Sashihara Rino adalah anggota AKB48 dan HKT48 yang aktif menantang diri sendiri di media sosial. Pada 2011, Sasshii pernah memperbaharui blognya sebanyak 200 kali dalam 24 jam. Tantangan yang ia sebut dengan “Sashihara Quality” ini mendapatkan 91 juta page views dan 810 ribu komentar saat itu juga. Lalu di tahun yang sama, ia mendapatkan posisi 9 dalam Pemilihan Senbatsu AKB48 ke-3, naik 18 peringkat dari posisi 27 pada 2009 silam.
Belum ada penelitian yang bisa membuktikan kesuksesan Sasshii di ajang Pemilu Senbatsu berbanding lurus dengan tingkat keaktifannya di media sosial. Namun siapa yang menyangka, silogisme tersebut merupakan salah satu hal yang dipercaya oleh fandom Grup 48, termasuk JKT48. Jika Anda merupakan fans yang sering datang ke rapat strategi pemenangan anggota Senbatsu, Anda tentu sering mendengar perkataan, “lebih sering aktif lagi di media sosial”, baik keluar dari mulut anggota JKT48 atau Anda sendiri.
Menggunakan bahasa pemograman Python, saya mengumpulkan data-data kicauan Twitter 16 anggota JKT48 yang beberapa waktu lalu baru saja terpilih sebagai Senbatsu. Mengingat setiap anggota Senbatsu datang dari generasi berbeda, saya memutuskan untuk membatasi waktu penarikan data kicauan; yakni waktu bergulirnya Pemilu Senbatsu Singel Original, 13 September hingga 28 November 2019. Keputusan tersebut diharapkan dapat membuat masing-masing besaran data yang akan ditampilkan menjadi setara.
Dari kicauan 16 anggota tersebut, sebanyak 4.939 kicauan saya olah ke dalam tabel grafik yang menunjukkan jumlah kicauan, retweet, like, reply, jumlah kata dalam kicauan, rerata kicauan perhari, hingga jumlah foto & video yang diunggah. Ragam grafik tersebut akan saya gunakan sebagai argumen untuk menguji ulang pernyataan jika ,“tingkat keaktifan di media sosial berbanding lurus dengan kesukesan anggota JKT48 di Pemilu Senbatsu”.
Mari kita mulai.
Sebagai perbandingan, jumlah followers masing-masing anggota Senbatsu bisa dibilang jomplang. Melalui grafik di atas, kita bisa melihat bagaimana anggota-anggota dari generasi 1-3 memiliki jumlah followers yang cukup besar, misalnya akun Beby yang hingga saat ini (15/12/2019) telah diikuti 563.218 akun. Sedangkan generasi yang paling bungsu yakni generasi 7 menjadi generasi yang memiliki jumlah followers rendah. Akun Twitter Eli misalnya menjadi akun Senbatsu dengan followers paling rendah yakni 24.004 pengikut.
Menjadi anggota JKT48 dengan jumlah followers yang banyak tidak serta-merta membuat jalan menuju kesuksesan Senbatsu terbuka lebar. Kita pernah belajar hal tersebut dari Nabilah generasi 1. Julukan “idola sejuta umat” kenyataannya tidak membuat ia sukses di Senbatsu. Namun dari grafik ini kita juga bisa belajar jika semakin lama seseorang menjadi anggota JKT48 aktif, semakin meningkat secara gradual juga jumlah followers mereka.
Kuda Hitam Bernama Viona Fadrin
Ketika mengamati ragam grafik kicauan anggota Senbatsu, saya banyak menemukan insight yang cukup menarik, salah satunya mengenai Viona Fadrin. Perempuan yang biasa dipanggil Vivi atau Badrun ini kembali melanjutkan tradisi satu-satunya siswi Academy Class A yang masuk ke dalam jajaran Senbatsu, yakni posisi 16. Posisi yang sama pernah diisi Gabryela Marcelina atau Aby pada Pemilu Senbatsu ke-20. Ketika itu Aby merupakan siswi Academy Class A atau trainee dengan total waktu aktif selama tiga tahun.
Vivi sebaliknya bisa dikatakan lebih cemerlang dari pendahulunya. Dia praktis hanya membutuhkan waktu setahun lebih mulai dari debut sebagai siswi Academy Class B pada September 2018, lalu promosi ke Academy Class A, hingga masuk ke jajaran Senbatsu pada November 2019.
Sepak terjangnya bukanlah kebetulan. Jika kita melihat dua grafik di atas; grafik jumlah keseluruhan kicauan dan rerata kicauan anggota Senbatsu perhari , Vivi tidak pernah main-main. Selama periode voting (juga periode pengumpulan data), Vivi telah berkicau sebanyak 454 kali, jauh lebih banyak dari jumlah kicauan posisi pertama yakni Shani yang hanya 392 kali.
