“Saya Devi Kinal Putri, dengan ini menyatakan Lulus dari JKT48.”
Sepotong kalimat yang saya dengar di tengah antrian handshake jalur 1 sesi 6 (Cindy Hapsari).
Sedih? Tidak.
Senang? Tidak.
Kaget? Tidak juga.
“Saya Devi Kinal Putri, dengan ini menyatakan Lulus dari JKT48.”
Sepotong kalimat yang saya dengar di tengah antrian handshake jalur 1 sesi 6 (Cindy Hapsari).
Sedih? Tidak.
Senang? Tidak.
Kaget? Tidak juga.
Bagi member JKT48, keputusan untuk lulus atau “grad” bisa terjadi kapan saja. Terutama bagi generasi 1 yang sudah mengenyam pengalaman lebih dari 6 tahun, keputusan grad ini bak bom waktu.
Tidak ada yang salah dalam sebuah keputusan grad. Itu sepenuhnya menjadi hak sang idola dan tidak ada seorang pun yang berhak membatasinya. Toh, yang namanya sebuah perjalanan pasti ada akhirnya. Seorang sahabat saya pernah berkata begini,“gue sih nggak masalah ya, karena pada akhirnya gue (fans) dan dia (idol) akan sama-sama meninggalkan fandom ini suatu saat nanti”. Kalimat tersebut membuat saya semakin sadar, bahwa semua ini pasti akan ada ujungnya.
Perjalanan hidupmu dan idolamu masih akan berlanjut meskipun dirimu pensiun atau idolamu yang pensiun. Karena hidup kita tidak hanya sebatas “apply-nonton-gesrek-pulang-kangen-repeat” tetapi jauh lebih daripada itu. Karir idolamu masih akan berlanjut, dan karirmu sendiri pun (seharusnya) akan terus berlanjut.
Sumber : Twitter
Keputusan untuk grad harus dihormati, karena bagaimanapun, seberat apapun konsekuensi yang akan dihadapi, pasti akan ada hikmah dan manfaatnya. Banyak faktor yang menyebabkan seorang idola memutuskan untuk grad. Mulai dari masalah kesehatan, mengejar mimpi di tempat yang lain, ataupun merasa sudah cukup. Dalam pidatonya di handshake event kemarin(25/03/18), Kinal mengungkapkan bahwa ia sudah merasa cukup sebagai member JKT48, dan kita semua harus menghormati keputusannya.
Berbagai pilihan jenjang karir terbuka luas untuk Kinal. Banyak jalur yang bisa ia tekuni selepasnya dari kegiatan member JKT48. Tetap berkarya di dunia hiburan sebagai seorang selebritis, melanjutkan pendidikan kemudian mengajar, atau merintis bisnis, adalah satu dari beberapa pilihan jamak yang bisa Kinal ambil. Namun, alih-alih demikian, Kinal memilih untuk berkomitmen membantu Melody dan mendukung kinerja JKT48 dari balik layar. Sebuah dedikasi dan bentuk cinta kepada grup yang telah membesarkan namanya. Hal ini mengingatkan saya pada alasan mengapa awalnya saya memutuskan untuk mengidolainya.
Pada saat itu saya sedang duduk di bangku kuliah semester 7, di salah satu universitas negeri di Bandung. Ketika sedang sangat bosan dan jenuh dengan hiburan saya yang itu-itu saja (Iron Maiden dan Megadeth menjadi pemuncak klasemen playlist saya saat itu), seorang teman memperkenalkan saya dengan JKT48. Singkat cerita, saya disuruh memilih oshimen, “ibarat main game, harus pilih karakter dulu,” ungkap teman saya saat itu.
Saya bingung ketika membuka halaman website JKT48 yang memuat daftar member karena diisi dengan foto perempuan-perempuan remaja yang mukanya sekilas sama semua. Saya akhirnya membuat kriteria saya sendiri. “ada yang dari Bandung gak? Yang mana aja?”. Saat itu pilihan akhirnya jatuh pada foto nomor dua di list, Beby Chaesara Anadila.
Saya kemudian mulai menekuni JKT48 dan mencoba untuk menghapal wajah para member (selain Melody-Nabilah yang wajahnya sudah lebih dulu mudah dikenali). Agar tidak pusing, saya memilih untuk terlebih dahulu menghapal mereka-mereka yang dari Bandung.
