GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
JKT48 Circus dan Penghargaan untuk Kota Paling Istimewa
Hobbies/JKT48

JKT48 Circus dan Penghargaan untuk Kota Paling Istimewa

ragetegar

Tim K3 JKT48 datang ke Yogyakarta (08/07) ketika suhu kotanya bisa turun hingga 18 derajat celsius di waktu malam. Banyak yang menghubungkan dinginnya udara akhir-akhir ini dengan fenomena aphelion; fenomena  orbital di mana bumi sedang berada dalam titik terjauh dari matahari.

Fenomena tersebut memang telah terbukti hoaks. Secara meteorologi, karena sebenarnya penyebab suhu dingin ini adalah bergeraknya angin dingin dari Australia yang sedang bertekanan udara tinggi, ke Indonesia yang bertekanan udara rendah. Menariknya, fenomena aphelion ini juga dibuktikan hoaks, oleh datangnya Tim K3 yang mendaku diri mereka sebagai laskar matahari.

Angin dingin tersebut lah yang saya rasakan ketika sedang duduk-duduk di PKKH UGM, ruang fungsional berbentuk persegi yang cukup luas. Lengkap dengan panggung permanen yang menjadi lokasi dihelatnya JKT48 Circus Tim K3. Datang dalam keadaan tubuh yang kurang fit hasil begadang menyaksikan laga Rusia-Kroasia di Piala Dunia 2018. Ruang PKKH yang berbentuk semi indoor menyerupai pendopo tanpa tembok-tembok di tiap sisinya, sukses membuat tulang-tulang saya kian disusupi angin dingin.

Rangkaian konser mini JKT48 Circus di Yogya dibuka dengan penampilan JKT48 Acoustic. Karena dingin, saya sebenarnya malas untuk berdiri lagi untuk merapat menuju panggung. Namun ketika penonton yang lain secara antusias langsung berdiri dan merapat, mau tidak mau saya mengikuti mereka.

Membawakan tiga lagu secara berturut-turut; Baby Baby Baby, Shake it Off, dan Aitakatta. Pandangan saya beralih dari rapinya permainan gitar Nadila dan Aurel, ke maksimalnya suara Sisca dan Rona. Hingga ke penonton yang sepertinya masih berusia 12 tahun, kewalahan untuk ikut menyaksikan karena rendahnya panggung dan orang-orang tinggi yang berdiri di depan.

Seperti mendengarkan instruksi di sela-sela penampilan, Nadila tiba-tiba mengajak penonton yang berada di barisan depan untuk duduk lesehan. Ia merasa jika penonton di barisan belakang tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyaksikan penampilan mereka. Jadi sementara penonton yang di depan duduk, penonton yang di barisan paling belakang dipersilakan untuk tetap berdiri sehingga keduanya bisa sama-sama menikmati.

Posisi tersebut terus terjadi bahkan ketika overture dimulai. Saya yang masih gagap dengan keadaan tersebut sempat berpikir untuk berdiri dan pindah ke sisi samping kanan dekat layar. Namun niat tersebut harus saya urungkan karena sejenak saya berpikir mungkin ini akan menjadi pengalaman menonton konser JKT48 yang tidak bisa saya dapatkan di Jakarta.

Intro cepat Saikou Kayo menghentak membuka penampilan Tim K3 dengan Yona sebagai centernya. Lagunya yang chant-able dan tarian tim K3 yang enerjik sukses membuat suasana seketika bergemuruh. Tidak lupa mereka mengubah beberapa bait lagunya ke dalam bahasa Jawa. Rasanya tepat menjadikan Saikou Kayo sebagai lagu tema JKT48 Circus tahun ini. Aransemennya yang enerjik dan menyenangkan mampu melecut fans untuk langsung bersemangat meski mereka menunggu hampir sejam lebih dari sesi terakhir handshake hingga konser.

