GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD • GIG ALERTS • NEW DROPS EVERY FRIDAY • JABODETABEK FIRST • JOIN THE CROWD •
Zara di Keluarga Cemara
Hobbies/JKT48

Zara di Keluarga Cemara

ragetegar

JKT48 sering mendaku diri sebagai sekolah, atau sanggar, tempat dimana anggotanya bisa mengembangkan kemampuan unik mereka sebagai modal berkarir di industri hiburan selepas lulus nanti. Pendakuan tersebut tentu saja, bisa saya amini, atau saya hiraukan saja. Karena kenyataannya, manajemen sampai saat ini masih belum sukses untuk mengakomodir dan mengembangkan kemampuan dan cita-cita para anggotanya, baik aktif maupun yang sudah lulus.

Kemarin saya menonton Keluarga Cemara. Film yang digubah dari novel jadul titular karangan Arswendo Atmowiloto. Selain saya ingin bernostalgia karena film tersebut adalah salah satu serial favorit saya ketika masih kecil, saya juga penasaran dengan akting Zara sebagai Euis, anak tertua dari Abah (Ringgo Agus) dan Emak (Nirina Zubir).

Rasa penasaran saya muncul ketika saya tidak bisa melihat kemampuan akting Zara sebagai Disa di dalam film Dilan 1990. Sependek ingatan saya, screentime dan dialog Disa ketika itu tidak terlalu banyak sehingga saya merasa tidak puas. Tentu saja saya mafhum karena film tersebut merupakan debut Zara di dunia perfilman dan Disa sendiri bukanlah karakter utama.

Kini di Keluarga Cemara, Zara mendapatkan peran yang cukup sentral. Karena ini merupakan akting pertama dia sebagai tokoh sentral, saya sebenarnya tidak memasang ekspektasi yang cukup tinggi. Ternyata saya salah, setelah menonton Keluarga Cemara, saya bisa mengatakan jika Zara memiliki masa depan cerah sebagai aktris di dalam dunia perfilman Indonesia.

Sebelum saya lanjut mengulas, ada baiknya kalian yang belum menonton Keluarga Cemara berhenti membaca artikel ini dan bergegas pergi ke bioskop karena kalian tidak akan menyesal. Dan tentu saja, beberapa yang saya tulis di bawah akan bersifat spoiler, maka baca dengan penuh tanggung jawab.

Faktor paling penting yang membuat saya mengatakan performa Zara begitu baik di dalam film ini adalah ketika saya bisa melihat pengembangan karakter seorang Euis. Tidak signifikan, tetapi dalam aspek yang lebih subtil. Dari awal sampai akhir film, saya selalu ada dalam impresi jika Euis adalah orang yang pendiam.

Di bagian awal film, cerita berputar tentang bagaimana Euis yang hidup mapan dan modern selalu dikecewakan oleh Abah. Seorang kontraktor sukses di Jakarta yang sebagaimana orang sukses ditampilkan di dalam film. Seringkali sibuk dan tidak bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya. Abah berkali-kali mengecewakan Euis dengan tidak menepati janjinya, dan itu membuat hubungan mereka renggang. Tetapi hey! Selama Abah masih rutin memberikan uang jajan dan pulsa bulanan, hidup Euis bisa terus berjalan.

Akibat satu dan lain hal, Abah mesti bangkrut. Semua harta yang Abah miliki disita debt collector terkecuali satu, keluarganya sendiri. Abah bersama keluarga pun harus rela tinggal di bilik kerjanya sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah Aki-nya di pinggiran Bogor.

Plot yang ditampilkan Keluarga Cemara sebenarnya bukan barang baru. Film-film drama keluarga di Hollywood misalnya, beberapa bercerita tentang keluarga yang gagal lalu melakukan pilgrimage, mengungsi , hijrah ke suatu tempat untuk membuat resolusi dari tujuan yang mereka gagal. Jadi dalam film-film tersebut, setiap anggota keluarga membawa konfliknya masing-masing yang harus mereka selesaikan pada akhir cerita.

Keluarga Cemara berbeda karena mampu menawarkan kedekatan bagi penonton Indonesia. Keluarga Cemara tidak menampilkan konflik secara blak-blakan namun melalui perubahan-perubahan subtil yang seringkali tidak kita sadari.

Setelah sampai di rumah Aki di pinggiran Bogor, toh Euis tetap menjadi orang yang pendiam. Dia sama sekali tidak menyuarakan protes ketika keluarganya harus pindah ke pinggiran Bogor. Jauh dari hingar bingar Jakarta yang jika saya lihat, sudah membuat Euis nyaman. Euis diam bukan karena Abah lagi-lagi tidak bisa menepati janjinya. Euis diam karena sebagai anak tertua, ia berusaha memahami dan meringankan beban kedua orang tuanya. Sikap menahan diri dan pengorbanan ini, tentu pernah dialami – atau setidaknya ada di sekitar penonton-penonton Keluarga Cemara, dan ini yang membuat film tersebut menjadi dekat.

Memainkan karakter pendiam bukan berarti tidak membutuhkan kemampuan. Meskipun saya melihat jika Zara tidak memiliki banyak dialog, tetapi saya bisa merasakan bagaimana dia tetap bisa bermain peran melalui gestur atau raut wajah. Hanya dengan dua hal itu pun, saya setidaknya bisa mengetahui bagaimana tertekannya perempuan muda ini. Sebagai anak tertua yang harus bersikap dewasa dengan memahami keadaan orang tuanya, namun juga sebagai anak-anak, dia tetap membutuhkan lingkungannya di Jakarta di mana dia bisa hidup dengan nyaman.

Meskipun demikian, saya masih merasa jika karakter Euis masih ada dalam zona nyaman Zara. Ini merupakan awal yang sangat baik tentu saja. Tetapi mungkin di kesempatan-kesempatan berikutnya, saya ingin melihat Zara dalam karakter yang lebih beragam. Disa di dalam film Dilan 1990 sebenarnya berpotensi akan hal tersebut. Namun karena dialognya tidak terlalu banyak, kita tidak bisa melihat Zara membawakan karakter Disa yang ceria dan nyeleneh, secara maksimal.

Di sekuel berikutnya yakni Dilan 1991, mungkin saja Disa akan mendapatkan porsi dialog yang besar dan menjadi figur penting di dalam cerita. Saya berharap akan hal itu.


Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 19 Januari 2019. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.

Share This Article

Comments

Login to join the conversation and leave a comment.

Loading comments...