GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Saya Ajak Pacar Menonton Teater JKT48
Hobbies/JKT48

Saya Ajak Pacar Menonton Teater JKT48

ragetegar

Kalau yang kalian harapkan melalui judul artikel ini adalah hal-hal dramatis seperti, pacar saya menangis karena saya terlibat eyelock dengan member, atau hubungan kami harus kandas setelah teater tersebut usai – maaf, kalian tidak akan menemukan hal tersebut.

Bermodalkan New Friend Campaign, kami berdua berangkat ke fX, sebuah mal yang berada di seberang kompleks GBK Senayan – yang ketika itu kembali ramai karena akan dihelatnya laga sepakbola Indonesia versus Islandia. Presiden Jokowi pun juga diberitakan bakal berada di sana. Namun, ketika perhatian banyak orang tertuju kepada Stadion GBK, kami menuju lantai empat mal fX, lantai tempat teater JKT48 berdiri.

Singkat kata, kami berdua sampai di lobi teater, tempat orang menukarkan tiket masuk. Ketika saya sedang mengantri, pacar saya enggan mengantri bersama. Dia tidak mau dipergoki teman dan kerabatnya ketika mengantri untuk menonton teater. Sumpah, disitu hati saya terenyuh, baru kali ini saya melihat ada orang yang malu menonton teater. Bahkan, mengalahkan malunya orang-orang yang ingin memasuki panti pijat plus-plus.

Stereotip tentang JKT48, ternyata tidak hanya mendominasi para fans saja. Namun orang-orang yang tidak mengidolakan JKT48, juga terkena imbasnya.

Ketika mengantri, dari pintu belakang teater keluar satu member JKT48, sebut saja namanya Okta. Perempuan tinggi tersebut terlihat menuju lift karyawan yang tepat berada di pojok gedung, bersebelahan dengan pintu tempatnya keluar. Saat Okta sedang menunggu lift, beberapa fans melirik ke arahnya, membuat pacar saya ikut penasaran.

“Yang, itu anggota JKT48 juga?”

“Iya, itu namanya Okta.”

“Kok, para fans nggak pada ngerubutin dia?” Ujarnya dengan nada curiga. Takut-takut jika lift yang akan digunakan Okta ternyata jebakan yang dipersiapkan fans untuk menangkap Okta dan mengirimnya ke Mombasa sebagai bagian dari sindikat perdagangan perempuan.

Saya meringis dalam hati. Saya membayangkan imajinasi liar pacar yang telah dibangun sedemikian rupa oleh stereotip yang beredar di media-media – tentang fans yang seketika liar melihat member JKT48, mengejar dan mencabik tubuh mereka, sambil berkata, “woi! Itu kuping sama rambut punya gua! Jangan ada yang ambil!”

“Fans tahu batasan kok,” saya coba meluruskan.

Saya katakan, fans mengetahui aturan dan tidak bersikap berlebihan ketika bertemu member JKT48 di luar acara-acara resmi. Peraturan ketat, dimana member JKT48 tidak diperbolehkan berfoto, atau bersalaman di luar acara yang ditentukan seperti kegiatan bersalaman atau berfoto bersama. Sedikit banyak adalah cara fans dan manajemen untuk menghargai privasi member JKT48 sebagai manusia biasa.

Fans pun sepantauan kami, ternyata juga tidak terbatas kepada kaum Adam, banyak perempuan yang ikut mengantri. Sama seperti kebanyakan laki-laki yang datang, para perempuan tersebut datang dengan kesadaran penuh untuk mendukung idolanya yang telah berlatih keras untu sebuah pertunjukan ini.

Para laki-laki yang datang, ternyata juga tidak sesuai dengan gambaran pacar saya yang menganggap semua fans JKT48 adalah freak (termasuk pacarnya sendiri?). Alih-alih orang gila yang mengantri, hari itu lobi teater dipenuhi pegawai kantoran, anak sekolah dan kuliahan. Beberapa ada yang sibuk dengan gawainya, beberapa ada juga yang ramai berbincang dengan teman-teman lain. Semuanya berjalan seperti biasa.

Pacar saya memang memiliki trauma tentang fans JKT48. Di kampusnya dulu, dia kaget bukan kepalang ketika teman mahasiswanya tiba-tiba melakukan wotagei – jenis tarian menggunakan lightstick yang diputar-putar menggunakan kedua tangan – ketika acara kampusnya memutar lagu JKT48.

