Bagai petir di siang bolong. pribahasa tersebut mungkin cocok diberikan kepada Zara oshi. Betapa tidak, belum sempat menari di dalam setlist TwT akibat proses syuting film Dua Garis Biru, kini Zara diberitakan akan bermain film horor yang ditulis Joko Anwar, Ratu Ilmu Hitam. Ketika rasa kangen para fans untuk melihat Zara di teater kian membuncah, Zara melalui wawancara terbarunya di media online memutuskan vakum sementara proses syuting berjalan. Wadaw.
Kata-kata vakum memang bukanlah pertanda yang baik dalam khazanah fandom JKT48. Vakum atau berhenti sementara dari kegiatan karena ada hal yang lebih prioritas sering dianggap sebagai tangga awal menuju… ah sudah lah. Menanggapi peristiwa tersebut tentu komentar fans beragam, ada yang mendukung Zara sepenuh hati mengejar mimpinya sebagai seorang aktris. Ada yang galau lalu berpikir buruk, “yaAllah ilang lagi oshi guaaa” sambil sedikit bernasehat “jangan lupain JKT48 yaa”.
Zara sebagai pemenang pemeran anak terbaik IMA Award
Kamu yang membaca ini tentu ingat bagaimana JKT48 dibangun oleh semboyan yang cukup manis, “tumbuh dan berkembang bersama fans”. Sebagaimana kehidupan, untuk tumbuh dan berkembang tidak bisa dibuktikan hanya dalam satu titik saja, tetapi melalui rangkaian titik yang terus menanjak. Sejak kamu sekolah, kuliah, hingga bekerja, rangkaian titik itu lah yang membuatmu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik lagi. Lalu jika kamu merangkai titik-titik tersebut bersama dengan JKT48, berterima kasih lah karena aku yakin JKT48 ikut berperan penting dalam menjaga titik-titik tersebut tetap terangkai.
Zara kini juga sedang tumbuh dan berkembang. Tiga film box office; Dilan 1990, Keluarga Cemara, Dilan 1991. Lalu ada Dua Garis Biru, juga film yang skenarionya ditulis Joko Anwar, Ratu Ilmu Hitam. Deretan film tersebut bukan hanya merupakan pencapaian terbesar member JKT48 di bidang perfilman, tetapi Zara mampu mendapatkannya di usia yang relatif muda, dan semuanya ia raih di tahun ketiganya di JKT48. Jika aku Zara oshi, mungkin aku sudah terharu melihat perkembangan dan pencapaiannya yang begitu pesat, ketika ruang untuk dia berkembang masih terbuka sangat luas.
Aku pikir kegalauan tentang Zara ini sangat beralasan. Berkaca dari industri hiburan di luar Indonesia, misalnya Jepang atau Korea, stasiun televisi berperan penting untuk membuat roda bisnis idola ini terus bekerja. Di Korea misalnya, hampir setiap stasiun memiliki acara musik, lengkap dengan penghargaannya masing-masing. Acara- acara tersebut menyesuaikan waktu grup-grup idola yang ingin debut atau comeback, biasanya permusim. Hingga sewaktu mereka merilis single, media promosinya sudah tersedia selama beberapa pekan. Mereka pun akan bersaing untuk penghargaan-penghargaan televisi tersebut. Setelah promosi selesai, grup idola ini akan hiatus selama beberapa bulan untuk mempersiapkan comeback berikutnya.
zara dalam film Dua Garis Biru
Di Jepang juga demikian. Dalam konteks AKB48, para anggota senbatsu diberi kesempatan lebih untuk memperkenalkan diri mereka. Mulai main drama, film, lagu-lagu yang diputar di radio hingga manggung di stasiun televisi, dan variety show. Itu semua merupakan sistem promosi yang berkesinambungan. Sedangkan di Indonesia, stasiun televisi kini bisa dipastikan sudah tidak lagi menganggap acara musik sebagai prioritas. Kedoknya memang acara musik namun lebih banyak komedi dan gimmick saja. Akibat hal tersebut, fans JKT48 hanya bisa menggantungkan dirinya di dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan JKT48 saja seperti Handshake Festival dan Teater, karena fans tidak menemukan tempat lagi selain Teater di mana JKT48 bisa tampil, tumbuh dan berkembang juga di sana.
Aku jadi teringat salah satu dokumenter AKB48. Di awal cerita, anggota-anggotanya diwawancarai di tempat yang berbeda, lalu mereka masing-masing mengungkapkan cita-citanya. Ada yang ingin menjadi aktris, penyanyi, aktris suara, dan sebagainya. Tidak ada yang mengatakan ingin terus menari di teater sebagai anggota AKB48. Ini juga kekhawatiran yang pernah diungkapkan Takamina. Dia khawatir ketika AKB48 makin populer, trainee-trainee yang masuk adalah mereka yang memang bercita-cita jadi anggota AKB48. Padahal AKB48 bukan tempat pemberhentian terakhir, AKB48 hanyalah batu pijakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Begitu juga JKT48.
Figur Teater yang terlalu dominan, lalu ruwetnya industri hiburan Indonesia membuat banyak fans khawatir ketika mengetahui idolanya akan berkarir di luar JKT48. Padahal ketika kita mengetahui bahwa JKT48 adalah tempat di mana para perempuan-perempuan muda ini mengasah bakatnya. Bukankah perjuangan fans yang sebenarnya baru dimulai ketika idola yang kita dukung memutuskan lulus dari JKT48? Karena ketika itu, ketika mereka mempertaruhkan segalanya dan keluar dari zona nyaman untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Kita yang seharusnya mendukung mereka paling depan karena kita paham perjuangan mereka sedari nol.
Jadi apa pun yang terjadi, masih pada mau dukung Zara kan?
Catatan arsip: artikel ini pertama kali diterbitkan di Mamen48 pada 28 Maret 2019. Ejaan dan konteks waktu mengikuti penerbitan aslinya.