Disclaimer: this article is purely Author’s judgment and point of view, based on observation(s) with limited amount of information.
Kali ini gw mau bahas tentang apa yang menjadi aset dan senjata terbesar dari grup 48 dan 46 grup, Inovasi. Gw tergelitik untuk bahas ini karena kemarin di ultah teater JKT48 yang ke-5, Melody ada nyinggung soal ini.
AKB berdiri pada akhir tahun 2006, berkonsep “Idol that you can meet” dan memulai gerakan grassroot dengan para membernya turun ke jalanan dan membagikan pamflet untuk promosi. Mereka memelopori banyak ide baru di dunia idol, seperti berdirinya teater eksklusif mereka d Akihabara dan Handshake Event, yang sebenarnya bukan hal baru di Jepang, tetapi sebelumnya lebih lumrah ditemukan di dunia atlet (terutama pegulat) dan para penulis buku ketika peluncuran buku mereka.
Dengan dukungan agency AKS yang powerful dan well-connected sebagai manajemennya, AKB48 meledak di pasar. Audisi generasi demi generasi berikutnya dilakukan hingga akhirnya terkumpullah banyak wanita muda yang semua bersaing dan berjuang demi mimpi mereka. Didukung dengan musik yang dibuat oleh para komposer dan musisi ternama, serta lirik yang bermakna dalam yang ditulis oleh Aki-P sebagai Lead Producer, nama AKB48 semakin mentereng.
Berbagai inovasi pun terus diluncurkan dan mengalir bagai air, seperti konsep Senbatsu Sousenkyo, Janken, AKB48 Kouhaku Uta Gassen, AKB48 Café, teater sementara di Singapura yang lengkap dengan official merchandise store, dan lain sebagainya. Inovasi adalah senjata terbesar mereka.
Belum puas menciptakan pasar baru, AKB48 menginvasi pasar yang sudah ada di industry entertainment Jepang, mereka membuat variety show sendiri, J-dorama sendiri, film sendiri, musical, dan member-membernya meraup banyak tawaran pekerjaan seperti modelling, iklan, dan menjadi host. AKB48 sebagai brand melejit menjadi super terkenal, baik di Jepang dan dunia, taking the whole island-nation by a storm.
Selagi masih di atas, kenapa berhenti?
Inovasi berlanjut. Berdirilah satu per satu sister group dari AKB48 di kota-kota lain di Jepang. SKE48, NMB48, HKT48, dan seterusnya. 48 Group berkibar kuat memimpin dunia idol sampai pada tahap di mana dirasa tidak ada idol group lain yang dapat mengancam nama besar 48 Group.
Maka didirikanlah Official Rival di bawah komando Aki-P, Nogizaka46 (dan sekarang pun membesar dengan adanya Keyakizaka46). Karena tidak ada gunanya menjadi superpower tanpa musuh. Yin tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya Yang. Bagai sayur tanpa garam. Bagai dunia tanpa drama. Hambar dan membosankan. Profit-wise, also a good investment opportunity for those Japanese entertainment conglomerates right?
Belum cukup, didirikanlah international sister group pertama dari AKB48, JKT48 di Jakarta, Indonesia. The hype goes on. Kesuksesan 48 Group melebarkan sayapnya ke dunia internasional ini yang pada akhirnya memprakarsai berdirinya BNK48, MNL48, dan TPE48.
Seiring berjalannya waktu, berbagai inovasi terus diluncurkan oleh 48 dan 46 Group. Sayangnya, hal yang sama tidak dapat dibilang berlaku bagi JKT48. JKT48 memang sempat meledak dan menjadi sangat populer di pasar Indonesia pada masa-masa awal diluncurkan, sebagai sesuatu yang baru, yang asing di pasar industri kreatif dalam negeri. Banyaknya variety show mereka seperti IClub48, JKT48School, dsb, lalu kemunculan para member di acara primetime, dan seringnya mereka diundang di berbagai acara adalah indikator kesuksesan mereka di masa-masa itu.