Jika wotagei adalah perilaku gila, bagaimana dengan teman-teman saya yang hobinya touring menggunakan motor, selalu mengajak berbicara motornya sebelum melakukan perjalanan, ini kurang gila apa lagi? Tetapi semua hal tersebut menjadi bagian dari antusiasme dan keseruan didalam fandom, dan tidak apa dilakukan selama tidak mengganggu orang lain.

Kami pun masuk dan duduk di sebuah kursi kecil beralas tipis. Pengalaman duduk disana selama dua jam setara dengan melakukan touring dari Jakarta ke Jogja menggunakan motor matic yang joknya telah dipapas, pegal dan tentu akan membuat pantat ledes.

Duduk bersama pacar saya dalam teater JKT48 adalah pengalaman surreal. Saya memiliki teman yang juga seorang fans JKT48, dia selalu berbohong kepada pacarnya ketika ingin menonton teater JKT48.

Pengalaman tersebut membuat saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa teater tidak seperti bioskop? Tempat dimana para kekasih bisa menghabiskan waktunya bersama; mengapa fans juga ikut terjebak dengan anggapan jika menonton teater JKT48 adalah hal memalukan? Sehingga banyak yang menahan diri untuk tidak mengajak kekasih atau kerabat lain; yang terakhir, apakah ada sepasang kekasih yang sama-sama suka dan menonton teater JKT48 bersama-sama secara sadar? Pertanyaan terus terngiang dan pertunjukan pun dimulai.

Dipadu dengan deretan spotlight yang memancarkan cahaya merah-biru secara bergantian, di atas panggung berdiri 16 member JKT48 yang langsung memukau para penonton dengan tarian dan deretan lagu-lagu yang penuh semangat. Saya yakin semua orang yang menonton teater JKT48 akan dibuat kagum oleh apiknya aksi panggung mereka. Pacar saya pun tidak ketinggalan turut berkomentar,

“Anggota JKT48 ternyata aslinya jauh lebih cantik ya,” ujarnya kagum.

“Terus pertunjukannya bagaimana?” Saya tanyakan hal tersebut agar tidak terjebak dengan anggapan jika JKT48 hanya menjual kecantikan.

“Bagus, padahal sudah membawakan tiga lagu berturut-turut dengan tarian yang sangat bersemangat. Mereka kelihatan lelah, tetapi tetap tersenyum. Aku jadi mengingat zaman ekskul tari Saman dulu.”

Melalui tarian, JKT48 menularkan kerja keras dan semangat. Hal tersebut adalah sedikit dari banyaknya nilai positif yang bisa diambil dari mengidolakan JKT48. Namun lebih daripada itu, fandom JKT48; dan fandom secara umum menjadi tempat orang-orang untuk membentuk komunitas alternatif, tempat dimana orang-orang didalamnya bisa menyalurkan bakat, berjaring, bahkan merintis usaha bersama-sama.

JKT48 adalah hobi yang sedikit berbeda, ketika hobi modifikasi motor, atau mendaki gunung melibatkan investasi dalam bentuk benda materil (aksesoris motor, sepatu, peralatan gunung), JKT48 melibatkan investasi emosional, membangun kedekatan, pertemanan, dengan member JKT48, juga sesama fans.

Hobi imateril hingga saat ini mungkin masih terdengar asing bagi orang Indonesia. Sebagaimana hobi memodifikasi motor, bukankah tidak apa menghabiskan uang berjuta-juta rupiah, dengan kesadaran penuh, untuk kesenangan dan kepuasan hati tanpa mengganggu orang lain. Lalu kenapa, hal yang sama tidak bisa berlaku untuk hobi mengidolakan JKT48, fans dianggap korban kapitalisme, freak dan semacamnya.

Melalui artikel ini, saya mendorong fans lain untuk mengajak kerabat terdekatnya untuk menonton teater JKT48. Terlebih sekarang promo New Friend Campaign diperpanjang hingga Bulan Ramadhan nanti. Harapannya, dengan banyaknya orang-orang awam yang menonton teater; tidak hanya bisa menjaring fans baru, namun juga mendapatkan opini-opini segar yang lebih objektif untuk membangun fandom ini lebih baik kedepannya.

Sumber Foto : Google

Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 27 Januari 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...