Dalam sehari, Vivi rerata berkicau sebanyak 6,1 kali. Mulai dari kicauan biasa, membalas (reply) kicauan, hingga mengutip (quote) kicauan lainnya, rerata kicauan perhari Vivi menjadi terbanyak kedua setelah Gracia (Tim K3, posisi 10) yang rerata kicauannya sebanyak 6,57 kali perhari.
Dua grafik selanjutnya; grafik total kata-kata dan total media (foto & video) di atas makin menegaskan keaktifan Vivi di Twitter. Dalam grafik total kata-kata, saya mencacah setiap kicauan anggota Senbatsu dan menghitungnya kata demi kata. Vivi lagi-lagi menjadi anggota Senbatsu kedua yang paling banyak berkicau dengan raihan 5.663 kata, kalah sedikit dari Beby (Tim K3, posisi 8) yang mengumpulkan 5.867 kata.
Dua anggota di atas kita tahu memang aktif berkicau di Twitter. Beby seringkali berkicau panjang, bahkan dalam bentuk thread mengenai pandangannya terkait kehidupan sehari-hari. Sedangkan Vivi di sisi lain adalah anggota yang terkenal dengan gurauan recehnya di Twitter, ia seringkali juga membalas kicauan orang lain, tidak hanya anggota JKT48 tetapi juga selebtwit-selebtwit.
Baru pada grafik total media (foto & video) yang diunggah, Vivi menempati posisi pertama dengan 105 unggahan, menang sedikit dari Amel (Tim J, posisi 3) yang mengumpulkan 103 unggahan. Mengunggah foto, seringkali swafoto merupakan salah satu fanservice yang dilakukan anggota JKT48. Shani misalnya, melakukan hal tersebut melalui tagar #ShanDay. Sedangkan Vivi di sisi lain banyak mengunggah foto dan video konyol yang mendukung gurauannya di Twitter. Mungkin itu salah satu bentuk fanservice baru yang membuat banyak fans maju untuknya di Pemilu Senbatsu kemarin.
Permisi… pic.twitter.com/3T3lI8NknB
— Viona Fadrin (@F_ViviJKT48) September 15, 2019
https://platform.twitter.com/widgets.js
Dari tingkat keaktifannya di Twitter, Vivi saya kira adalah anggota JKT48 yang ambisius. Kurangnya jam terbang sebagai anggota Academy Class A ia tutup dengan kemampuannya menghibur banyak orang dengan konten-konten lucu di Twitter. Kicauan beserta foto di atas mungkin adalah isyarat paling jelas jika Vivi benar-benar serius maju di Pemilu Senbatsu Singel Original. Setelah sempat menghilang dari peredaran, sehari setelah periode voting dibuka, Vivi berkicau lengkap dengan foto yang membuat para fans ambyar. Kicauan “Permisi…” tidak hanya saya artikan sebagai kicauannya setelah lama tidak terlihat, tetapi jika melihat track record-nya belakangan ini, kata “permisi” itu lebih seperti, “permisi numpang lewat, gua siap masuk senbatsu”.
Shani yang Serius, Shani yang Sempurna
Shani dan kesempurnaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Menyenangkan di atas panggung, anggota dengan top-visual, lalu personanya yang baik dan ramah merupakan sedikit dari banyak alasan kenapa anggota Tim K3 ini sering disebut sempurna. Saya jadi teringat dengan obrolan Mamen di podcast tentang Pemilu Senbatsu Singel Original. Menurut mereka Shani merupakan anggota JKT48 yang disukai semua fans. Fans bisa tidak mengidolakan Shani, tetapi rasanya tidak mungkin fans bisa membenci Shani. Saya sepakat, bagi saya sempurna saja tidak cukup. Agar seseorang bisa menjadi ratu Senbatsu, ia juga harus diterima oleh semua orang.
Temennya Sumini. pic.twitter.com/DKpAmEmK4p
— Shani Indira Natio (@N_ShaniJKT48) November 14, 2019
https://platform.twitter.com/widgets.js
Berkah ‘kesempurnaan’ itu ternyata tidak membuat Shani berpuas. Meski bukan anggota Senbatsu yang paling aktif berkicau di Twitter, ia termasuk jajaran anggota Senbatsu dengan tingkat keaktifan di Twitter yang tinggi. Selama periode voting, Shani telah berkicau sebanyak 392 kali. Rerata kicauannya selama sehari adalah 5,15 kicauan. Dari 392 kicauan, Shani mengumpulkan 3.945 kata dan 23 unggahan foto & video.
Shani juga menjadi anggota Senbatsu yang memiliki kicauan dengan jumlah like terbanyak. Kicauan bertema Sumini di atas lengkap dengan foto yang ia unggah 14 November 2019 silam telah disukai sebanyak 4.539 kali. Dalam grafik kicauan dengan reply terbanyak, Shani menjadi yang paling tinggi kedua dengan 593 balasan, kurang sedikit dari kicauan wisuda sarjana Beby yang mendulang 634 balasan.