Lagu selanjutnya Saka Agari dibuka dengan monolog khas oleh Shani, anggota JKT48 asli Yogya yang terlihat nyaman mempraktikkan bahasa Jawa-nya di atas panggung. Lagu ini terasa spesial bagi masyarakat Yogya karena menjadi tanda perkenalan dan pembuka untuk dua lagu berikutnya yang semuanya diambil dari setlist terbaru Tim K3, “Saka Agari”.

Formasi berhenti ketika Gracia yang baru saja didapuk menjadi global center Tim K3 berdiri di posisi nol. Hening berganti suara gemuruh fans yang langsung meneriakkan MIX seketika intro Everyday Kachuusa diputar. Saya yang belum pernah sekalipun mendengar langsung Everyday Kachuusa dibawakan terkesiap dan sekejap ikut terlibat dalam gemuruh MIX yang menggaung di PKKH. Pada momen itu, saya tahu saya tidak bisa melepaskan pandangan dari Gracia yang menari dengan lincah dan senyum tetap di wajah. Dia memancarkan aura center-nya pada hari itu.

Sesi pertama dari setlist JKT48 Circus Yogya selesai dan member satu-persatu mulai memperkenalkan diri. Beberapa menggunakan bahasa Jawa yang terdengar wagu tapi luvchu. Jarak antar penonton yang begitu rapat membuat saya bolak-balik mengganti posisi duduk untuk menghilangkan pegal yang mulai menyerang betis. Sepanjang sesi pertama, duduk lesehan sembari menonton konser JKT48 adalah pengalaman baru yang menyenangkan bagi saya.

Sesi kedua unitsong dibuka dengan berjalan masuknya empat orang; Beby, Anin, Acha, dan Natalia. Meski intro belum diputar dan lampu panggung belum menyala, isshou putih-putih yang penuh dengan nuansa b-boy. Mengisyaratkan jika lagu berikutnya adalah End Roll. Benar saja, gerakan luwes namun tetap bertenaga menjadi pembuka sesi unitsong dalam gelaran JKT48 Circus di Yogyakarta. Dan apa yang bisa saya komentari, kesemuanya terkhusus Acha membawakannya dengan brilian.

Setelah lebih banyak terkesima dan bergoyang mengikuti irama adiktif End Roll, lagu berikutnya adalah saat yang tepat untuk member call dan bernyanyi bersama. Di panggung kini berdiri tiga orang; Gracia, Sisca, dan Desy. Kompatriot generasi tiga ini membawakan lagu spesial Glory Days dari setlist legendaris yang sering dipakai sebagai meme oleh para fans, “Te wo Tsunaginagara”.

Glory Days adalah lagu yang spesial bagi Gracia dan Sisca. Tentu saja karena lagu tersebut sering mereka bawakan ketika masih berseragam Tim T circa 2015-2016. Kini mereka berdua kembali membawakan lagu tersebut di Yogyakarta pada 2018 setelah terakhir membawakan lagu yang sama pada 2016. Tepatnya pada gelaran JKT48 Request Hour, ketika itu Glory Days menduduki peringkat ke-7. Glory Days setelah nya memang dibawakan kembali pada 2017 dalam konser Tim K3 “Jangan Kasih K3ndor”. Namun bukan mereka berdua yang membawakan, melainkan Ayana, Chikarina, dan Rona.

Lagu keenam setelah Glory Days adalah Gomen ne Jewel. Di sini saya menyaksikan penampilan Aurel, Yona, Lidya, dan Nadila. Bagi saya lagunya tidak terlalu membekas di telinga, tapi saya cukup terhibur dengan penampilan Lidya dan Yona. Apalagi ketika Lidya memandang lucu Yona yang sekonyong-konyong kembali ke badan panggung ketika tiga rekannya sedang bersiap melakukan koreo di lidah panggung.

