GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Stop Kekerasan Berkedok Fanatisme!
Hobbies/JKT48

Stop Kekerasan Berkedok Fanatisme!

ragetegar

Andrew Slack tidak pernah membaca novel Harry Potter sebelumnya. Ketika dia diminta gurunya untuk membaca novel tersebut, Andrew merasa ragu. Novel yang ketika itu sudah terbit empat kali dan semuanya memiliki ketebalan serupa batu bata sempat membuat Andrew bergeming. Namun dia tetap membacanya.

Tidak lama, Andrew tenggelam dalam narasi Harry Potter. Cerita tentang seorang anak muda yang berusaha untuk melawan kekuatan jahat, membela hak semua golongan, dan mempertanyakan otoritas bersama kawan-kawannya. Dia begitu tertarik dengan Dumbledore’s Army, julukan yang digunakan Harry Potter dan kawan-kawannya untuk menumpas kekuatan jahat bernama Voldemort. “Kenapa tidak ada Dumbledore’s Army di dunia ini?” pikirnya.

Andrew Slack pun mendirikan The Harry Potter Alliance, organisasi non-profit beranggotakan fans-fans Harry Potter yang fokus membantu permasalahan-permasalahan sosial di berbagai belahan dunia. Salah satu kampanyenya ketika itu adalah meningkatkan kesadaran terhadap genosida di Sudan. Mereka menyebut diri mereka sebagai “Dumbledore’s Army”, namun musuh utama mereka bukanlah Voldemort melainkan isu-isu sosial di muka Bumi.

Andrew dan The Harry Potter Alliance adalah sekelumit kisah tentang bagaimana fanatisme suatu fandom dapat membuat dunia di sekitarnya menjadi lebih baik. Fanatisme adalah energi yang mampu membuat Andrew bergerak, menggalang satu kampanye ke kampanye lain. Fanatisme adalah alasan suporter sepakbola mau berpeluh merencanakan koreo agar klub kesayangannya bisa bertanding dengan lebih semangat. Fanatisme adalah alasan mengapa fans JKT48 rela begadang untuk mendesain poster agar perayaan seitansai oshi-nya bisa lebih meriah.

Mengapa kita, yang mendaku diri sebagai bagian dari suatu fandom, rela menghabiskan waktu, tenaga, dan materi yang tidak sedikit untuk membuat hal-hal tersebut? Karena kita peduli. Kita peduli karena idola, dengan cara yang tidak pernah terbayangkan, mampu memberi kita kekuatan. Dan karena itu kita menjadi fanatik, setidaknya untuk membalas mereka yang telah memberikan kita inspirasi dan semangat.

Bagi saya, fanatisme hadir karena kita merasa peduli.

Kemarin, komunitas fans JKT48 berduka. Salah satu kawan kita, Angel oshi Haringga Sirla harus meregang nyawa di tangan mereka yang menjadikan kekerasan sebagai kata lain dari fanatisme. Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin klub sepakbola yang mengajarkan sportivitas dalam setiap permainannya bisa menghasilkan beberapa suporter yang berperilaku sangat keji dan brutal.

Jika kalian berpikir fanatisme adalah loyalitas dan kesetiaan untuk membela idola kita dengan merendahkan orang lain yang berpikiran beda, bahkan menghilangkan nyawanya, saya tegaskan apa yang kalian lakukan bukan fanatisme, itu fasisme! Fasisme adalah sikap yang menganggap semua orang di luar kelompok lebih rendah, lebih inferior dan menganggap kelompok sendiri lebih superior. Sikap tersebut tentu tidak boleh ada dalam praktik fandom manapun di Indonesia, bahkan di dunia.

Karena saya yakin, diantara semua hal yang kita idolakan, tidak pernah ada yang mengajarkan dan menumbuhkan bibit-bibit fasisme dalam setiap kegiatannya. Sepakbola mengajarkan sportivitas, JKT48 mengajarkan jika usaha keras tidak akan pernah mengkhianati. Tentu terdengar masuk akal jika kita bersikap fanatik terhadap dua hal tersebut. Sudah barang tentu kita akan berusaha untuk mengembangkan dan menularkan nilai-nilai yang idola kita lakukan setiap hari.

Kepergian Haringga adalah pukulan berat; tidak hanya bagi fans JKT48, tetapi juga bagi seluruh komunitas fandom di Indonesia. Peristiwa menyedihkan tersebut menjadi tanda bagaimana masih rentannya  fans serta kelompok-kelompok sosial sejenis dari bahaya kekerasan dan stigma sosial dalam lingkungan masyarakat. Sebagai fans, tidak banyak yang bisa kita lakukan selain meningkatkan kolektivitas, kepedulian dan aktivisme antar sesama anggota komunitas. Tujuannya agar kejadian-kejadian serupa tidak akan terulang lagi.

Selamat jalan kawan Haringga, terima kasih telah berusaha keras menjadi fans yang peduli hingga akhir. Doa saya menyertaimu.

*Obituari ini didedikasikan untuk mengantar kepergian Haringga Sirla, fans JKT48 juga Jak Mania yang meninggal pada laga Persib kontra Persija di Gelora Bandung Lautan Api, 23 September 2018.

Images Source


Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 26 September 2018. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...