Kamu pernah melihat bunga matahari secara langsung? Memegangnya? Aku tidak pernah selain memakan kwaci yang juga sampai saat ini masih aku ragukan asal mulanya sebagai ‘biji bunga matahari’. Ingatanku tentang bunga matahari praktis hanya dibangun oleh produk-produk budaya populer.
Jauh sebelum Rich Chigga bersantai, menghisap cerutu di atas hamparan kebun bunga matahari, generasi dua JKT48 sudah melakukan hal tersebut; mereka bahkan menjadi bunga matahari itu sendiri, merentangkan tangan seperti bunga matahari yang tertiup angin, menghadap matahari, bertumbuh dan mekar.
Aku tidak pernah melihat bunga matahari secara langsung. Tapi aku pernah melihat generasi dua, aku pernah bersalaman dengan mereka ketika mereka masih menjadi trainee, membawakan setlist Pajama Drive. Jika biasanya selepas teater ada sesi hi-touch, mereka menggelar sesi salaman, Ketika generasi satu menerima hadiah dari para fans, generasi dua cuma-cuma memberikan para fans cinderamata atau kue kering lengkap dengan pesan-pesan semangat.
Kelahiran generasi dua bisa dibilang tidak terlalu menyenangkan. Mereka hadir ketika basis penggemar generasi satu mulai solid. Kehadiran mereka adalah ancaman, setidaknya bagi para fans ketika itu. Kini mereka adalah generasi yang memiliki semangat juang paling tinggi dari generasi lainnya; persentase kelulusan generasi dua menjadi yang paling rendah. Mereka pernah mengadakan konser tunggal Tim KIII (mayoritas generasi dua), mereka membuat vlog #JanganKasihK3ndor, terlibat dalam pembentukan sub-unit, lengkap dengan usaha Viny mendaki gunung Semeru adalah sekelumit hal yang mereka lakukan untuk meyakinkan fans jika mereka ada.
Generasi dua memang menyadari posisi mereka begitu sulit. Mereka tidak akan pernah menjadi pionir karena selalu ada generasi satu didepannya. Sedang untuk membawa panji zaman baru, ada generasi tiga, empat, dan lima yang lebih muda dan menyegarkan, jalan satu-satunya ya berusaha lebih keras.
Tetapi di balik sebuah rintangan, selalu ada doa teriring, sebagai pengingat dan penyemangat. Generasi dua adalah generasi yang dipercaya untuk membawakan pertama kali setlist ‘angker’ bertajuk Boku No Taiyou, dan mereka berhasil! Setlist ini mengubah pandangan mayoritas fans tentang kehadiran generasi dua, Boku No Taiyou menjadi modal utama generasi dua untuk bersaing dengan generasi satu.
Aku mengatakan Boku No Taiyou ‘angker’ karena setlist ini menyimpan banyak cerita di baliknya. Setlist ini pertama dibawakan Himawarigumi – tim temporer gabungan Tim A dan Tim K AKB48 yang dibentuk Yasushi Akimoto untuk meredakan konflik antar kedua tim, tentu ada pesan persatuan di balik lagu-lagu tersebut.
Boku No Taiyou lalu dibawakan tim favoritku di AKB48, Tim 4. Berisi generasi sembilan yang disebut-sebut sebagai “generasi emas” dan generasi sepuluh, Tim 4 terbentuk dan menjadi penanda keluarnya AKB48 dari pakem “tiga tim, satu trainee”. Oba Mina dkk memang promosi dalam waktu yang relatif cepat, namun karena tidak ada slot tim yang tersedia, Tim 4 akhirnya dibentuk. Sayangnya sebagai kapten, Oba Mina harus absen dalam shonichi karena terlibat skandal, posisi kapten sementara harus digantikan Shimada Haruka. Lalu ketika mereka harus berpisah karena ada grand reshuffle pada 2012, di tengah panggung Tokyo Dome yang megah, Oba Mina bersama anggota Tim 4 menyanyikan “Boku No Taiyou” sambil terisak dan menahan tangis, untuk terakhir kalinya. 😦
Maka aku percaya Total Producer Yasushi Akimoto memiliki alasan khusus mengenai dipilihnya Boku No Taiyou sebagai setlist pertama generasi dua (atau Tim KIII). Dalam sebuah wawancara yang dikutip Hai ketika final audisi generasi dua, Akimoto berujar,
“Pada hari ini saya telah bertemu dengan 31 finalis, dan bertemu dengan 31 batu permata. Ke-31 peserta memiliki daya tarik masing-masing, sehingga saya memutuskan untuk memercayai mereka. Kalian adalah biji dari bunga. Saya sudah tidak sabar melihat di masa yang akan datang ketika tumbuh daun, akan menjadi bunga seperti apa. Saya berharap kalian dapat memekarkan bunga sesuai dirinya masing-masing, teruslah berusaha.”
Bunga yang tumbuh dan mekar adalah semangat yang sesuai dengan setlist Boku No Taiyou. Lebih dari itu, aku yakin jika generasi dua memang layak mendapatkan setlist ini. Seperti anggota Himawarigumi dan Tim 4, setlist Boku No Taiyou adalah doa penyemangat bagi mereka.
Cobaan terberat generasi dua yang paling dekat adalah Senbatsu Sousenkyo. Setelah persaingan antara Veranda dengan Melody, juga Haruka dari generasi satu usai, pemilihan kemarin yang bertajuk “Zaman Baru” menobatkan Shani Indira Natio, anggota generasi tiga yang menunjukkan perkembangan sangat pesat. Naiknya Shani berarti melompati generasi dua, membuat generasi ini sulit meraih mahkota Senbatsu, sulit tapi bukan hal mustahil.
Tulisan ini sejatinya adalah bentuk dukunganku terhadap anggota generasi dua, generasi yang kuat, generasi yang solid, #Generasi2uper. Besok (07/08) menjadi peringatan ulang tahun teater dan pertunjukan kalian, bersenang-senanglah. Akan sangat menyenangkan jika ternyata, setlist yang nanti kalian mainkan adalah Boku No Taiyou. Setlist ini adalah setlist terbaik. Dan ada untuk tim dan generasi terbaik, maka ketika kalian menghadapi sebuah rintangan atau cobaan, ingat jika ada doa bunga matahari, yakin bahwa dibalik kesedihan, kan ada cerahnya masa depan.
Sumber Foto : Twitter
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 6 September 2017. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.