Sesi unitsong yang diperagakan Tim K3 dalam JKT48 Circus bagaikan roller coaster yang membawa emosi saya naik, turun, dan berputar-putar. Setelah lebih dulu terkesima, kemudian semangat bernyanyi. Kini saya kembali dibuat terkesima oleh Akai Pin Heel to Professor yang dibawakan Shani, beserta BD yang juga tidak kalah bersinar. Dominasi lampu panggung berwarna merah bersanding dengan gaun berwarna merah yang dikenakan Shani adalah satu dari sekian alasan mengapa lagu ini selalu menyenangkan untuk disaksikan. Alasan yang lain? Tentu saja karena dia Shani.

Himawari yang dibawakan Viny, Rona, Naomi, dan Rachel menjadi penutup yang manis pada sesi unitsong. Penampilan Viny membawakan Himawari di gelaran JKT48 Circus Yogyakarta makin menandai tidak bisa lepasnya figur Viny dari unitsong ini. Sejak menjadi trainee generasi  dua membawakan setlist “Boku no Taiyou” hingga sekarang, Viny selalu menjadi pilihan untuk membawakan Himawari. Dia juga dipercaya untuk membawakan lagu tersebut di Jepang pada momen kelulusan Haruka di Teater AKB48. Tercatat dia hanya absen dua kali untuk membawakan Himawari di perhelatan konser “Perkenalkan! Nama Kami JKT48” dan “JKT48 2nd Anniversary Concert”.

Meski hanya duduk, toh energi saya tetap terkuras lantaran saya ikut bernyanyi sepanjang lagu. Sesekali melakukan furicopy ketika chorus, mengikuti gerak tangan kanan Viny yang menyerupai lambaian bunga matahari yang tertiup angin. Momen tersebut makin menggugah ketika fans-fans yang lain ikut melambaikan tangan bersama-sama; meski tanpa lautan lightstick, saya tetap merasakan ada kekuatan yang menyatukan kita semua, semua fans, juga para penampil yang ada di atas panggung.

Sesi kedua berakhir, dipisahkan oleh MC dan sedikit games dari para member. Sesi ketiga selanjutnya menjadi showcase Tim K3 yang memamerkan keahlian mereka di bidang tarian. Secara berturut-turut; Tsuyoki Mono Yo, Beginner, dan UZA menampilkan koreografi sulit yang sepertinya hanya bisa dituntaskan dengan baik oleh mereka.

Masih dalam keadaan pasca-UZA, member membentuk shaf dan bersiap-siap untuk pamit, tanda bahwa lagu terakhir siap untuk dinyanyikan. Kembali dimulai dengan monolog yang kini diucapkan Yona, intonasinya terdengar tenang agak sendu, saya tahu bahwa sebentar lagi Sasae akan dimulai.

Melihat Tim K3 membawakan Sasae adalah melihat rangkaian kenangan masing-masing anggotanya selama menjadi member JKT48. Kenangan kadang terasa pahit, kadang juga manis, ada perpisahan juga ada pertemuan. Terasa wajar jika kapan dan di mana pun lagu tersebut dibawakan. Mereka akan selalu menangis seiring dengan munculnya memori-memori tersebut ketika bait demi bait Sasae dinyanyikan.

Tubuh dan hati manusia adalah hal yang paling aneh. Meski saya tidak tahu pasti kesulitan-kesulitan apa yang perempuan ini dapatkan, entah kenapa saya ikut menyanyikan Sasae dengan perasaan terharu. Mata saya berkaca-kaca, nafas saya tercekat, saya seperti merasakan apa yang perempuan-perempuan ini rasakan.

Sasae selesai, ke-16 member kembali ke backstage. Ketika lampu panggung mati dan saya ingin tenggelam dalam pikiran untuk meyakinkan diri jika sesi encore tidak akan bisa lebih baik lagi dari ini, dari bagian belakang penonton langsung terdengar encore call. Saya terkesiap, merasakan lagi antusiasme yang sudah lama tidak saya rasakan, ‘lampu baru saja mati dan kalian langsung mengajak encore?’ saya berpikir dalam hati dan hanya bisa berdecak kagum.

