GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Inti dan Akar Masalah JKT48 : Part I
Hobbies/JKT48

Inti dan Akar Masalah JKT48 : Part I

ragetegar

Beberapa teman meminta saya menuliskan pandangan – pandangan saya sebagai masukan untuk JKT48 dan fans. Sejujurnya, saya tidak yakin apakah pandangan saya masih relevan dan bermanfaat mengingat saya sudah tidak terlalu intens mengikuti perkembangan mereka.

Yang saya sampaikan di sini hanyalah pandangan dan pendapat pribadi dengan segala keterbatasannya. Jika ada bagian yang dirasa bermanfaat, silahkan menggunakannya sebagai bahan untuk mengembangkan kontribusi yang lebih baik untuk JKT48. Yang tidak bermanfaat silahkan dikesampingkan.

Mari kita mulai!

Kalau ada satu kata yang dapat menyimpulkan inti dari berbagai masalah yang dihadapi JKT48 dewasa ini, satu kata itu adalah distrust (ketidakpercayaan), atau rendahnya trust level (tingkat kepercayaan) hingga berada pada posisi negatif. Bagaimana JKT48 bisa sampai di sini akan memerlukan tulisan panjang karenanya tidak akan dibahas di sini.

Salah satu ciri distrust pada kasus JKT48 bisa dilihat pada kerapnya statement (pernyataan) dan policy (kebijakan) ditafsirkan secara berbeda oleh fans.  Fans pada dasarnya ‘sudah merasa’ atau ‘curiga’ bahwa ada maksud tersembunyi atau berbeda dari yang disampaikan. Statement “Ini adalah A” akan diterima sebagai “JKT48 mengatakan bahwa itu adalah A, tapi sebenarnya bukan“. Penafsiran yang kemudian muncul : “Itu mungkin sebenarnya A+ (bukan hanya itu), atau A− (bukan seperti itu), atau B, atau C, atau D (bukan itu, tapi ini)“. Singkatnya, ada spekulasi liar mengenai apa sebenarnya A, yang diasumsikan sebagai bukan A.

Yang paling berbahaya dari spekulasi liar semacam ini adalah, lebih kerap daripada tidak, orang berhenti pada kesimpulan – kesimpulan yang tidak valid, cacat logika, dan tidak berdasarkan fakta. Let’s be honest, tidak banyak dari kita yang punya stamina dan perawakan mental yang memadai untuk bergulat dengan begitu banyak spekulasi liar yang beterbangan di sekitar satu isu. Dan biasanya, ketika kehabisan stamina, kita memilih untuk berhenti / settle pada kesimpulan yang kita ‘rasa’ bisa diterima.

Di sinilah masalahnya bermula, karena kesimpulan seharusnya bukan masalah perasaan. Bayangkan jika sebagian besar dari apa yang kita yakini sebagai kebenaran didapat dari proses pengambilan kesimpulan semacam ini. In fact, saya memperkirakan secara kasar 95% dari ‘pengetahuan umum tentang JKT48’ layak dipertanyakan. Akan tetapi marilah, dengan semangat “Mari Move On!”. kita lupakan masa lalu. Masih ada hari esok untuk melakukan kesalahan – kesalahan yang sama. Lalu kenapa karena kita masih muda?! (seriously, sebelum Beginner terjemahannya masih nyenggol)

Kalau trust level positif, maka A akan diterima sebagai A; spekulasi liar yang memakan biaya mental dan emosi yang tinggi tidak perlu ada. Mengutip Stephen M.R. Covey, dalam The SPEED of Trust: The One Thing that Changes Everything : “In a high-trust relationship, you can say the wrong thing, and people will still get your meaning. In a low-trust relationship, you can be very measured, even precise, and they’ll still misinterpret you.”

