GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Menakar Hubungan Fans-Idolanya
Hobbies/JKT48

Menakar Hubungan Fans-Idolanya

ragetegar

Pertemuan saya dengan JKT48 terjadi 2013 silam, dimediasi oleh televisi, dalam bentuk iklan komersial Pocari Sweat “Build the Dream” berdurasi satu menit; saya tidak mengenal siapa perempuan-perempuan tersebut, namun kali pertama saya melihat mereka, ada sebuah rasa kedekatan yang membuat saya percaya jika mereka adalah perempuan biasa yang bisa ditemui dimana saja.

Berbeda dengan grup idola Korea yang sempurna dan cuantiknya pol; JKT48 mengusung konsep idola yang dari segi performa begitu standar, dance-nya lumayan, suaranya lumayan, tampangnya ya juga lumayan. Terus yang menarik dari JKT48? Ya jelas lebih mending idola Korea yang notabene sudah jago menari dan suaranya bagus sebelum mereka nyemplung ke industri hiburan.

Tapi siapa sih, kakak yang hatinya tidak luluh melihat adik-adiknya (baca: anggota JKT48) berusaha keras demi menggapai impiannya? Ada yang ingin menjadi penyanyi terkenal, setiap hari rutin latihan vokal sampai malam, yang ingin handal dalam menari meneruskan latihan koreo sampai larut, bahkan terkadang sampai cedera.

Fans percaya jika JKT48 bisa menjadi besar asal mereka mau berusaha, ini sejalan dengan sikap masyarakat Jepang soal kerja keras karena tentu saja, JKT48 merupakan hiburan waralaba yang diimpor langsung dari sana. Maka untuk mencapai hal tersebut, dukungan fans sangatlah dibutuhkan, ada simbiosis mutualisme yang terjadi didalamnya.

Secara moril, dukungan fans bisa menjadi semangat ditengah ketatnya rivalitas sesama anggota JKT48 dalam menuju puncak karir. (men, ngga semua anggota JKT48 punya kekuatan untuk manggung di teater setiap waktu, offair atau onair, yang tidak kuat pasti tumbang atau sakit-sakitan). Lalu secara materil, dukungan fans dalam bentuk suara pada saat pemilihan Senbatsu adalah modal utama agar idola kita bisa menjadi peringkat satu. Tentu saja nomor satu berarti lebih banyak masyarakat yang mengenal dan jalan menuju kebintangan kian terbuka lebar.

Bagi fans, dukungan hadir tanpa pamrih. “Aku rela kok cuma makan nasi pilus asal bisa melihat Frieska muncul di TV”. Begitu ujar seorang fans yang rela hidup sederhana lantaran uang jajannya digunakan untuk memborong CD singel untuk pemilihan Senbatsu.

Namun, tanpa kita sadari atau tidak, ada hal yang bisa diambil dari sebuah dukungan yang kita lakukan. Aoyagi (1999) menulis jika idola adalah quasi-companion yang dijadikan fans sebagai bentuk terukur untuk tumbuh dan berkembang bersama. Ketika skripsi kamu mandek dan kamu memutuskan menyerah, idola kamu di sisi lain terus berusaha sekeras mungkin untuk menggapai impiannya. Kamu ngga malu sama diri kamu sendiri?

Idola kita mengajarkan arti pentingnya berusaha untuk mencapai sesuatu. Dan itu merupakan hal mengagumkan yang bisa fans dapatkan selama berkecimpung di dalam dunia JKT48. Semua bisa terjadi melalui konsep idola yang diusung JKT48. Idola yang ‘belum sempurna’, yang ‘manusiawi’ sehingga fans menjadikan idola sebagai bagian dari diri dan akrab dengan kehidupan sehari-sehari kita.

“Tumbuh dan berkembang bersama” adalah kata kunci yang membuat industri ini terus bekerja, tidak terlalu terlihat, tetapi juga tidak akan tenggelam. Saya percaya, selama manusia selalu mencari ‘teman’ untuk tumbuh bersama, ketika itu juga JKT48 tidak akan berhenti berkarya.

Twitter: @masihgelap

Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 24 Agustus 2017. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...