Akan tetapi, sejak peluncurannya di 2011-2012, sangat sedikit inovasi dan orisinalitas yang dilakukan oleh grup ini. Hampir semua lagu dan setlist teater adalah localised version dari yang sudah ada di Jepang. Sebagian besar kegiatan dan agendanya juga hanyalah melakukan apa yang kakak-kakaknya sudah lakukan di sana, seperti Sousenkyo.
Bahkan Janken dan Request Hour pun terbilang baru akhir-akhir ini dilakukan, itupun bukan hal yang baru atau orisinil. Perbedaan selera pasar dan perilaku konsumen antara Indonesia dan Jepang juga tidak membantu. Daya beli konsumen dan respect terhadap copyright juga tidak berada di level yang sama. Hal yang sangat merugikan manajemen JKT48.
Kurangnya investor (baca: modal) dan ambisi di JKT48 juga menjadi masalah. Tidak adanya inovasi dan sesuatu yang baru mulai terlihat dampaknya. Penjualan Handshake tidak sebaik dulu, teater tidak sepenuh sebelumnya, dan semakin sedikitnya penampilan JKT48 dan member di luar kegiatan teater dan jejepangan adalah contoh indikator menurunnya popularitas JKT48.
Dalam dunia bisnis, kita mengenal yang namanya Product Life Cycle. JKT48 sudah mencapai tahap declining karena mereka tidak mampu mempertahankan fase maturity mereka. Mereka juga gagal berinovasi untuk mendorong growth/expansion. Banyaknya fans (baca: wota) yang akhirnya bosan dan memilih untuk pensiun serta kelulusan para member yang populer pun tidak membantu. Member-member generasi yang lebih baru relatif masih mencari jati diri mereka dan belum memiliki jumlah fans yang mendukung agar JKT48 bisa sustain.
Beberapa hal sudah diupayakan untuk mengatasi ini. Setelah beberapa saat lamanya, Tim J dan Tim T mendapatkan setlist teater baru. Berbagai renovasi fasilitas teater sudah dan akan dilakukan. Sistem ticketing membaik dan semakin straightforward (walau masih terdapat kekurangan). Yang paling baru adalah pada perayaan ultah teater ke-5 yang dirayakan 8 September kemarin, terdapat janji dari setiap para kapten dan timnya (karena bukan janji kaptennya saja – penting untuk diingat), di luar dari janji generik seperti “akan perform lebih baik lagi dsb”. Janji-janji tersebut adalah:
Tim J – Membuat variety show di youtube yang dapat dinikmati fans JKT48 dan masyarakat umum.
Tim K3 – Menjadi tim dengan performance terbaik di Indonesia, mencapai target 20 kali SO teater untuk Believe K3 demi mendapatkan setlist baru.
Tim T – Akan melakukan performance semua setlist yang ada di JKT48.
Selain janji para tim, juga ada program promosi terbaru JKT48, apabila mengajak teman yang belum pernah menonton teater, maka teman tersebut bisa masuk gratis, dan kita bisa masuk duluan dan memilih tempat duduk.
Di mata gw, janji-janji ini ga ada yang baru dan berarti. Semuanya cuma stop gap dan bersifat short-term, terutama punya tim K3. Dimana sebenernya cuma cara halus manajemen untuk bilang mereka belum mau/bisa kasi setlist baru ke tim K3 karena
1. Mereka mungkin ga ada budget-nya (mahal bro bayar ke AKS buat beli setlist). dan / atau
2. Desperate Measure untuk naikin angka penjualan teater aja.
In any case, gw pribadi penasaran sih sama Variety-nya tim J. Mereka punya Devils Attack sinting yang udah sering diundang ke tv dan punya siaran reguler di radio. Jumlah penonton youtube di Indonesia juga merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. So if they could done this one right, there’s huge potential that could be reap from this.
Sekian dan terima kasih.
Twitter and IG: luckyp08
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 9 September 2017. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.