Salah satu contoh konkrit yang belum lama ini terjadi adalah reaksi fans yang cenderung negatif terhadap tantangan 20 kali full house show “B•E•L•I•E•V•E” Team KIII. Intinya distrust, menjelma dalam bentuk spekulasi liar, nyinyir dan tubir, yang berujung pada sentimen negatif. Hasilnya: keputusan untuk memberikan 20x show tersebut gratis. Selalu ada biaya ekstra ketika trust level rendah. Saya yakin kalau trust level tinggi, fans tidak perlu suudzon dan bereaksi negatif. Spekulasi tetap ada – dan memang perlu ada – tetapi dalam proporsi yang sehat.

Pada contoh di atas, saya tidak mencoba mengatakan siapa yang benar atau siapa yang salah : manajemen atau fans. Saya hanya menunjuk pada fakta adanya penafsiran berbeda yang berujung pada sentimen negatif sebagai ciri / gejala distrust. Kondisi distrust inilah yang menjadi masalah bersama. Bukan manajemen, atau fans, atau member tertentu yang harus dilawan, tetapi perilaku yang menggerus trust dan menularkan distrust yang harus diatasi. Maaf jika saya umpamakan, sebagai pengamat luar, fandom JKT48 (fans, manajemen, member) tampak seperti sekumpulan anjing liar yang terjerat dalam belitan satu jaring. Alih – alih mencoba menggigit jaringnya demi membebaskan diri, mereka malah saling gigit.

Beberapa hari terakhir ini ada dua peristiwa historis di JKT48: pengunduran diri Vienny dari jabatannya sebagai kapten team K3, dan keputusan manajemen untuk mendemosi yang bersangkutan menjadi trainee. AKB48 pernah mengalami ini, tetapi terpaut tiga tahun, dan dengan member yang berbeda (Sayaka, 2010 dan Miichan, 2013). Tindakan ini menunjukkan keseriusan JKT48  untuk membangun trust. “Apapun faktanya“.

Tetapi trust selalu berjalan dua arah. Karenanya membangun trust juga memerlukan partisipasi dari fans, bukan cuma manajemen dan member. Fans juga harus membuktikan bahwa mereka trustworthy. Tindakan serius selayaknya ditanggapi serius. Bukan hanya disikapi, apalagi cuma dengan wacana murahan 140 char/post (itu alasan kenapa saya lebih suka nulis artikel panjang daripada ngetweet).

Mengutip kata – kata Nadse: “Membangun kepercayaan itu sangatlah sulit, tetapi menghancurkannya sangatlah mudah“. Saya kira sudah layak dan sepantasnya jika mereka yang kata – kata dan perilakunya menggerus trust yang dicoba dibangun dengan biaya mahal ditindak tegas atau kalau perlu disingkirkan. Ini berlaku untuk manajemen, member, dan fans. Ini saat kritis buat JKT48. Gawat darurat. Diperlukan sejumlah tindakan luar biasa jika JKT48 mau tetap bertahan hidup. Tapi kalau memang sudah tidak niat, ya sudahlah. Umumkan saja. Beri kami kesempatan untuk berkabung.

Saya sadar tulisan ini akan sangat mungkin memancing keributan. Sejujurnya, saya sempat menunda mem-post tulisan ini cukup lama, menimbang – nimbang apakah ada gunanya. Dibanding segelintir orang yang meminta saya menuliskan pandangan – pandangan saya, jauh lebih banyak mereka yang saya mintai pendapat menyarankan tidak usah.

Tapi saya memulai tulisan ini dengan trust. Saya percaya, JKT48 masih bisa diselamatkan. Melalui tulisan ini, dan tulisan – tulisan selanjutnya, saya ulurkan tangan saya dengan resiko digigit. Let’s see how far we can trust each other.

The best time to plant a tree is twenty years ago. The second best time is today.”
― Stephen M.R. Covey, The SPEED of Trust: The One Thing that Changes Everything

sebagai bahan bacaan dari sumber kutipan:  quotes  summary

Part II

Sumber Foto : Google

Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 13 Oktober 2017. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...