Dalam grafik kicauan dengan retweet terbanyak, Shani juga tidak menduduki peringkat pertama. Shani hanya menduduki peringkat kedua dengan kicauan “Temennya Sumini” yang di-retweet 881 kali, kalah dari kicauan Amel di bawah yang telah di-retweet 1.197 kali. Shani mungkin tidak selalu menjadi yang terdepan dalam perolehan reply atau retweet tertinggi, tapi hal tersebut tidak menahannya untuk tetap menjadi yang nomor satu di JKT48. Namun ketika saya mendalami lagi data-data kicauan dari 16 anggota Senbatsu ini, Shani ternyata menjadi yang paling depan perihal total retweet, like, dan reply, serta rerata retweet, like, dan reply.
#IzinkanAku joget entah apa yang merasukimu~ pic.twitter.com/Q2ZtrzsZxu
— Riska Amelia Putri (@R_AmelJKT48) October 2, 2019
https://platform.twitter.com/widgets.js
Dua grafik di atas menunjukkan, 392 kicauan yang diunggah Shani berhasil mengumpulkan total retweet paling tinggi dengan jumlah 43.477 kali. Secara perbandingan, Vivi yang memiliki jumlah kicauan terbanyak kedua yakni 454 kicauan, hanya mengumpulkan total retweet sebanyak 18.349 kali. Secara rata-rata, satu kicauan yang diunggah Shani mampu mendulang setidaknya 110,91 kali retweet, sedangkan Vivi hanya 40,41 kali.
Melalui penelusuran ini, setidaknya kita bisa memahami jika menjadi jawara Senbatsu tidak melulu bergantung dengan tingkat keaktifan di Twitter. Dalam taraf tertentu, aktif di Twitter bisa mendulang popularitas dan meningkatkan awareness seperti apa yang dilakukan Vivi. Namun jika kita melihat Shani, meski jumlah kicauannya kalah tinggi dari yang lain, setiap kicauan Shani memiliki tingkat engagement yang tinggi. Singkatnya, kicauan Shani, dibandingkan mengejar kuantitas, bagi saya lebih mengejar kualitas.
Misteri Feni
Argumen jika kesuksesan Senbatsu tidak melulu bergantung dengan tingkat keaktifan Twitter kian dipertegas oleh apa yang ditampilkan Feni (Team J, posisi 2). Dari data yang saya kumpulkan, Feni yang menduduki posisi 2 hanya memiliki 143 kicauan. Jumlah kicauan tersebut menjadi yang paling rendah kedua sebelum Celine (Tim T, posisi 9) dengan 111 kicauan.
Total konten media yang Feni unggah pun juga tidak banyak. Dari periode pengumpulan data, Feni hanya mengunggah 17 konten media saja. Meskipun Feni termasuk anggota yang jarang berkicau, setiap kicauannya di Twitter memiliki rata-rata engagement yang lumayan tinggi. Rerata like setiap kicauan Feni misalnya, mengumpulkan 485,3 like perkicauan, lebih tinggi dibandingkan Vivi yang mengumpulkan 411,3 like perkicauan.
Feni mungkin bukan tipe anggota yang aktif di Twitter. Namun ada hal lain yang diberikan kepada fans sehingga ia dapat meraih posisi 2 pada Senbatsu JKT48. Saya pernah menonton Feni ketika show Tim J Tadaima Renaichuu, saya pikir performa Feni adalah salah satu yang terbaik di JKT48. Saat itu juga saya jatuh cinta dengan performanya.
Penutup
Reportase di atas seharusnya sudah bisa menjawab pertanyaan besar saya di awal artikel. Jawaban tersebut, tentu bukan dalam bentuk jawaban eksak, iya atau tidak, tetapi lebih menjadi eksplorasi tentang insight-insight yang saya temukan ketika menganalisis data kicauan ke-16 anggota Senbatsu Singel Original JKT48. Jika saya boleh merangkum, keaktifan di Twitter tentu memiliki andil untuk meningkatkan awareness para fans (contoh: Vivi), tetapi di tingkat yang lebih tinggi, faktor x ternyata juga berperan penting di dalam bursa Senbatsu. Pasalnya Feni yang menduduki posisi 2 bukanlah anggota yang paling aktif berkicau di Twitter.
Lagi-lagi, analisis berbasis data ini masih dan akan selalu jauh dari kata sempurna. Memutuskan untuk menjaring data kicauan yang diunggah 13 September-28 November; selama 77 hari dan menghubungkannya dengan bursa Senbatsu tentu bermasalah. Banyak juga anggota JKT48 yang mulai serius dalam bursa Senbatsu bahkan sebelum periode voting dibuka. Batasan data tersebut tentu mempersempit ruang eksplorasi yang seharusnya bisa terjadi. Tidak hanya itu, keterbatasan pengetahuan saya tentang Python membuat data yang beragam ini tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang lebih detail dan dalam. Maka itu, kurang lebihnya mohon maaf dan terima kasih telah membaca reportase panjang ini.
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 21 Desember 2019. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.