Tiba-tiba dari bagian penonton di pojok kiri, imam encore yang lain juga bersuara, meneriakkan encore call yang berbeda. Beberapa penonton ada yang mengikuti, banyak juga yang lebih memilih diam. Beberapa mendenguskan mulut isyarat meminta diam karena merasa ini bukan saat yang tepat untuk memulai encore.

Setelah diam sejenak, lagi-lagi terdengar encore call, kali ini persis di bagian paling depan, imam tersebut berkali-kali meminta izin untuk encore call. Tapi karena tidak membawa megaphone atau alat sejenis terlebih PKKH adalah ruangan semi-indoor yang cukup luas, penonton yang lain kesulitan untuk mendengar permintaannya.

Hingga break encore selesai dan lagu kembali dibawakan, saya menghitung ada 3-4 imam encore yang meneriakkan encore call berbeda-beda. Dan seringkali keempatnya bersahut-sahutan. Sebagai kota yang jarang didatangi JKT48, kejadian break encore tersebut bagi saya adalah wujud antusiasme yang dilakukan oleh fans-fans lokal. Tentu saja, fans-fans yang datang jauh-jauh dari Jakarta, atau dari kota lain bisa belajar dari antusiasme tersebut untuk membuat fandom di kota mereka kembali bergelora.

Saya paham, setiap fanbase atau sirkel tentu memiliki project masing-masing, dan itu sah-sah saja untuk dilakukan. Soal itu fans lokal mungkin bisa belajar dari fans di Jakarta, orang-orang yang sudah berpengalaman menyelenggarakan ratusan project di dalam teater. Mulai dari seitansai, peringatan 100 show, hingga MVP fans bisa terjadi bersamaan di dalam satu show melibatkan member yang berbeda. Dan semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan berarti.

Yang paling penting adalah berkonsolidasi dan berkomunikasi antar fanbase, merencanakan proyek-proyek bahkan sebelum pertunjukan itu dimulai. Terlebih dengan adanya media sosial, khususnya Twitter, hal-hal tersebut sangat bisa dilakukan.

Setelah break encore, secara berturut-turut lagu ini dibawakan; lagu kebangsaan Tim K3 Korogaru Ishi ni Nare, dilanjutkan dengan To be Continued dari setlist “Saka Agari”, Koisuru Fortune Cookies dengan aransemen dangdut koplo. Dan terakhir adalah lagu paling monumental Heavy Rotation, menutup perhelatan JKT48 Circus Yogyakarta dengan gemuruh MIX dan euforia yang menyenangkan.

Sepanjang konser, praktis tidak ada hal yang mengganjal. Semua orang bersikap toleran, rela duduk untuk memberi  pandangan bagi mereka yang di belakang. Beberapa member mengungkapkan rasa salutnya terhadap fans Yogyakarta yang rapi ketika mengantri, juga tidak membuang sampah sembarangan. Kapten Yona di satu kesempatan juga berseloroh jika mungkin saja Yogyakarta adalah tempat berdirinya Teater JKT48 yang kedua, serta harapan-harapan para member untuk kembali ke kota Yogyakarta adalah sedikit dari banyaknya alasan mengapa JKT48 Circus Yogyakarta ini terbilang sukses.

Perhelatan JKT48 Circus adalah sekelumit kisah tentang bagaimana menggelorakan kembali fandom-fandom JKT48 di luar Jakarta yang pernah merasa dianaktirikan. Tapi perhelatan ini tidak sesederhana itu, bagi fans Jakarta, JKT48 Circus adalah paket pengalaman berbeda dalam menikmati konser; suasana kotanya, komunitasnya, kekhasannya, euforianya, hal-hal ini saya pastikan tidak akan bisa dirasakan di Jakarta.

Khusus untuk kota Yogyakarta , kota yang istimewa sesuai dengan namanya, saya sebagai fans dari Jakarta yang kebetulan sedang merantau ke kota Yogyakarta dengan alasan pendidikan, merasa jika momen ini akan membuat kota Yogyakarta terus diistimewakan, oleh member, para fans, baik lokal Yogya maupun nasional.

Image : Twitter

Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 9 Juli 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...