa mengubah kehidupan orang tersebut, baik atau buruk.

Lalu muncul aplikasi kencan online. Di mana aplikasi tersebut, mengutip Žižek, “menawarkan kita bagaimana cinta tanpa harus terjatuh, tanpa pertemuan tidak terduga.”

“Temuan itu yang membuat saya sangat sedih,” ujar Žižek, “saya pikir hari ini, kita hanya lebih takut untuk pertemuan-pertemuan tersebut.”

Žižek ada benarnya. Kehidupan mungkin membuat kita takut untuk jatuh cinta. Takut ditolak misalnya. Aplikasi kencan online yang menjodohkan penggunanya berdasarkan preferensi masing-masing sebelum pengguna tersebut memutuskan untuk bertemu, mencoba untuk meminimalisir proses ‘jatuh’ tersebut.

JKT48 hadir salah satunya juga untuk meminimalisir proses ‘jatuhnya’ seseorang yang ingin mencintai. Lewat sejumlah materi, kita memangkas proses ‘jatuh’ tersebut untuk mendapatkan afeksi dan keintiman dari idola yang kita inginkan.

“Idola tidak pernah mengatakan tidak,” kata Hiroshi Aoyagi, antropolog yang mengamati fenomena idola Jepang pasca perang. “Tidak seperti pasangan di dunia nyata, yang darinya bisa tumbuh konflik dan perpisahan, idola selalu tersenyum dan tampil menyenangkan. Idola tidak pernah menolak siapa pun yang mendekati mereka. Tentu saja, ketika hubungan tersebut berada dalam lingkup profesional.”

Fans rela merogoh kantong 120 ribu perak untuk menonton Teater. Di dalam teater idola akan tersenyum, melambai kepada fans, dan berusaha sekuat mungkin untuk membuat fans itu bahagia. Fans yang melihat usaha tersebut, mungkin tidak sekali, tapi berulang kali, tumbuhlah itu perasaan cinta, ada keinginan yang kuat untuk membuat idola tersebut sukses di depan matanya.

Di dalam Teater, kita dalam batas sewajarnya dipersilakan menyemangati, atau menasehati idola kita. Dengan senang hati idola kita akan mendengarkan semangat dan nasehat tersebut. Tapi di luar teater, respon yang kita inginkan belum tentu terjadi. Kita bisa saja kecewa karena respon idola kita tidak sesuai ekspektasi.

Cinta antara fans dan idolanya memang terdengar artifisial. Fans yang paham soal ini mungkin tidak terlalu kecewa idolanya tidak sesuai harapan. Tetapi fans yang belum paham ingin jika idolanya selalu sesuai dengan kemauan mereka, 1×24 jam.

Pasti berat ya menjadi idola di era sekarang. Tugasnya membuat bahagia fans tidak selesai di dalam teater saja, tetapi di media sosial pun, idola harus membuat kita bahagia.

Ketika Theodore berkencan dengan Samantha, dia bahagia. Samantha, kecerdasan buatan yang hadir dalam bentuk sistem operasi dan suara, membuat hidup Theodore tidak pernah sehampa dulu lagi. Hubungan Theodore dan Samantha juga terdengar artifisial, tetapi dari itu kita diingatkan jika perasaan bahagia yang muncul, akan selalu nyata.

Saya belum menonton bagian akhir dari Her. Saya khawatir, perjalanan cinta Theodore dan Samantha yang indah harus diakhiri oleh pandangan kolot jika cinta harus begini, harus begitu. Karena saya percaya, selama kita bahagia, cinta akan tumbuh dengan sendirinya.


Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 31 Juli 2019. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...