continue from part 1
2017
Awal tahun, setelah sekian lama, gue pulang. Pulang ke Tanah Air Ibu Pertiwi, miniatur nirwana yang ga tergantikan ini. Gue langsung mulai kerja lagi, mencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Membenturkan kehidupan yang notabene ga beraturan selama beberapa tahun terakhir ini ke deram dan derasnya rutinitas Jakarta yang tak punya belaskasih. Keras, ga gampang. Cuma variety show dari 48 dan 46 Group yang terus kasih gue comfort.
Ga butuh waktu lama, temen gue yang ngenalin gue ke 48 Group langsung ngajak gue untuk “cek yang lokal”. Gue masih inget banget kata-katanya. “Di sini kan ada yang lokal, ngapain liat yang jauh di sana melulu”. Well, I figured why not huh?
Pertanyaan pertama gue sama dia, “Novinta Dhini masi ada ga?”. Gue inget di AKBingo ada episode tentang Wiz Audition, dan salah satu finalis dari JKT48 ada yang namanya Novinta Dhini yang notabene punya suara bagus banget. Gue segatau itu soal JKT48. Temen gue cuma ketawa.
Setelah itu gue research sedikit tentang JKT48, agak ga sreg sama lagu terjemahan mereka karena gue lebih familiar dengan yang versi asli Jepangnya, tapi akhirnya gue ambil kesimpulan kalau mereka ga ada bedanya dan ga kalah dengan kakaknya di Jepang sana. Sekelompok cewek muda yang mengejar mimpi dan mengerahkan segenap daya upaya mereka demi menggapai mimpi-mimpi itu.
Gue kemudian penasaran dengan yang namanya si cantik Jessica Veranda. Fix gue mesti nonton dan dukung dia. Semesta berkata lain, gue dapet nonton Ve di teater Believe J dua kali, abis itu doi graduate. FML.
I’m a life observer. Gue mengamati.
Selama ngidol di Jakarta ini, gue menemukan bahwa fans JKT48 mayoritas diam-diam dan ga mau ketahuan sama temen-temen mereka kalau mereka wota (seriously guys, why?). Ada jg mereka yang tergabung dalam berbagai fanbase dan cukup dikenal (baca: influencer). Ada pula mereka yang sangat setia dan berdedikasi sampai kayanya ga pernah pergi dari FX kecuali ditelepon mamanya buat jadi supir nganterin ke acara keluarga. Passion dan dedikasi mereka panas membara, sepanas kuping gue waktu kanan-kiri-dan belakang gue semua kompak teriak “YONAAA!!” atau “SISIL DAISUKI!!”. I gotta tell you guys, it is fun being here.
Gue setia mengamati. Mungkin ga sesetia mereka yang rela berdiri di belakang kalau pas teater. Ga sanggup gue. Bayanginnya aja males berdiri dua jam lebih nonstop, belum pake joget, terus nunggu kalau ada MVP yang mayoritas hobinya speech panjang-panjang. Gue ada di sini, menyerap dan menikmati semua atmosfir dan pengalaman yang gue selami. Mempelajari hal-hal yang cuma ada di dunia ngidol ini beneran menyenangkan buat gue. Dan gue juga ga nolak sih kalau pas seitansai ada fanbase yang bagi-bagi suvenir kecil-kecilan macam snack, kipas, atau pembatas buku.
Saat ini gue ga punya oshi. Semua member punya daya tarik, kelebihan, dan kekurangannya sendiri-sendiri. Gue dukung mereka semua. Masing-masing dari mereka punya mimpi dan hanya usaha mereka serta dukungan fans yang bisa membuktikan apakah mimpi mereka bisa terwujud atau ga. Kalau kata Oshima Yuko orang kaya gue itu DD, Daredemo Daisuki. But who knows, maybe someday I will settle for one of them?
I’m a life observer. Gue akan terus mengamati.
Twitter and IG: luckyp08
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 21 Agustus 2017. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.