JKT48 kala itu sering tampil di televisi, bahkan beberapa kali memenangi award , namun saya perhatikan, Beby tidak pernah memberikan kata-kata sambutan, pada saat itu, justru nama yang muncul (selain Melody) adalah Kinal. Saya pun mulai kepoin Kinal. Setelah melihat banyak pendapat orang mengenai dirinya, saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa Kinal sangat sayang terhadap JKT48.
Waktu berlalu, setelah lulus kuliah, saya pindah ke Jakarta untuk bekerja. Alhamdulillah dapat kantor yang jaraknya hanya 5 KM dari FX Sudirman. Setelah menjadi fans near, saya akhirnya bisa melihat langsung bagaimana Kinal (dan Beby) berjuang di JKT48. Saat itu, saya merasakan ada persamaan dengan Kinal, kesamaan nasib.
Kinal sudah lebih dulu mengadu nasib di Ibukota yang jauh dari orang tua. Pada saat remaja putri seusianya kebanyakan menghabiskan waktu dengan bermain, nongkrong, dan kuliah, Kinal menghabiskan waktunya dengan bekerja dan kuliah. Klise memang, tapi itulah kenyataannya.
Saya pun diam-diam menjadi sangat mengaguminya. Bagaimana dia menjalani aktivitasnya dengan semangat (meskipun pasti ada mengeluhnya juga, wajar lah) saat jauh dari orang tua, itu menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi saya. Kalau Kinal yang usinya terpaut 4 tahun lebih muda dari saya saja bisa, kenapa saya tidak?
Kinal, di usianya yang masih belasan, sudah lebih dulu merasakan tanggung jawab sebagai pemimpin. Kala itu, baru ada 1 jabatan kapten, dan ia menjalaninya dengan semangat. Meskipun kita sama-sama tahu, tidak mudah menjadi pemimpin.
Terlepas dari berapapun usiamu, butuh ketahanan mental untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Dan lagi-lagi, kualitas itulah yang saya kagumi darinya, yang terus ia terapkan walaupun masa bakti jabatannya telah usai.
Kinal peduli dan sangat sayang kepada member-member JKT48 yang lain, tidak jarang ia pun harus mengorbankan egonya. Tapi, memang seperti itulah seharusnya seorang pemimpin bertindak. Dan ia telah memahami sekaligus menerapkannya diusia yang masih muda, yang seiring berjalannya waktu terus terasah.
Menjawab pertanyaan saya sendiri di awal tulisan, kenapa saya tidak kaget? Sederhana saja, karena tanda-tandanya sudah jelas. Tak bisa dipungkuri, bukan hanya saya yang menyadari tanda-tanda tersebut. Banyak isu berseliweran di linimasa, baik yang dilontarkan oleh akun manusia maupun bukan, beberapa sahabat pun tidak segan meledek saya saat konser anniversary di Kemayoran dengan kerap kali mencontohkan speech “Saya, Devi Kinal Putri…” dan semacamnya.
Pada handshake event kemarin, potongan speech itu pun menjadi kenyataan. Pada saat perayaan hari ulang tahunnya pun, saya mendapat firasat tidak enak bahwa Kinal akan mengeluarkan kata “eh tunggu dulu..” saat prosesi “seenoo~”. Firasat ini diperkuat dengan situasi tidak enak setelah encore dimana beberapa member terlihat (habis) menangis, Gaby bahkan sempat senggukan. Tapi, firasat buruk saya tidak terbukti. Walaupun, semua event JKT48 setelah perayaan itu membuat saya deg-degan, ibarat menanti bom waktu.
Sekarang setelah bom waktu itu meledak, muncul bom waktu lain yang lebih kecil, “Nal, kapan last show? Gue mau claim.”
Sumber : Twitter
Oy nal
Diem-diem bae!
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 29 Maret 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.
Login to join the conversation and leave a comment.
Loading comments...
Peta jalan peningkatan kapabilitas AI perlu menyasar akses, kurikulum, etika, dan kebutuhan sektor publik agar tidak berhenti sebagai agenda pelatihan sesaat.
Pembatasan gawai di sekolah perlu dibuat jelas, aman, dan bisa diawasi agar tidak berubah menjadi kebijakan penyitaan tanpa pendidikan literasi digital.
Rencana menjadikan kolam retensi Jambi sebagai pusat ekonomi kreatif perlu tetap menempatkan fungsi pengendalian banjir dan akses publik sebagai prioritas utama.